Skandal SPMB SMPN 2 Bandar Lampung Atlet Nasional Tersingkir, Sistem Diduga Sarat Kepentingan

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 9 Juli 2025 - 10:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Skandal SPMB SMPN 2 Bandar Lampung Atlet Nasional Tersingkir, Sistem Diduga Sarat Kepentingan

 

Kompastuntas.com— Raja Basa, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMPN 2 Kota Bandar Lampung diduga tidak lagi berpijak pada meritokrasi. Seorang atlet nasional, Alvisyah Aina Zahira yang mengharumkan nama Lampung di berbagai kejuaraan bergengsi justru tersingkir dari jalur prestasi. Yang lebih memilukan, skor yang ia dapat nyaris setara peserta lomba tingkat RT.

Aina bukan atlet sembarangan. Ia peraih Juara 2 Babak Kualifikasi PON 2024 cabang sepatu roda di Aceh-Sumut ajang resmi yang jadi syarat menuju pentas olahraga nasional tertinggi. Namun ironisnya, sertifikat itu hanya dihargai poin 1,75 oleh panitia SPMB. Sementara peserta lain, yang hanya menyodorkan gelar juara turnamen terbuka, justru diganjar poin 2 dan dinyatakan lolos.

“Kami diberi alasan aneh panitia tidak tahu level kejuaraan. Lalu, atas dasar apa mereka menilai?” kata Dimas, ayah Aina, kepada awak media.

Ia menyebut penilaian dilakukan secara serampangan. Tidak ada pelibatan ahli olahraga, tidak ada verifikasi faktual level kejuaraan, dan semua keputusan diserahkan pada guru yang tak memiliki kompetensi teknis menilai prestasi atlet.

“Kalau SPMB di sekolah negeri bisa segini buruknya, ini bukan lagi soal anak saya. Ini soal nasib banyak anak yang disingkirkan karena sistem yang busuk,” cetus Dimas, tajam.

Objektivitas Dicampakkan, Juknis Diabaikan

Jika mengacu pada Petunjuk Teknis SPMB 2025/2026 yang diterbitkan Pemkot Bandar Lampung, sertifikat prestasi non-akademik harus dikonversi berdasarkan level kejuaraan lokal, regional, nasional, hingga internasional. Namun dalam kasus Aina, aturan itu seperti hanya formalitas kertas.

Baca Juga :  Potret Buram Pendidikan di Pulau Tabuan: Guru SMK Dibayar Rp150 Ribu, Sementara Tanggamus Punya 556 Guru SMK

Alih-alih memberi bobot lebih pada ajang resmi seperti Kualifikasi PON, panitia justru memberi poin lebih tinggi pada turnamen terbuka, yang levelnya tidak diakui KONI atau PB cabang olahraga.

“Anak saya juara di PON, mewakili Provinsi. Lawannya dari berbagai daerah. Sementara yang lolos malah juara dari turnamen terbuka. Lucunya, itu dianggap lebih tinggi nilainya. Apa logikanya?” tanya Dimas.

SMP Favorit, Tapi Seleksi Rasa Asal-asalan

SMPN 2 Bandar Lampung dikenal sebagai salah satu sekolah negeri favorit. Tapi dalam kasus ini, citra itu justru berubah menjadi kekecewaan publik. Praktik seleksi yang diduga tidak profesional membuat kredibilitas sekolah tercoreng.

Upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah Abdul Khanif, M.Pd. tak membuahkan hasil. Telepon tidak diangkat, pesan WhatsApp hanya dibaca tanpa balasan. Sikap bungkam ini justru memperkuat dugaan: ada sesuatu yang ditutup-tutupi.

Puluhan Medali, Tapi Gagal di Meja Panitia

Berikut sebagian daftar prestasi Alvisyah Aina Zahira yang diabaikan:
• Juara 2 Kualifikasi PON 2024 Aceh-       Sumut
• 13 Emas di berbagai Kejuaraan Nasional Palembang Open, JIFC Jakarta, Slalom Semarang, Cirebon Open, Bandung BIFC
• 6 Emas dari Kejuaraan Piala Gubernur Lampung 2023–2024

Baca Juga :  Dua Penyair Satu Komal, Rayakan Ganti Tahun

Prestasi ini jelas menunjukkan Aina bukan atlet karbitan. Ia adalah aset olahraga Lampung. Tapi semua medali itu runtuh di hadapan panitia yang tak mengerti perbedaan antara kejuaraan nasional dan lomba mingguan.

Peringatan Keras bagi Dunia Pendidikan

Kasus Aina bukan sekadar cerita siswa gagal masuk sekolah. Ini alarm keras bahwa sistem pendidikan kita sedang sakit tidak transparan, tidak profesional, dan tidak berpihak pada yang benar-benar berprestasi.

Jika sistem seleksi di SMP favorit saja bisa seceroboh ini, berapa banyak anak berprestasi lain yang tumbang karena birokrasi yang lalai, atau bahkan diduga bermain mata?

Pemerintah Kota Bandar Lampung, terutama Dinas Pendidikan, tidak bisa tinggal diam. Ini bukan sekadar evaluasi teknis, tapi soal membersihkan akar persoalan apakah sistem ini dirancang untuk menjaring anak terbaik, atau untuk menyaring sesuai titipan?

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Thomas Americo : Anggaran Dewan Pendidikan Akan Diusulkan pada Perubahan APBD
BEM FEB Unila Gelar Diskusi Terbuka Bahas Indonesia Emas 2045, Transisi Energi hingga Makan Bergizi Gratis
BEM FH UNILA MIMBAR BEBAS MAHASISWA LAMPUNG
IKA Untirta Lampung Dukung Penguatan Ekosistem Pekerja Migran
Ikhtiar Membongkar Sengkarut Pendidikan Lampung
Anggota Dewan Provinsi Lampung Legowo, Anak Tidak Masuk Bukti Nyata Tidak Ada Titip-titip
Keluhan Wali Murid Jalur Prestasi SMA, Disdik Lampung Tegaskan Seleksi Berdasarkan Empat Komponen Penilaian
Selamat, SPMB Jalur Unggul Tuntas Menerima 12.206 Siswa
Berita ini 292 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:15 WIB

Thomas Americo : Anggaran Dewan Pendidikan Akan Diusulkan pada Perubahan APBD

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:05 WIB

BEM FEB Unila Gelar Diskusi Terbuka Bahas Indonesia Emas 2045, Transisi Energi hingga Makan Bergizi Gratis

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:23 WIB

BEM FH UNILA MIMBAR BEBAS MAHASISWA LAMPUNG

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:11 WIB

IKA Untirta Lampung Dukung Penguatan Ekosistem Pekerja Migran

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:12 WIB

Ikhtiar Membongkar Sengkarut Pendidikan Lampung

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com