Sambutan Hanya Formalitas, “Presma Unila Pilih Bersinergi, Siapa yang Mengawasi Kekuasaan?”

Avatar photo

- Penulis

Senin, 6 April 2026 - 10:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sambutan Hanya Formalitas, “Presma Unila Pilih Bersinergi, Siapa yang Mengawasi Kekuasaan?”

 

Kompastuntas.com— Raja Basa, nada sambutan BEM KBM Unila pada Senin, 6 April 2026, menyisakan catatan yang patut dipertanyakan. Alih-alih menghadirkan sikap kritis yang lazim melekat pada tradisi gerakan mahasiswa, Presiden Mahasiswa terpilih, Aditya Putra Bayu, justru menegaskan pilihan untuk tidak mengambil posisi oposisi terhadap kekuasaan.

Dalam pernyataannya, Aditya menyebut bahwa organisasi yang ia pimpin akan mengedepankan sinergi. Kritik menurutnya, baru akan dilontarkan apabila kebijakan dinilai tidak berpihak dan merugikan.

Sekilas, sikap ini terdengar moderat. Namun, di tengah situasi di mana peran mahasiswa kerap diharapkan menjadi penyeimbang kekuasaan, pernyataan tersebut memunculkan kesan kehati-hatian yang berlebihan jika bukan kompromi sejak awal.

Sejarah mencatat, gerakan mahasiswa tidak dibangun dari sikap menunggu. Ia tumbuh dari keberanian menguji, bahkan sejak kebijakan masih dalam tahap wacana.

Baca Juga :  Lima Dosen UIN Raden Intan Tembus Forum Akademik Dunia

Dengan menempatkan kritik sebagai langkah reaktif, bukan preventif, ada risiko bahwa fungsi kontrol sosial justru melemah. Publik pun berhak bertanya siapa yang akan memastikan kebijakan tetap berada di rel kepentingan rakyat jika mahasiswa memilih untuk terlebih dahulu “bersinergi”?

Tentu, sinergi bukanlah kata yang keliru. Namun, tanpa batas yang tegas, ia bisa menjelma menjadi ruang abu-abu yang mengaburkan jarak antara pengawas dan yang diawasi.

Dalam konteks ini, pernyataan Presiden Mahasiswa Unila tersebut bukan sekadar sikap organisasi, melainkan refleksi arah gerakan mahasiswa ke depan apakah tetap menjadi kekuatan kritis, atau perlahan bertransformasi menjadi mitra yang terlalu akomodatif.

Pada titik ini, yang dibutuhkan bukan sekadar janji untuk “mengoreksi jika merugikan,” melainkan keberanian untuk menjaga jarak, menguji setiap kebijakan, dan tetap berdiri sebagai representasi kepentingan publik bukan sekadar bagian dari orkestrasi kekuasaan.(***)

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Habiburokhman: Jabatan Ketua Komisi III DPR Bisa Berakhir, Kader HMI Selamanya
500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?
Selamat, SMA Negeri 1 Kota Bumi Ditunjuk Menjadi Penyelenggara Program SMA Terbuka
Tak Sekadar Ijazah, Ikaperta Unila Gembleng Talenta Muda Hadapi Dunia Kerja
Bandar Lampung — Kabar membanggakan datang dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela).
733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026
Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT
Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:22 WIB

500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:25 WIB

Selamat, SMA Negeri 1 Kota Bumi Ditunjuk Menjadi Penyelenggara Program SMA Terbuka

Senin, 28 September 2026 - 11:27 WIB

Tak Sekadar Ijazah, Ikaperta Unila Gembleng Talenta Muda Hadapi Dunia Kerja

Minggu, 27 September 2026 - 18:56 WIB

Bandar Lampung — Kabar membanggakan datang dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com