PHC Buktikan Hasil: Saatnya Petani Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PHC Buktikan Hasil: Saatnya Petani Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair

Kompastuntas.com, Lampung—Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui program Desaku Maju layak mendapat perhatian serius, terutama dari kalangan petani. Program ini tidak sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan hasil nyata di lapangan—khususnya melalui inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC).

PHC hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Berbahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan kerap langka, PHC menawarkan alternatif yang murah, mudah, dan berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada 2025, program PHC telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Hingga April 2026, sebanyak 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi.
Hasilnya tidak bisa dianggap remeh.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung sebesar 21,72 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan perubahan nyata di lapangan.
Testimoni petani memperkuat data tersebut. Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Lampung Utara, misalnya, mengaku hasil panen padi meningkat dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC. Sementara petani melon di Tanggamus menyebut kualitas buah lebih baik dan hasil panen meningkat signifikan dibandingkan penggunaan pupuk konvensional.
Tak hanya meningkatkan hasil, PHC juga berdampak pada kesehatan tanaman. Daun lebih hijau, batang lebih kuat, dan serangan hama cenderung menurun. Ini menjadi bukti bahwa pendekatan organik bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan jangka panjang bagi pertanian yang berkelanjutan.

Baca Juga :  AJP Laporkan Dugaan Korupsi Dana BOK Puskesmas Kenali ke Inspektorat

Lebih jauh, PHC menjadi bagian dari strategi besar membangun kemandirian desa. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pada 2027 seluruh 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri. Target ini disusun bertahap—dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa di 2026, hingga menjangkau seluruh desa di 2027.

Jika target ini tercapai, dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi biaya dan stabilitas harga. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan pupuk dari luar. Desa memiliki cadangan sendiri—sebuah langkah strategis yang selama ini jarang disentuh kebijakan daerah.

Baca Juga :  Gubernur Mirza : Guru Berkualitas, Kunci Utama SDM Unggul LampungGubernur Mirza : Guru Berkualitas, Kunci Utama SDM Unggul Lampung

Dalam konteks ekonomi, PHC juga membuka ruang baru. Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga produsen input pertanian. Perputaran ekonomi terjadi di desa, memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Pendampingan teknis, konsistensi penggunaan, serta perubahan pola pikir petani menjadi kunci keberhasilan. Peralihan dari pupuk kimia ke organik tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan edukasi berkelanjutan dan bukti nyata—yang kini mulai terlihat.

Penghargaan KWP Award 2026 yang diraih Gubernur Lampung sebagai penggerak ekonomi agrikultur dan ketahanan pangan menjadi legitimasi atas arah kebijakan ini. Namun lebih dari itu, keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana ia mampu bertahan dan berkembang di tingkat petani.

Pada akhirnya, Desaku Maju bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah taruhan besar masa depan pertanian Lampung. PHC telah membuktikan potensinya—tinggal bagaimana petani memanfaatkannya secara maksimal.
Saatnya beralih. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari biaya tinggi menuju efisiensi. Dari keraguan menuju pembuktian.
PHC bukan sekadar pupuk—ini adalah jalan baru bagi petani Lampung untuk maju. (*)

Berita Terkait

Peringati HUT Ke-81 RI, Warga Perumahan Mata Air Residence Gelar Lomba Adzan Bapak-bapak
Sambut HUT ke-81 RI, Bundo Kanduang Lampung Hidupkan Tradisi Bajamba
Ngopi Kerukunan Satukan Pemerintah, Tokoh Agama dan Media Jaga Harmoni Bandar Lampung
Persiapan Konsolidasi 36 Tahun Humanika: 55 Aktivis Lampung Siap Bertolak ke Jakarta
Jejak Babinsa Menjawab Dahaga Warga Kotabumi
Ketua Kwarda Lampung Lantik Rektor UIN Raden Intan Jadi Kamabigus
Keluarga Pengurus PWI Lampung Mengaku Diancam Tetangga, Terpaksa Mengungsi Dini Hari
Truk Muatan Paving Block Terperosok di Raden Intan, Lalu Lintas Bandar Lampung Lumpuh
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 19:01 WIB

Peringati HUT Ke-81 RI, Warga Perumahan Mata Air Residence Gelar Lomba Adzan Bapak-bapak

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:39 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, Bundo Kanduang Lampung Hidupkan Tradisi Bajamba

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Ngopi Kerukunan Satukan Pemerintah, Tokoh Agama dan Media Jaga Harmoni Bandar Lampung

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:52 WIB

Persiapan Konsolidasi 36 Tahun Humanika: 55 Aktivis Lampung Siap Bertolak ke Jakarta

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:54 WIB

Jejak Babinsa Menjawab Dahaga Warga Kotabumi

Berita Terbaru

Militer

Amanat Kemerdekaan: Mengubah Nilai Sejarah Jadi Karya Nyata

Senin, 17 Agu 2026 - 22:34 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com