Negeri yang Memuliakan Guru, tapi Ditinggalkan Calon Guru

Avatar photo

- Penulis

Senin, 13 April 2026 - 13:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Negeri yang Memuliakan Guru, tapi Ditinggalkan Calon Guru

Kompastuntas.com– Pringsewu, di banyak kampung di Lampung, percakapan tentang masa depan anak muda kini tak lagi sama. Dulu, menjadi guru masih disebut dengan nada bangga sebagai cita-cita yang terhormat. Namun kini, tanda-tanda pergeseran itu bahkan sudah terlihat sejak bangku kuliah. Data seleksi masuk perguruan tinggi beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jurusan-jurusan pendidikan tidak lagi menjadi pilihan utama, kalah bersaing dengan bidang lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

Perubahan itu terasa nyata di lapangan. Hari ini, ketika ditanya tentang masa depan, jawaban yang lebih sering muncul justru sederhana dan tegas: ingin kerja ke luar negeri.

Perubahan itu bukan kebetulan. Ia lahir dari perbandingan yang terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, menjadi guru menjanjikan kehormatan. Di sisi lain, menjadi pekerja migran menawarkan sesuatu yang lebih konkret: penghasilan yang bisa langsung dirasakan.

Kita terlalu lama hidup dalam satu kalimat yang terdengar mulia: guru adalah pondasi bangsa. Kalimat itu diulang dalam buku pelajaran, pidato pejabat, hingga seremoni pendidikan. Namun, ketika semakin sedikit anak muda yang ingin menjadi guru, kalimat itu seharusnya tidak lagi cukup untuk diyakini sekarang ia perlu dipertanyakan.

Apakah pondasi itu benar-benar kita rawat?

Data dari Persatuan Guru Republik Indonesia menunjukkan minat generasi muda terhadap profesi guru tidak tinggi. Ironisnya, kebutuhan guru justru terus bertambah, terutama karena gelombang pensiun yang tidak kecil. Kekosongan ini di lapangan sering ditutup oleh guru honorer, mereka yang bekerja dengan dedikasi tinggi, tetapi dalam keterbatasan yang panjang.

Baca Juga :  Selamat, 149 Sarjana Baru Fakultas Pertanian Unila Siap Berkontribusi Untuk Negri

Sementara itu, jalur menjadi pekerja migran tetap terbuka. Ada pelatihan, ada penempatan, dan yang paling penting, ada kepastian penghasilan. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, pilihan ini bukan soal idealisme, melainkan soal bertahan hidup.

Menjadi guru, terutama di awal karier, sering kali berarti bersahabat dengan ketidakpastian. Gaji yang kecil, status yang belum jelas, serta beban administrasi yang menumpuk membuat profesi ini semakin kehilangan daya tarik. Di saat yang sama, bekerja di luar negeri meski penuh risiko namun memberikan hasil yang lebih cepat terlihat.

Dalam situasi seperti ini, sulit menyalahkan anak muda. Mereka bukan kehilangan idealisme. Mereka hanya sedang menimbang realitas. Ada orang tua yang harus dibantu, ada adik yang perlu sekolah, dan ada kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.

Masalahnya bukan pada pilihan mereka. Masalahnya ada pada sistem yang sejak awal membuat profesi guru kalah bersaing.

Selama ini, kita rajin memuliakan guru dalam kata-kata, tetapi sering ragu dalam kebijakan. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” terdengar indah, tetapi juga menyimpan ironi. Sebab di baliknya, ada kehidupan nyata yang harus dijalani seperti tagihan yang harus dibayar, keluarga yang harus dinafkahi, dan masa depan yang perlu dipastikan.

Ketika penghargaan moral tidak berjalan seiring dengan kesejahteraan, yang muncul adalah jurang antara idealisme dan kenyataan. Dan jurang itulah yang kini dibaca dengan jernih oleh generasi muda.

Baca Juga :  Selamat Datang Kaum Itelektual Muda, Saatnya Berbuat Nyata Membangun Lampung Ajak Elvira Umihani

Jika keadaan ini terus dibiarkan, kita tidak hanya akan kekurangan guru. Kita juga berisiko kehilangan calon-calon terbaik. Profesi guru perlahan berubah dari panggilan yang diperebutkan menjadi pilihan terakhir yang terpaksa diambil.

Padahal, pengalaman banyak negara menunjukkan hal sebaliknya: kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas dan kesejahteraan guru. Di sana, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan mulia, tetapi juga karier yang kompetitif dan menjanjikan.

Indonesia tidak kekurangan slogan tentang pentingnya pendidikan. Yang sering kurang adalah keberanian untuk menjadikannya prioritas nyata.

Karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada retorika. Kita membutuhkan langkah konkret: jalur karier yang jelas, penghasilan yang layak sejak awal, serta penyederhanaan beban administratif yang selama ini menguras energi guru.

Masyarakat juga perlu jujur. Menghormati guru tidak cukup dengan seremoni atau ucapan selamat di hari peringatan. Dukungan terhadap kebijakan yang berpihak pada mereka jauh lebih menentukan.

Pada akhirnya, pilihan antara mengajar atau merantau adalah cermin arah pembangunan kita sendiri. Ketika profesi guru tidak lagi mampu menjanjikan kehidupan yang layak, maka wajar jika banyak anak muda memilih jalan lain.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa mereka pergi. Tetapi: mengapa kita membiarkan ruang-ruang kelas itu perlahan kosong?

Dan jika itu terus terjadi, yang hilang bukan hanya guru melainkan masa depan yang seharusnya kita siapkan hari ini.

M. Abdullah Umar, M.A Akademisi STIES ALIFA PRINGSEWU

Berita Terkait

Merajut Silaturahmi di Banyu Langit: Reuni dan Halal Bihalal Alumni MH FH Unila Angkatan 2007
Besok, Dewan Pendidikan Lampung Resmi Dilantik Ditantang Tak Sekadar Simbol Partisipasi
Krisis Nilai di Era Digital, Mahasiswa Didorong Jadi Penjaga Arah Bangsa
Sambutan Hanya Formalitas, “Presma Unila Pilih Bersinergi, Siapa yang Mengawasi Kekuasaan?”
Pramuka Lampung Gaungkan “AI Ready ASEAN”, Dorong Generasi Muda Cakap Digital dan Berkarakter
“Banner Dipatok, Sekolah Dipaksa Bayar Skandal Rp500.000 Guncang Dunia Pendidikan Lampung Barat!”
Luthfia Zahra Delfi, Mahasiswi FEB Raih Juara 1 Pilmapres Unila 2024, Siap Melaju ke Tingkat Wilayah
M Nur Ramdan Jabat Plt Kadisdikbud Bandar Lampung, Gantikan Eka Afriana
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 13:19 WIB

Negeri yang Memuliakan Guru, tapi Ditinggalkan Calon Guru

Senin, 13 April 2026 - 08:26 WIB

Merajut Silaturahmi di Banyu Langit: Reuni dan Halal Bihalal Alumni MH FH Unila Angkatan 2007

Senin, 6 April 2026 - 20:49 WIB

Krisis Nilai di Era Digital, Mahasiswa Didorong Jadi Penjaga Arah Bangsa

Senin, 6 April 2026 - 10:18 WIB

Sambutan Hanya Formalitas, “Presma Unila Pilih Bersinergi, Siapa yang Mengawasi Kekuasaan?”

Minggu, 5 April 2026 - 12:09 WIB

Pramuka Lampung Gaungkan “AI Ready ASEAN”, Dorong Generasi Muda Cakap Digital dan Berkarakter

Berita Terbaru

Pendidikan

Negeri yang Memuliakan Guru, tapi Ditinggalkan Calon Guru

Senin, 13 Apr 2026 - 13:19 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com