KPKAD Lampung Dorong Pilkada Tak Langsung: Gubernur Ditunjuk Presiden, Daerah Dinilai Perlu Kendali Konstitusional

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 4 Januari 2026 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KPKAD Lampung Dorong Pilkada Tak Langsung: Gubernur Ditunjuk Presiden, Daerah Dinilai Perlu Kendali Konstitusional

 

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran Daerah (KPKAD) Lampung kembali mengemukakan gagasan perubahan mendasar dalam sistem pemilihan kepala daerah. Organisasi ini mengusulkan agar bupati dan wali kota dipilih melalui DPRD, sementara jabatan gubernur ditunjuk langsung oleh Presiden sebagai representasi pemerintah pusat di daerah.

Usulan ini berangkat dari evaluasi terhadap satu dekade lebih pelaksanaan pilkada langsung yang dinilai mahal, rawan konflik, dan membuka ruang luas bagi praktik korupsi pasca-pemilihan.

“Pilkada langsung menelan biaya besar, baik dari APBN, APBD, maupun ongkos politik kandidat. Negara selalu rugi bandar,” kata Gindha Ansori Wayka, Koordinator Presidium KPKAD Lampung.

Demokrasi Perwakilan dalam Perspektif Konstitusi

Secara tata negara, UUD 1945 tidak secara eksplisit mewajibkan pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 hanya menyebut bahwa gubernur, bupati, dan wali kota “dipilih secara demokratis.” Frasa ini, menurut banyak pakar hukum tata negara, membuka ruang tafsir baik pemilihan langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan.

Mahkamah Konstitusi dalam sejumlah putusannya juga menegaskan bahwa demokratis tidak selalu identik dengan pemilihan langsung oleh rakyat, selama mekanismenya menjamin prinsip representasi, akuntabilitas, dan kedaulatan rakyat secara tidak langsung.

Baca Juga :  Buka Munas HIPMI, Prabowo Minta Pengusaha Muda Berani Ambil Risiko

Dalam konteks ini, KPKAD menilai sistem pemilihan melalui DPRD justru lebih sejalan dengan Sila Keempat Pancasila, yang menekankan musyawarah dan perwakilan, bukan kompetisi elektoral berbiaya tinggi.

“Demokrasi kita bukan demokrasi liberal. Konstitusi dan Pancasila menempatkan perwakilan sebagai inti,” ujar Gindha.

Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat

KPKAD juga mengusulkan agar gubernur ditunjuk oleh Presiden. Argumentasinya, gubernur memiliki kedudukan ganda: sebagai kepala daerah dan sebagai wakil pemerintah pusat. Posisi ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan strategis kepada gubernur dalam pembinaan dan pengawasan kabupaten/kota.

Dengan penunjukan langsung oleh Presiden, KPKAD menilai koordinasi pusat-daerah akan lebih solid dan pembangunan bisa diseragamkan secara nasional.

“Jika gubernur adalah kader bangsa yang ditugaskan Presiden, maka tidak ada lagi tarik-menarik kepentingan politik lokal yang menghambat agenda nasional,” kata Gindha.

Perbandingan Internasional: Bukan Anomali

KPKAD menegaskan, sistem pemilihan tidak langsung bukan anomali dalam praktik demokrasi global. Sejumlah negara demokrasi mapan justru menerapkan model serupa.

Di Jerman, kepala pemerintahan negara bagian (Ministerpräsident) dipilih oleh parlemen negara bagian, bukan langsung oleh rakyat. Di India, Chief Minister di setiap negara bagian juga dipilih oleh legislatif lokal berdasarkan konfigurasi politik hasil pemilu.

Baca Juga :  Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Mutiara Ayu, S.Pd., M.Pd, menilai lonjakan jumlah pendaftar SMA unggulan di Provinsi Lampung merupakan sinyal positif

Sementara di Prancis, prefek sebagai representasi pemerintah pusat di daerah ditunjuk langsung oleh Presiden. Bahkan di Amerika Serikat, meski gubernur dipilih langsung, banyak pejabat strategis daerah merupakan hasil penunjukan, bukan pemilihan umum.

“Intinya bukan langsung atau tidak langsung, tetapi seberapa efektif sistem itu mencegah korupsi dan menjamin kesejahteraan rakyat,” ujar Gindha.

Koreksi Demokrasi, Bukan Kemunduran

Sejak 2015, KPKAD Lampung konsisten mendorong evaluasi total terhadap pilkada langsung. Organisasi ini menilai praktik saat ini justru melahirkan paradoks: legitimasi elektoral tinggi, tetapi kualitas tata kelola rendah.

Banyak kepala daerah yang terseret kasus hukum setelah menjabat. Fenomena ini, menurut KPKAD, tak lepas dari ongkos politik yang harus “dikembalikan” melalui penyalahgunaan kewenangan.

“Kita menyaksikan kepala daerah satu per satu terjerat hukum. Ini bukan semata soal moral individu, tapi cacat sistem,” kata Gindha.

KPKAD menyebut gagasan pilkada tak langsung sebagai bentuk koreksi demokrasi, bukan langkah mundur. Demokrasi, menurut mereka, harus diletakkan dalam kerangka konstitusional dan budaya politik Indonesia, bukan sekadar meniru model liberal Barat.

“Demokrasi harus dikendalikan oleh hukum, bukan oleh modal,” ujar Gindha.

Penulis : Ginda Ansori Wayka, MH

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  
Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama
Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung
Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru
Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara
Abdul Wachid: Aturan Batas Usia Promosi Jabatan ASN Perlu Fleksibel dan Selaras dengan Sistem Merit
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Berita Terbaru

Pemerintahan

Survey Rakata : Mirza-Jihan Raih Kepuasan Publik Diatas 80 Persen

Sabtu, 19 Sep 2026 - 08:19 WIB

Uncategorized

Welly Diborgol, Keluar dari Ruang Ditreskrimsus Polda Lampung

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:54 WIB

Nasional

36 Tahun Berpencar, Aktivis HUMANIKA Kembali Bertemu

Jumat, 18 Sep 2026 - 13:51 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com