Batu Akik, Kopi Dingin, dan Politik yang Tak Pernah Benar-Benar Transparan
Kompastuntas.com— Kota Agung, pada hari terakhir Warta Kopi menurunkan tirainya, Lee Baskoro meninggalkan satu pesan yang terdengar seperti lelucon, tapi terasa sebagai peringatan. “Jangan takut sama hantu,” katanya kepada Adesopan. “Takutlah pada orang yang duduk terlalu rapi, terlalu diam, dan batu akiknya lebih mengilap dari masa depanmu. Biasanya, yang begitu tidak sedang ngopi.”
Di meja barista, cerita lalu berkembang liar, berlapis, dan nyaris tak masuk akal. Tapi begitulah gosip bekerja di kota yang politiknya lebih sering beroperasi di lorong gelap ketimbang ruang rapat. Batu Bacan Petak di jari seorang pria semi botak menjadi pusat imajinasi kolektif.
“Liyak pai, De,” bisik Baskoro suatu sore. “Kalau dia mengelus batunya sambil menunjuk anggota Dewan, itu bukan hobi. Itu kode.”
Rumor paling berani menyebut batu itu bukan sekadar perhiasan. Konon, ada teknologi perekam tertanam rapi di balik ikatan peraknya—cerita yang terdengar konyol, tapi anehnya dipercaya. Setiap gerakan tangan dibaca sebagai sandi, setiap arah jari dianggap sinyal. Di negeri yang terlalu sering menyaksikan operasi senyap penegakan hukum, imajinasi semacam ini terasa masuk akal.
Pria itu sendiri tak banyak membantu meredam cerita. Ia memesan kopi, tapi nyaris tak pernah menghabiskannya. Cangkir dibiarkan dingin, sementara matanya terus mengawasi pintu. Begitu seorang yang “punya urusan”—konsultan proyek, orang kepercayaan, atau figur yang kerap muncul di lembar anggaran—melangkah masuk, jarinya mengetuk meja kayu tiga kali.
Di Warta Kopi, ketukan itu punya istilah tak resmi: target locked.
Apakah semua ini nyata? Bisa jadi tidak. Bisa jadi ini hanya mitologi kedai produk sampingan dari kopi pahit dan politik lokal yang terlalu lama tertutup. Namun gosip semacam ini tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh subur di lingkungan yang transparansinya setengah hati, akuntabilitasnya selektif, dan penjelasan resminya sering datang terlambat.
Warta Kopi mungkin tutup karena banyak hal. Tapi cerita-cerita yang beredar di dalamnya memberi satu pelajaran: di kota ini, ketakutan publik bukan pada hantu, melainkan pada manusia yang terlalu tenang di tengah sistem yang gaduh. Dan pada kekuasaan yang bekerja dalam diam, sambil membiarkan kopinya mendingin.
Penulis : Udo Su
Editor : Hengki Utama









