Dari Air Cucian Beras Hingga Maggot, Jurus Baru Lampung Kejar Kemandirian Pupuk

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari Air Cucian Beras Hingga Maggot, Jurus Baru Lampung Kejar Kemandirian Pupuk

Kompastuntas.com—Teluk Betung, program Pupuk Hayati Cair (PHC) yang digagas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mulai menghadapi persoalan klasik di lapangan bahan baku. Air kelapa yang selama ini dipakai sebagai unsur fermentasi sulit diperoleh dalam jumlah besar. Di sejumlah sentra pertanian, petani mengaku pasokan tak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan produksi pupuk hayati.

Pemerintah Provinsi Lampung tidak menunggu persoalan itu berlarut. Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Lampung segera mencari formulasi baru yang lebih realistis bagi petani.

Kepala Dinas KPTPH Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan pemerintah kini mendorong penggunaan air leri air cucian beras sebagai alternatif pengganti sebagian air kelapa dalam proses pembuatan pupuk hayati cair.

Menurut Elvira, hasil kajian sejumlah penelitian menunjukkan air leri memiliki kandungan organik yang cukup untuk mendukung proses fermentasi. Selain air leri, limbah cair industri tahu juga dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik dan hayati.

Baca Juga :  Siap-siap, Perubahan Iklim Picu Ledakan Populasi Hama Spodoptera frugiperda Di Lampung

“Dalam evaluasi kebutuhan bahan baku 2025, kami melakukan reformulasi dengan mengurangi penggunaan air kelapa dan menggantinya sebagian dengan air leri,” kata Elvira kepada awak media, Ahad, 24 Mei 2026.

Namun ia mengingatkan, kualitas air leri menjadi faktor penting. Air yang digunakan tidak boleh tercampur bahan kimia rumah tangga seperti deterjen atau sabun karena dapat mengganggu proses fermentasi.

Pemprov juga mulai membuka pola kemitraan baru untuk menjamin suplai bahan baku. Salah satunya dengan mendorong kelompok tani bekerja sama dengan dapur MBG serta industri pengolahan kelapa, mulai dari usaha kopra hingga produsen nata de coco.

Program pupuk hayati berbasis bahan alami itu, kata Elvira, akan terus dilanjutkan hingga 2026 dengan sejumlah penyempurnaan teknis berdasarkan hasil evaluasi lapangan.

Di tengah upaya reformulasi tersebut, muncul pula tawaran pengembangan pupuk hayati dari kalangan petani di Lampung Timur.

Koperasi IJP Maju Sejahtera menawarkan pupuk hayati cair berbasis maggot dan tanaman kepada Pemerintah Provinsi Lampung dalam pertemuan dengan gubernur pada Jumat, 22 Mei 2026. Produk itu dikembangkan Kelompok Tani Desa Teluk Dalam, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur.

Baca Juga :  Sejarah Orang-orang Indo Di Kota Magelang

Pupuk tersebut bukan produk baru. Pada 2022, inovasi itu pernah meraih penghargaan nasional dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG). Namun setelah memperoleh penghargaan, pengembangannya disebut berjalan stagnan karena minim dukungan pemerintah.

Akibatnya, para petani hanya memproduksi pupuk itu secara terbatas dan mandiri.

Rahmat Mirzani Djausal menyebut pupuk berbasis maggot tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Pemerintah provinsi, kata dia, membuka peluang kerja sama produksi bersama koperasi dan kelompok tani.

“Pupuk ini sudah terbukti dan pernah juara nasional. Ke depan produksinya akan kita dorong agar dapat dimanfaatkan lebih luas oleh petani Lampung,” ujar Rahmat.

Dua langkah itu reformulasi bahan baku pupuk hayati dan pengembangan pupuk berbasis maggot menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Lampung mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sekaligus memperkuat pertanian organik berbasis sumber daya lokal.

Berita Terkait

Luka Mendalam Beruang Ina: Bayang-Bayang Kandang yang Tak Pernah Hilang Sebuah Kisah Trauma dan Harapan dari Rumania
Peringatan Dini, Populasi Lebah Menurun, Ketahanan Pangan Dunia Terancam
Siap-siap, Perubahan Iklim Picu Ledakan Populasi Hama Spodoptera frugiperda Di Lampung
Mengendalikan Mimpi dengan Teknologi: Inovasi Dormio dari MIT
Margono Tarmudji: Faisol Djausal Siap Maju Jadi Calon Ketum KONI Lampung
Ketika Tukang Gorengan Menggunakan Ilmu Fisika
Germasi Minta Pemkab Way Kanan Jangan Asal Bangun Gedung Kesehatan, Wajib Penuhi Standar Baku
Sejarah Orang-orang Indo Di Kota Magelang
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:47 WIB

Dari Air Cucian Beras Hingga Maggot, Jurus Baru Lampung Kejar Kemandirian Pupuk

Rabu, 14 Mei 2025 - 15:22 WIB

Luka Mendalam Beruang Ina: Bayang-Bayang Kandang yang Tak Pernah Hilang Sebuah Kisah Trauma dan Harapan dari Rumania

Selasa, 6 Mei 2025 - 10:37 WIB

Peringatan Dini, Populasi Lebah Menurun, Ketahanan Pangan Dunia Terancam

Selasa, 6 Mei 2025 - 10:27 WIB

Siap-siap, Perubahan Iklim Picu Ledakan Populasi Hama Spodoptera frugiperda Di Lampung

Minggu, 4 Mei 2025 - 18:49 WIB

Mengendalikan Mimpi dengan Teknologi: Inovasi Dormio dari MIT

Berita Terbaru

Kriminal

GERMASI Desak APH Sikat Mafia Hutan Register 43 B

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:20 WIB

Kriminal

PNS di Metro Tewas Ditembak Usai Cekcok Soal Utang

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:24 WIB

Opini

IJP Lampung Siapkan Majalah Sendiri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:31 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com