Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 19 April 2026 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

 

Kompastuntas.com—Tanjung Karang, belakangan ini, nama kampus-kampus besar yang biasanya kita dengar karena prestasi, justru muncul dalam konteks yang agak memalukan. Bukan soal riset, bukan soal capaian akademik, tapi hal yang sebenarnya paling dasar: etika.

Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung cukup membuat banyak orang mengernyit.

Tempat yang kita bayangkan sebagai ruang orang-orang terdidik, ternyata tidak selalu bebas dari persoalan yang kalau dipikir-pikir sederhana: tahu batas atau tidak!.

Di satu sisi, mahasiswa hukum yang kelak bicara soal keadilan, justru terseret dalam percakapan yang merendahkan perempuan. Di sisi lain, ada budaya organisasi yang dianggap biasa saja, padahal ketika dilihat ulang, jelas bermasalah. Ini bukan sekadar soal siapa yang salah. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Dulu, tanpa teori macam-macam, orang sudah paham satu hal sederhana: ada batas dalam bersikap. Tidak semua hal pantas dijadikan candaan. Tidak semua ruang bisa diperlakukan seenaknya.

Sekarang, batas itu terasa makin kabur. Hal-hal yang dulu jelas tidak pantas, pelan-pelan dianggap wajar.

Baca Juga :  Audit Akademik di STIES Alifa Pringsewu BAN-PT Turunkan Dua Asesor Senior

1. Yang seharusnya ditegur, sering dibiarkan.

2. Yang mestinya membuat orang merasa tidak nyaman, justru dianggap lucu.

3. Dan yang agak mengganggu, semua ini terjadi di lingkungan kampus.

Mungkin mudah untuk mengatakan ini ulah oknum. Tapi rasanya terlalu cepat. Kalau sesuatu terjadi dalam ruang bersama misal grup, organisasi, tradisi itu biasanya bukan kejadian sekali dua kali.

Artinya, ada yang terbiasa. Ada yang dibiarkan. Dan di situ letak masalahnya.

Banyak budaya di kampus berjalan begitu saja tanpa pernah benar-benar ditanya: ini masih layak atau tidak? Kadang, solidaritas membuat orang memilih diam. Kadang juga, senioritas membuat yang lain enggan bicara.

Padahal, mestinya kampus justru jadi tempat paling aman untuk saling mengingatkan.

Lalu kita sampai pada pertanyaan yang agak mengganggu: sebenarnya kampus sedang membentuk apa?

Selama ini, ukuran keberhasilan terasa cukup jelas nilai bagus, cepat lulus, punya prestasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi sering kali, hal-hal yang lebih mendasar tidak ikut diperhatikan dengan serius.

Orang dilatih berpikir kritis, tapi tidak selalu dibiasakan menjaga cara bicara. Didorong untuk berani berpendapat, tapi tidak cukup diingatkan soal batas. Akhirnya, kita melihat sesuatu yang agak janggal: pintar, tapi tidak selalu peka.

Kasus seperti ini seharusnya tidak berhenti di sanksi atau klarifikasi. Ada yang perlu dilihat lebih dalam, terutama soal budaya yang selama ini dianggap biasa.

Karena justru dari hal-hal yang dianggap “biasa” itu, masalah sering tumbuh tanpa terasa.

Baca Juga :  Sambutan Hanya Formalitas, “Presma Unila Pilih Bersinergi, Siapa yang Mengawasi Kekuasaan?”

Kampus mungkin tidak kekurangan orang cerdas. Tapi kalau kepekaan dan etika tidak ikut tumbuh, hasilnya akan terasa timpang.

Pada akhirnya, yang keluar dari kampus bukan hanya lulusan, tapi manusia yang nanti hidup di tengah masyarakat.

Dan masyarakat, sering kali, tidak hanya menilai dari seberapa pintar seseorang berbicara tapi dari bagaimana ia menjaga sikap.

Mungkin itu yang perlu diingat kembali, Bahwa pendidikan tidak cukup membuat orang menjadi mampu, Ia juga harus membuat orang tahu batas!. (***)

Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT
Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting
Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung
Pilrek Unila 2027–2031: Prof. Warsito Serahkan Berkas, Dr. Budiyono Mendaftar Hari Ini
Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur
Ikhtiar Lampung Timur Memanusiakan Siswa Lewat Sekolah Rakyat
Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 09:28 WIB

Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:33 WIB

Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 04:55 WIB

Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:34 WIB

Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Pilrek Unila 2027–2031: Prof. Warsito Serahkan Berkas, Dr. Budiyono Mendaftar Hari Ini

Berita Terbaru

Pendidikan

Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 09:28 WIB

Kriminal

Tiga Kali Mangkir, Welly Abaikan Panggilan Polda Lampung

Senin, 14 Sep 2026 - 15:13 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com