Alzier Ingatkan Golkar Lampung Tengah, Jangan Jegal Musa Ahmad Jelang Musda
Kompastuntas.com— Bandar Lampung, mantan DPD Partai Golkar Provinsi Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie, menilai penunjukan pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD II Golkar Lampung Tengah berpotensi memicu konflik internal. Langkah tersebut dinilainya sensitif, terutama karena dilakukan menjelang musyawarah daerah (Musda).
Plt Ketua DPD II Golkar Lampung Tengah saat ini dijabat H. Toni Eka Candra, menggantikan Musa Ahmad. Pergantian ini menuai sorotan, salah satunya dari Alzier yang secara terbuka meminta partai memberi ruang kepada Musa Ahmad untuk kembali maju dalam Musda.
“Jangan dijegal. Beri kesempatan Musa Ahmad mencalonkan diri secara fair,” kata Alzier, Sabtu, 24 Januari 2026.
Menurut Alzier, keputusan menunjuk Plt di tengah situasi politik internal yang belum stabil justru berisiko menimbulkan friksi antarkader. Ia mengingatkan, Musda seharusnya menjadi arena konsolidasi, bukan ajang tarik-menarik kepentingan elite.
Alzier menilai Musa Ahmad memiliki rekam jejak elektoral yang sulit diabaikan. Di bawah kepemimpinannya, perolehan suara Partai Golkar di Lampung Tengah pada Pemilu Legislatif 2024 melonjak signifikan. Golkar keluar sebagai pemenang dengan 13 kursi DPRD, naik dari sembilan kursi pada Pemilu 2019.
“Kenaikan kursi itu bukan kebetulan. Itu hasil konsolidasi yang jalan,” ujarnya.
Karena itu, Alzier menyebut aneh bila sosok yang telah terbukti mampu mengantarkan kemenangan justru disisihkan. Ia bahkan mengkritik kecenderungan memaksakan figur baru yang dinilai belum teruji secara organisasi.
“Sudahi memajukan calon yang belum teruji, pelit, dan tidak bisa mengakomodasi kader,” kata Alzier.
Dalam pandangan Alzier, memimpin partai politik, khususnya Golkar, tidak memerlukan rumus rumit. Kuncinya adalah kehadiran dan keterbukaan kepada kader. Ia menyebut konsep lama yang masih relevan: WASPADA dan RMO.
WASPADA, menurut Alzier, berarti Walaupun Sedikit Tetap Ada ketua partai harus selalu mampu memberi bekal atau perhatian kepada kader yang datang. Sementara RMO merujuk pada Rokok, Makan, dan Ongkos sebagai simbol kepedulian dasar terhadap mesin partai di tingkat akar rumput.
“Kalau kader datang malah dimarahi, atau ketuanya menghindar karena RMO kosong, partai bisa ditinggal,” ujarnya.
Ia menilai Musa Ahmad selama ini mampu menjalankan pola kepemimpinan semacam itu. Bukti paling konkret, kata Alzier, adalah kemenangan Golkar di Lampung Tengah pada Pileg 2024.
Hingga kini, DPD Partai Golkar Provinsi Lampung belum memberikan penjelasan terbuka mengenai alasan penunjukan Plt Ketua DPD II Lampung Tengah. Namun, dinamika jelang Musda ini mulai membuka kembali perdebatan lama di tubuh Golkar: antara merit elektoral dan kompromi elite.
Editor : Alex Buay Sako
Sumber Berita: BE 1 Lampung









