Wajah Baru Radin Inten: Memungut Harapan di Bibir Pantai Lampung
Kompastuntas.com— Kalianda, pagi baru saja merekah ketika riak ombak di Radin Inten Beach kawasan pesisir yang dulu karib dikenal sebagai Pantai Pasir Putih disambut oleh riuh ribuan pasang kaki, Jumat, 10 Juli 2026. Tangan-tangan mereka cekatan. Berbekal karung dan kantong plastik besar, ribuan orang ini menyusuri garis pantai, memungut helai demi helai sampah: botol plastik, bungkus makanan, potongan kayu, hingga limbah rumah tangga yang dipulangkan ombak ke daratan.
Di sini, sekat-sekat sosial melebur. Mahasiswa berkaus oblong bertukar tawa dengan nelayan lokal berwajah legam. Di sudut lain, personel TNI dan Polri bahu-bahu dengan komunitas lingkungan dan organisasi masyarakat, memungut sampah yang mengapung di perairan dangkal. Suasana gotong royong yang cair ini mengubah lanskap pesisir Lampung Selatan menjadi ruang kolaborasi akbar warga.
Pantai ini sengaja dipilih menjadi hulu dari sebuah ikhtiar besar bernama Gerakan Radin Inten Asri. Sebagai salah satu ikon wisata tertua di Lampung, kawasan ini adalah halaman depan provinsi. Dari bibir pantai inilah, virus kesadaran lingkungan sengaja diinjeksikan, dengan harapan bakal menular hingga ke wilayah permukiman, sekolah, dan perkantoran di bumi Ruwa Jurai.
Melompat dari Keterpurukan
Perubahan drastis pantai ini memantik atensi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Kiay Mirza sapaan akrabnya mengenang bagaimana nestapanya kondisi pantai ini pada tahun lalu: kumuh, tak terawat, dan jauh dari kata layak sebagai destinasi wisata.
“Tahun lalu pantai ini masih belum layak. Hari ini saya melihat perubahannya luar biasa dan sudah sangat layak menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Lampung,” ujar Mirza di sela-sela aksi bersih-bersih tersebut.
Bagi Mirza, urusan kebersihan pesisir tak bisa melulu diletakkan di pundak birokrasi. Perlu ada kesadaran kolektif yang mengakar di sanubari warga. “Pantai adalah wajah, citra, dan kebanggaan masyarakat Lampung. Menjaganya harus bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan, bukan lagi paksaan,” cetusnya.
Aksi ini memang bukan sekadar kosmetik di daratan. Komunitas perenang lokal, misalnya, memilih menceburkan diri ke laut lepas, memburu sampah plastik yang mengapung di perairan dalam, lalu menyeretnya ke darat untuk dikumpulkan.
Bukan Sekadar Seremonial
Gerakan masif ini rupanya menjadi bagian dari rantai komando kebersihan di wilayah Sumatra bagian selatan. Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyebut aksi ini merupakan pengejawantahan dari arahan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk membersihkan wilayah Lampung dan Bengkulu.
Namun, Kristomei menggarisbawahi bahwa pihaknya tidak tertarik pada keriuhan yang sifatnya sementara.
“Kami tidak mengharapkan kegiatan seremonial satu hari. Kami memulai dari pantai karena di sinilah muara segala sampah. Yang kami kejar adalah keberlanjutan, agar masyarakat terbiasa hidup bersih dan sehat,” tegas jenderal bintang dua tersebut.
Ia sadar betul, senapan dan seragam hijau tentara tidak akan mampu menjaga pantai tetap bersih jika masyarakat abai. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama yang terus digandeng oleh TNI.
Jelang tengah hari, matahari mulai menyengat, meninggalkan pemandangan berupa ribuan karung sampah yang menggunung di posko pengumpulan. Namun, lebih dari sekadar mengembalikan pasir putih yang bersih, aksi hari itu meninggalkan sebuah harapan besar: bahwa kepedulian pada lingkungan tidak lantas menguap begitu tenda-tenda acara dibongkar. Sebab, di tiap jengkal pantai yang bersih, terpancar martabat dan wajah asli masyarakat Lampung yang sebenarnya.









