Batu Akik, Kopi Dingin, dan Politik yang Tak Pernah Benar-Benar Transparan

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Screenshot

Screenshot

Batu Akik, Kopi Dingin, dan Politik yang Tak Pernah Benar-Benar Transparan

Kompastuntas.com— Kota Agung, pada hari terakhir Warta Kopi menurunkan tirainya, Lee Baskoro meninggalkan satu pesan yang terdengar seperti lelucon, tapi terasa sebagai peringatan. “Jangan takut sama hantu,” katanya kepada Adesopan. “Takutlah pada orang yang duduk terlalu rapi, terlalu diam, dan batu akiknya lebih mengilap dari masa depanmu. Biasanya, yang begitu tidak sedang ngopi.”

Di meja barista, cerita lalu berkembang liar, berlapis, dan nyaris tak masuk akal. Tapi begitulah gosip bekerja di kota yang politiknya lebih sering beroperasi di lorong gelap ketimbang ruang rapat. Batu Bacan Petak di jari seorang pria semi botak menjadi pusat imajinasi kolektif.
“Liyak pai, De,” bisik Baskoro suatu sore. “Kalau dia mengelus batunya sambil menunjuk anggota Dewan, itu bukan hobi. Itu kode.”

Rumor paling berani menyebut batu itu bukan sekadar perhiasan. Konon, ada teknologi perekam tertanam rapi di balik ikatan peraknya—cerita yang terdengar konyol, tapi anehnya dipercaya. Setiap gerakan tangan dibaca sebagai sandi, setiap arah jari dianggap sinyal. Di negeri yang terlalu sering menyaksikan operasi senyap penegakan hukum, imajinasi semacam ini terasa masuk akal.

Pria itu sendiri tak banyak membantu meredam cerita. Ia memesan kopi, tapi nyaris tak pernah menghabiskannya. Cangkir dibiarkan dingin, sementara matanya terus mengawasi pintu. Begitu seorang yang “punya urusan”—konsultan proyek, orang kepercayaan, atau figur yang kerap muncul di lembar anggaran—melangkah masuk, jarinya mengetuk meja kayu tiga kali.

Baca Juga :  Menghitung Ulang "Syahwat" Efisiensi di Era Pertamax Rp16.250

Di Warta Kopi, ketukan itu punya istilah tak resmi: target locked.

Apakah semua ini nyata? Bisa jadi tidak. Bisa jadi ini hanya mitologi kedai produk sampingan dari kopi pahit dan politik lokal yang terlalu lama tertutup. Namun gosip semacam ini tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh subur di lingkungan yang transparansinya setengah hati, akuntabilitasnya selektif, dan penjelasan resminya sering datang terlambat.

Baca Juga :  Menatap Lampung dari Menara KAHMI

Warta Kopi mungkin tutup karena banyak hal. Tapi cerita-cerita yang beredar di dalamnya memberi satu pelajaran: di kota ini, ketakutan publik bukan pada hantu, melainkan pada manusia yang terlalu tenang di tengah sistem yang gaduh. Dan pada kekuasaan yang bekerja dalam diam, sambil membiarkan kopinya mendingin.

Penulis : Udo Su

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara
Abdul Wachid: Aturan Batas Usia Promosi Jabatan ASN Perlu Fleksibel dan Selaras dengan Sistem Merit
Menyuarakan Keadilan di Tengah Praktik “Under Voicing”
Opini Jamal, Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia
Manuver Kuno Mengincar Oegroseno
Pakar Hukum Pidana Nilai Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Calon Belum Diperiksa
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:03 WIB

Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ

Rabu, 29 Juli 2026 - 18:55 WIB

Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:10 WIB

Abdul Wachid: Aturan Batas Usia Promosi Jabatan ASN Perlu Fleksibel dan Selaras dengan Sistem Merit

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:38 WIB

Menyuarakan Keadilan di Tengah Praktik “Under Voicing”

Berita Terbaru

Opini

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:53 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com