Krisis Kemanusiaan Afghanistan Kian Parah, Orang Tua Jual Anak demi Hidup

Avatar photo

- Penulis

Senin, 25 Mei 2026 - 22:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis Kemanusiaan Afghanistan Kian Parah, Orang Tua Jual Anak demi Hidup

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, Krisis kemanusiaan di Afghanistan memasuki fase yang semakin memilukan. Di Provinsi Ghor, wilayah pegunungan di bagian tengah negara itu, kemiskinan ekstrem memaksa sejumlah keluarga menjual anak kandung mereka demi bertahan hidup.

Setiap pagi, ratusan pria berkumpul di alun-alun Kota Chaghcharan berharap mendapat pekerjaan harian. Namun, lapangan kerja nyaris tak tersedia. Sebagian besar pulang tanpa membawa uang, sementara keluarga mereka menunggu di rumah dalam ancaman kelaparan.

“Saya hidup dalam ketakutan anak-anak saya mati kelaparan,” ujar Juma Khan, 45 tahun, seorang buruh harian yang mengaku hanya bekerja tiga hari dalam enam pekan terakhir, seperti dikutip BBC, Senin, 25 Mei 2026.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat situasi Afghanistan kini berada pada titik kritis. Tiga dari empat warga negara itu disebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup. Sedikitnya 4,7 juta orang diperkirakan berada di ambang kelaparan.

Baca Juga :  Ketua Tim Wasev TMMD ke-124, Brigjen TNI Joni Pardede, Tinjau Lokasi di Kodim 0422/Lampung Barat

Krisis memburuk setelah bantuan internasional terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi donor terbesar Afghanistan, memangkas hampir seluruh bantuannya tahun lalu. Sejumlah negara Barat lain, termasuk Inggris, turut mengurangi kontribusi kemanusiaan mereka.

Dalam tekanan ekonomi yang tak tertahankan, sebagian keluarga mengaku terpaksa menjual anak perempuan mereka untuk dinikahkan dini atau dijadikan pekerja rumah tangga. Uang hasil transaksi itu dipakai untuk membeli makanan bagi anggota keluarga lain.

“Aku rela menjual putri-putriku. Jika satu anak perempuan dijual, anak-anak lain bisa makan setidaknya selama empat tahun,” kata Abdul Rashid Azimi sambil memeluk dua anak kembarnya yang masih berusia tujuh tahun.

Warga lain, Saeed Ahmad, mengatakan ia menjual putrinya yang berusia lima tahun kepada kerabat sendiri demi membiayai operasi medis anak tersebut.

“Kalau saya punya uang, saya tidak akan pernah melakukan ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Tim Kesehatan TMMD Ke-124 Kodim 0422/Lampung Barat Kembali Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis

Organisasi kemanusiaan menyebut praktik pernikahan anak meningkat sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Pemerintah Taliban melarang pendidikan bagi anak perempuan serta membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan, mempersempit peluang ekonomi keluarga.

Taliban menilai kondisi saat ini merupakan warisan keruntuhan pemerintahan sebelumnya pasca-penarikan pasukan asing dari Afghanistan. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengatakan pemerintah mewarisi kemiskinan dan pengangguran akibat perang berkepanjangan selama dua dekade.

Meski Taliban mengklaim tengah menjalankan proyek ekonomi dan pembangunan infrastruktur untuk menekan angka kemiskinan, lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan jutaan warga Afghanistan masih membutuhkan bantuan darurat untuk bertahan hidup.

Potret krisis itu juga terlihat di rumah sakit utama Chaghcharan. Ruang perawatan bayi dipenuhi bayi lahir prematur dan mengalami malnutrisi.

Seorang bayi perempuan prematur dilaporkan meninggal hanya beberapa jam setelah dilahirkan. Keluarganya mengatakan sang ibu selama masa kehamilan hanya mampu mengonsumsi roti dan teh karena keterbatasan pangan.

Berita Terkait

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah
Batas Usia ASN Dinilai Jadi Instrumen Regenerasi dan Efektivitas Birokrasi, Tetap Harus Berbasis Sistem Merit
Menko Pangan Siap Sukseskan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung, Pastikan Hadiri Kick-off
Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah
Bencana Mengintai Lampung, Proyek Air Bersih BPBD Diterpa Isu Miring
Pernyataan Ketua Umum AMSI atas Wafatnya Sekjen AMSI Maryadi
Istana Jawab Tuntutan BEM UI, Program Makan Bergizi Gratis Tak Akan Dihentikan
JPU Ajukan Kasasi, Ini Amar Putusan Banding Hakim PT Tanjungkarang Cakra Alam, Aksir dan Ratmoho yang Lepaskan Terdakwa Thio Stepanus Sulistio Kasus Tipikor Tanah Kemenag
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:32 WIB

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:58 WIB

Batas Usia ASN Dinilai Jadi Instrumen Regenerasi dan Efektivitas Birokrasi, Tetap Harus Berbasis Sistem Merit

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:48 WIB

Menko Pangan Siap Sukseskan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung, Pastikan Hadiri Kick-off

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:37 WIB

Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:43 WIB

Bencana Mengintai Lampung, Proyek Air Bersih BPBD Diterpa Isu Miring

Berita Terbaru

Pemerintahan

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Inovasi Pendidikan dari detik.com

Minggu, 30 Agu 2026 - 10:21 WIB

Pemerintahan

Pimpinan DPRD Lampung Siap Kawal Anggaran HPN-Porwanas 2027

Jumat, 28 Agu 2026 - 23:45 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com