Pendidikan Indonesia Meniru Tanpa Berpikir, Mengadopsi Tanpa Kesadaran
Indonesia itu unik. Kita rajin mengimpor gagasan, tapi malas merawat pelaksanaan. Dalam pendidikan, kita seperti turis intelektual, berkeliling ke Amerika, mengagumi Finlandia, lalu berfoto dengan Jepang tapi pulang tanpa membawa pemahaman yang utuh.
Kita bilang ingin seperti Finlandia: tanpa ujian, penuh kebahagiaan. Tapi kita lupa, Finlandia tidak dibangun dari slogan, melainkan dari kepercayaan pada guru. Di Indonesia, guru masih sibuk dengan administrasi, bukan memerdekakan pikiran. Jadi yang kita tiru hanya kulitnya, bukan strukturnya.
Kita juga kagum pada Amerika dengan kebebasan berpikirnya. Tapi yang kita ambil justru kurikulumnya, bukan tradisi berpikir kritisnya. Akibatnya, kita punya istilah “student-centered learning”, tapi kelas masih “teacher domination”. Bahasa berubah, praktik tetap feodal.
Lalu Jepang. Kita terpukau dengan disiplin mereka. Tapi disiplin di Jepang lahir dari budaya kolektif yang kuat. Di Indonesia, disiplin sering dipaksakan lewat aturan, bukan dibentuk lewat kesadaran. Maka yang lahir bukan karakter, tapi kepatuhan semu.
Masalah pendidikan kita bukan kekurangan referensi global. Kita kebanyakan referensi, tapi kekurangan refleksi. Kita percaya bahwa solusi ada di luar negeri, padahal persoalannya ada di dalam negeri ketimpangan, birokrasi, dan mentalitas instan.
Setiap kali kurikulum berubah, kita menyebutnya reformasi. Padahal sering kali itu hanya kosmetik kebijakan. Ganti istilah, ganti format, tapi tidak menyentuh akar: kualitas guru, budaya belajar, dan keadilan akses.
Kita ini seperti menyalin jawaban tanpa memahami soal.
Pendidikan bukan soal meniru siapa yang terbaik di dunia. Pendidikan adalah kemampuan membaca diri sendiri: siapa kita, apa masalah kita, dan ke mana kita ingin pergi. Tanpa itu, semua adopsi hanyalah ilusi kemajuan.
Jadi pertanyaannya bukan Indonesia meniru siapa?
Pertanyaannya Indonesia berpikir atau tidak?
Kalau tidak, maka kita akan terus jadi bangsa yang sibuk mengejar bayangan dan lupa membangun cahaya sendiri.
Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu
Editor : Hengki Utama









