Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

Avatar photo

- Penulis

Senin, 20 Oktober 2025 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

 

Kompastuntas.com— Tanjung Karang, Menolak menara gading, menyalakan api kesadaran di tengah rakyat. Di tengah derasnya arus pragmatisme kampus dan komersialisasi pendidikan, Budiyono berdiri di jalur yang berbeda.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung itu menolak menjadikan ilmu sebagai komoditas akademik. Ia memilih menautkan pikirannya dengan denyut rakyat menghidupkan teori dalam praksis sosial.

Bagi Budiyono, ruang kuliah bukanlah tempat pengulangan teori, melainkan arena perlawanan terhadap formalisme pengetahuan. Ia tak sekadar mengajar hukum, tetapi membongkar bagaimana hukum bekerja sebagai alat kekuasaan. Mahasiswa diajak membaca pasal-pasal dengan mata kritis, bukan sekadar menghafal.

“Hukum tak lahir di atas kertas,” ujarnya suatu sore di ruang diskusi fakultas. “Ia tumbuh dari pertarungan kepentingan.”

Kalimat itu menggambarkan dengan tepat wataknya akademisi yang menolak diam di menara gading. Ia lebih nyaman berada di lapangan, di tengah masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem yang katanya adil tapi sering pincang.

Di Antara Rakyat dan Kekuasaan

Dalam kacamata Antonio Gramsci, setiap kelas sosial memerlukan intelektualnya sendiri mereka yang berpikir sekaligus berjuang. Gramsci menyebutnya intelektual organik: orang yang menautkan pengetahuan dengan perjuangan sosial.

Budiyono menjelma menjadi sosok itu di Lampung. Ia tak berhenti pada kritik verbal. Ia turun ke lapangan, mendampingi warga yang digusur, buruh yang diabaikan, dan mahasiswa yang menolak ketimpangan.

Ia tidak datang sebagai pengamat netral, tapi bagian dari perjuangan itu sendiri.

“Netralitas itu mitos,” katanya. “Pengetahuan selalu berpihak. Dan saya tahu di mana saya berdiri.”

Baca Juga :  Aqsa Working Group (AWG) Kirim 3 Relawan ke Thailand untuk Aksi Global Sumud Flotilla

Sikapnya membuatnya berbeda di tengah kultur akademik yang kian pragmatis. Ketika banyak dosen sibuk mengejar publikasi jurnal dan akreditasi kampus, Budiyono menambatkan reputasinya pada kerja sosial yang konkret. Ia tak mencari nama. Ia mencari makna.

Melawan Pasar Pengetahuan

Dalam banyak forum, Budiyono dikenal kritis terhadap neoliberalisasi pendidikan tinggi. Ia menolak logika kampus sebagai korporasi pengetahuan, tempat mahasiswa diperlakukan layaknya konsumen.

“Universitas seharusnya ruang publik kritis, bukan pabrik ijazah,” ujarnya lantang dalam satu forum diskusi.

Pandangan itu sejalan dengan gagasan critical pedagogy Paulo Freire pendidikan sebagai praksis kebebasan. Budiyono menerjemahkan ide itu dalam konteks lokal menjadikan pendidikan hukum sebagai alat emansipasi, bukan legitimasi kekuasaan.

Bagi dia, Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan daftar kewajiban administratif, melainkan jalan perlawanan terhadap hegemoni pengetahuan. Penelitian dan pengabdian bukan untuk laporan akreditasi, tapi untuk mengembalikan makna ilmu kepada rakyat.

Api yang Tak Pernah Padam

Kini, di usia 51 tahun, Budiyono masih menyalakan bara yang sama. Ia tetap mengajar, menulis, dan mendampingi masyarakat yang terpinggirkan. Ia hidup sederhana, tetapi pikirannya menjulang.

Baca Juga :  Perjalanan Wartawan From Zero To Hero

Ia tahu, perjuangan intelektual bukan soal pangkat akademik, tapi soal keberpihakan. “Ilmu tanpa keberpihakan adalah kesia-siaan,” katanya, suatu kali.

Di ruang kuliahnya, mahasiswa belajar bahwa hukum bukan kumpulan pasal, tapi medan pertempuran moral. Di lapangan, rakyat mengenalnya bukan sebagai “Pak Dosen”, tapi “kawan seperjuangan”.

Budiyono mungkin tak sering muncul di media nasional, tapi di Lampung, namanya hidup di antara cerita-cerita advokasi rakyat. Ia menjelma simbol dari apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni tandingan perlawanan intelektual terhadap dominasi kekuasaan.

Ketika banyak akademisi sibuk membangun karier di atas kesunyian rakyat, Budiyono menumbuhkan ilmu di tengah penderitaan mereka. Ia membuktikan bahwa berpikir dan berjuang bukan dua dunia yang terpisah.

Dalam dirinya, keduanya menyatu dalam kesadaran bahwa pengetahuan sejati bukanlah yang menghiasi rak jurnal, tapi yang menyalakan kesadaran.

Dan dari Lampung, api kecil itu masih menyala. Tak padam, bahkan di tengah angin kekuasaan yang terus berubah arah.

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Dari Aula Disdikbud untuk Lampung Cerdas Selamat Bekerja Dewan Pendidikan Lampung
Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang
AJP Cium Bau “Anggaran Siluman” di Dinkes Lampung Barat Perjalanan Dinas dan Beasiswa Jadi Ladang Basah?
Takbir Menggema, Rindu Menjadi Doa, Menuju Kemenangan Sesungguhnya
Kekosongan Wakil Bupati Way Kanan Lumpuhkan Pemerintahan Daerah, HMI Desak Gubernur Lampung Bertindak Tegas
Batu Akik, Kopi Dingin, dan Politik yang Tak Pernah Benar-Benar Transparan
KPKAD Lampung Dorong Pilkada Tak Langsung: Gubernur Ditunjuk Presiden, Daerah Dinilai Perlu Kendali Konstitusional
Absensi Biro AAKK dan Kepengecutan Birokrasi Kampus
Berita ini 169 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 15:14 WIB

Dari Aula Disdikbud untuk Lampung Cerdas Selamat Bekerja Dewan Pendidikan Lampung

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:39 WIB

Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang

Senin, 30 Maret 2026 - 22:11 WIB

AJP Cium Bau “Anggaran Siluman” di Dinkes Lampung Barat Perjalanan Dinas dan Beasiswa Jadi Ladang Basah?

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:45 WIB

Takbir Menggema, Rindu Menjadi Doa, Menuju Kemenangan Sesungguhnya

Kamis, 12 Februari 2026 - 20:18 WIB

Kekosongan Wakil Bupati Way Kanan Lumpuhkan Pemerintahan Daerah, HMI Desak Gubernur Lampung Bertindak Tegas

Berita Terbaru

Politik

Mayang Suri Datang, Bantu Warga Korban Banjir

Kamis, 16 Apr 2026 - 21:17 WIB

Daerah

Gestur Nanda–Antonius Picu Polemik

Kamis, 16 Apr 2026 - 13:47 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com