Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas
Kompastuntas.com—Tanjung Karang, belakangan ini, nama kampus-kampus besar yang biasanya kita dengar karena prestasi, justru muncul dalam konteks yang agak memalukan. Bukan soal riset, bukan soal capaian akademik, tapi hal yang sebenarnya paling dasar: etika.
Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung cukup membuat banyak orang mengernyit.
Tempat yang kita bayangkan sebagai ruang orang-orang terdidik, ternyata tidak selalu bebas dari persoalan yang kalau dipikir-pikir sederhana: tahu batas atau tidak!.
Di satu sisi, mahasiswa hukum yang kelak bicara soal keadilan, justru terseret dalam percakapan yang merendahkan perempuan. Di sisi lain, ada budaya organisasi yang dianggap biasa saja, padahal ketika dilihat ulang, jelas bermasalah. Ini bukan sekadar soal siapa yang salah. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Dulu, tanpa teori macam-macam, orang sudah paham satu hal sederhana: ada batas dalam bersikap. Tidak semua hal pantas dijadikan candaan. Tidak semua ruang bisa diperlakukan seenaknya.
Sekarang, batas itu terasa makin kabur. Hal-hal yang dulu jelas tidak pantas, pelan-pelan dianggap wajar.
1. Yang seharusnya ditegur, sering dibiarkan.
2. Yang mestinya membuat orang merasa tidak nyaman, justru dianggap lucu.
3. Dan yang agak mengganggu, semua ini terjadi di lingkungan kampus.
Mungkin mudah untuk mengatakan ini ulah oknum. Tapi rasanya terlalu cepat. Kalau sesuatu terjadi dalam ruang bersama misal grup, organisasi, tradisi itu biasanya bukan kejadian sekali dua kali.
Artinya, ada yang terbiasa. Ada yang dibiarkan. Dan di situ letak masalahnya.
Banyak budaya di kampus berjalan begitu saja tanpa pernah benar-benar ditanya: ini masih layak atau tidak? Kadang, solidaritas membuat orang memilih diam. Kadang juga, senioritas membuat yang lain enggan bicara.
Padahal, mestinya kampus justru jadi tempat paling aman untuk saling mengingatkan.
Lalu kita sampai pada pertanyaan yang agak mengganggu: sebenarnya kampus sedang membentuk apa?
Selama ini, ukuran keberhasilan terasa cukup jelas nilai bagus, cepat lulus, punya prestasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi sering kali, hal-hal yang lebih mendasar tidak ikut diperhatikan dengan serius.
Orang dilatih berpikir kritis, tapi tidak selalu dibiasakan menjaga cara bicara. Didorong untuk berani berpendapat, tapi tidak cukup diingatkan soal batas. Akhirnya, kita melihat sesuatu yang agak janggal: pintar, tapi tidak selalu peka.
Kasus seperti ini seharusnya tidak berhenti di sanksi atau klarifikasi. Ada yang perlu dilihat lebih dalam, terutama soal budaya yang selama ini dianggap biasa.
Karena justru dari hal-hal yang dianggap “biasa” itu, masalah sering tumbuh tanpa terasa.
Kampus mungkin tidak kekurangan orang cerdas. Tapi kalau kepekaan dan etika tidak ikut tumbuh, hasilnya akan terasa timpang.
Pada akhirnya, yang keluar dari kampus bukan hanya lulusan, tapi manusia yang nanti hidup di tengah masyarakat.
Dan masyarakat, sering kali, tidak hanya menilai dari seberapa pintar seseorang berbicara tapi dari bagaimana ia menjaga sikap.
Mungkin itu yang perlu diingat kembali, Bahwa pendidikan tidak cukup membuat orang menjadi mampu, Ia juga harus membuat orang tahu batas!. (***)
Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu
Editor : Alex Buay Sako









