Ketika Pejabat Kembali Menguji Diri: Investasi Ilmu atau Prestise?

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompastuntas.com, Lampung— Sabtu pagi, 6 Juni 2026. Ketika sebagian besar warga Lampung mungkin masih menikmati kopi hangat atau bersiap menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, sebuah pemandangan menarik terlihat di gedung UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Universitas Lampung (Unila).

Ruangan itu mendadak penuh dengan suasana kebatinan yang serius. Bukan karena ada rapat darurat penanganan inflasi atau sidang paripurna yang molor, melainkan karena deretan pejabat penting dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus, hingga wakil rakyat dari DPRD Provinsi Lampung, tengah duduk tegang di depan layar komputer. Mereka sedang berjibaku dengan Computer Assisted Test (CAT).
Agendanya? Berebut kursi untuk menjadi mahasiswa program Doktor (S3) Ekonomi di Unila.
Fenomena ini tentu memantik pertanyaan menggelitik, Mengapa para pemangku kebijakan di Lampung tiba-tiba kompak merasa perlu mendalami ilmu ekonomi tingkat lanjut di saat bersamaan? Apakah ini murni dahaga akan ilmu pengetahuan, atau ada dorongan lain yang lebih pragmatis di balik seragam dan jabatan mereka?
Mari kita bedah siapa saja “para pemburu ilmu/gelar” yang rela mengorbankan waktu akhir pekannya ini.

Di barisan birokrat Pemprov Lampung, ada nama Deni Nardi Paksi Moeda, S.T., M.M., Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas KPTPH Lampung. Langkahnya mengejar doktor ekonomi mungkin terdengar linier jika dikaitkan dengan ketahanan pangan yang menjadi pilar ekonomi daerah. Namun, ia tidak sendiri. Ada juga Ir. Tony Ferdinansyah, S.T., M.T., Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bagi Tony, embel-embel “Ekonomi Kreatif” di dinasnya mungkin terasa kurang mantap tanpa gelar Dr. di depan namanya.

Baca Juga :  Nabar Sagon Tradisi Unik Ulun Lappung menyambut Sanak Tubik (kelahiran)

Menariknya, ujian ini juga diikuti oleh Meiry Harika Sari, S.STP., M.M. (Kadispora) dan Riski Sofyan, S.STP., M.Si. (Kadis Lingkungan Hidup). Dua pejabat jebolan STPDN ini tampaknya ingin membuktikan bahwa urusan pemuda, olahraga, dan lingkungan hidup hari ini tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi rumus ekonomi yang njelimet. Tak ketinggalan, Kepala Dinas ESDM, Budhi Darmawan, juga ikut mengantre di ruang ujian, barangkali bersiap menghitung masa depan ekonomi hijau Lampung.
Nuansa “dinasti intelektual” juga terasa lamat-lamat. Sang Sekretaris DPRD (Sekwan) Provinsi Lampung, Descatama Paksi Moeda, ST., SE., MM., tampak berada di ruang yang sama dengan Deni Nardi. Dua pejabat dengan nama belakang Paksi Moeda ini tampaknya sepakat bahwa akhir pekan ini adalah waktu yang tepat untuk menaikkan level akademis mereka.

Dari kursi legislatif, legislator senior dari PKS, H. Puji Sartono, S.H., S.Kep., ikut ambil bagian. Wakil rakyat dari Dapil 2 Lampung Selatan yang berlatar belakang hukum dan keperawatan ini tampaknya sadar, mengkritik kebijakan anggaran pemerintah daerah akan jauh lebih tajam jika dipersenjatai dengan teori ekonomi makro tingkat doktoral.
Pemandangan ini digenapi oleh kehadiran Jon Novri, S.STP., M.IP, Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Pemkab Tanggamus, yang rela menyeberang kabupaten demi ujian ini.
Antara Prestise dan Urgensi Publik
Sebagai publik, kita tentu layak memberikan apresiasi. Belajar adalah hak setiap warga negara, dan melihat para pemimpin daerah mau belajar lagi adalah oase tersendiri. Logikanya, semakin tinggi pendidikan para pejabat, semakin cerdas dan bijaksana pula kebijakan yang dilahirkan untuk rakyat Lampung.

Baca Juga :  Dr. Budiyono, Negara Tak Boleh Dikalahkan Teror Jalanan! Polisi Harus Bertindak Sekarang Juga

Namun, di sisi lain, sinisme publik sulit dihindari. Di tengah masyarakat yang masih berjuang dengan urusan ekonomi riil mulai dari harga komoditas pertanian yang fluktuatif, infrastruktur jalan yang kerap dikeluhkan, hingga penyediaan lapangan kerja pemandangan para pejabat berbondong-bondong mengejar gelar doktor ini memicu tanya, Untuk siapa sebenarnya gelar Doktor Ekonomi ini nanti?

Apakah demi efektivitas birokrasi, atau sekadar memperpanjang portofolio di CV guna mengamankan posisi dalam mutasi jabatan berikutnya? Lebih jauh lagi, publik tentu berharap konsentrasi belajar yang dipastikan menyita waktu ini tidak akan mengganggu performa pelayanan publik pada hari kerja.

Kita tunggu saja. Apakah setelah ujian CAT sabtu pagi ini selesai dan dinyatakan lanjut mengikuti studi program doktor nantinya dapat berlanjut, serta pertumbuhan ekonomi Lampung akan melesat sejalan dengan bertambahnya deretan gelar akademis di papan nama meja kerja mereka?

Sebab jika tidak, gelar S3 itu khawatir hanya akan berakhir menjadi hiasan mahal di balik dinding ruang kantor yang sejuk, sementara rakyat di luar tetap begini-begini saja.

Penulis : Hengky Irawan

Berita Terkait

Lampung Police Watch (LPW) menyoroti keras tindakan penembakan terhadap terduga pelaku begal
LBH Bandar Lampung Kecam Dugaan Pembunuhan di Luar Hukum oleh Oknum Polisi
Peringatan Untuk Nanik S. Deyang : Jangan Di Ulangi
Ryacudu
Anak-Anak Muda Statistik
Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Mas Tri
Membongkar Tabu: Menengok Kembali Riwayat Masjid Inklusif Pertama di Paris
Sebuah Madrasah Cinta dan Pengorbanan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Pejabat Kembali Menguji Diri: Investasi Ilmu atau Prestise?

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:30 WIB

Lampung Police Watch (LPW) menyoroti keras tindakan penembakan terhadap terduga pelaku begal

Jumat, 5 Juni 2026 - 05:39 WIB

LBH Bandar Lampung Kecam Dugaan Pembunuhan di Luar Hukum oleh Oknum Polisi

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:18 WIB

Peringatan Untuk Nanik S. Deyang : Jangan Di Ulangi

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ryacudu

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com