Proyek Rp23 Miliar Nyaris “Lolos”, Warga Bongkar Borok Talud Pringsewu-Kalirejo

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Proyek Rp23 Miliar Nyaris “Lolos”, Warga Bongkar Borok Talud Pringsewu-Kalirejo

Kompastuntas.com— Teluk Betung, sebuah proyek infrastruktur jalan bernilai puluhan miliar di Kabupaten Pringsewu mendadak jadi sorotan. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena aksi protes warga yang berhasil menghentikan dugaan “akal-akalan” kontraktor dalam pembangunan talud penahan jalan.

Buntut dari temuan ini, Pemerintah Provinsi Lampung langsung merombak total sistem pengawasan di lapangan yang dinilai loyo dan formalitas.

Kronologi, Fondasi “Siluman” yang Terendus Warga
Proyek peningkatan ruas Jalan Pringsewu-Kalirejo sepanjang 2,7 kilometer ini sebenarnya adalah proyek prioritas. Nilai kontraknya fantastis, mencapai Rp23,97 miliar dari total anggaran Rp32,2 miliar yang dikucurkan Pemprov Lampung untuk wilayah tersebut tahun ini.

Ironisnya, belum genap sebulan sejak Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, meletakkan batu pertama pada 21 Mei lalu, proyek ini sudah bermasalah.
Warga Pekon Rejosari yang sehari-hari melintasi lokasi curiga melihat metode kerja para buruh. Struktur talud (dinding penahan tanah) diduga kuat dibangun tanpa penggalian fondasi yang layak. Batu-batu belah hanya ditumpuk di atas permukaan tanah, sebuah metode “jalan pintas” yang membuat bangunan rawan ambrol saat musim hujan.

Gerah dengan pemandangan tersebut, warga memotret dan memviralkannya ke media sosial serta kanal aduan Lampung In. Gelombang protes ini memaksa kontraktor gigit jari dan membongkar total talud “asal jadi” tersebut pada Kamis kemarin.

Baca Juga :  Sekda Kota Bandar Lampung, Bantah Restui Penjualan Fasum Griya Sukarame

Pengakuan BMBK: “Kami Kecolongan”
Aksi warga ini bak tamparan keras bagi Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung. Kepala Dinas BMBK, M. Taufiqullah, secara blak-blakan mengakui adanya celah fatal dalam pengawasan di lapangan.

“Kita akui kecolongan. Saat kejadian, konsultan pengawas sebenarnya ada di area proyek, tapi sedang meninggalkan lokasi bersama timnya. Fungsi pengawasan tidak berjalan maksimal,” kata Taufiqullah jujur.

Selama ini, sistem birokrasi pengawasan proyek memang terkesan lamban. Progres pekerjaan hanya dilaporkan sebulan sekali melalui Dokumen Proyek (Dokpro). Celah waktu satu bulan inilah yang kerap dimanfaatkan oknum di lapangan untuk memangkas spesifikasi teknis tanpa ketahuan melaui laporan di atas kertas.
Reformasi Total: Konsultan Wajib Setor Laporan Harian
Merespons kegaduhan ini, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela langsung mengambil tindakan tegas. Pola pengawasan bulanan resmi dipensiunkan untuk proyek ini.

Sebagai gantinya, Pemprov Lampung menerapkan aturan darurat:
1. Laporan Wajib Harian: Konsultan pengawas kini wajib melaporkan progres dan kondisi riil di lapangan setiap hari secara manual kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
2. Sanksi Keras: Kontraktor pelaksana telah dijatuhi surat instruksi pekerjaan untuk membangun ulang sesuai spesifikasi mutu, sementara konsultan pengawas diberikan peringatan keras atas kelalaiannya.
3. PPK Turun Gunung: Seluruh pejabat pembuat komitmen dilarang hanya menerima laporan dari balik meja dan diwajibkan melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara berkala.

Baca Juga :  Menjaga Stabilitas Harga Dibulan Ramadhon, Pemkot Metro Rapat HLM

Jihan juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Pringsewu yang bertindak sebagai “mata dan telinga” pemerintah.
“Kami sangat terbantu. Laporan warga menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas pekerjaan tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan,” tutur Jihan.

Sebagai catatan mendasar bahwa ini menanti ketegasan, bukan sekadar reaksi sesaat.

Kasus talud Pringsewu-Kalirejo adalah alarm bagi tata kelola infrastruktur di Lampung. Alokasi anggaran jumbo sebesar Rp23,97 miliar dengan masa kerja 180 hari kalender ini seharusnya melahirkan jalan yang mulus dan tahan lama, bukan melahirkan kecemasan baru bagi publik.

Langkah Pemprov Lampung menerapkan laporan harian patut diapresiasi, namun publik kini menunggu konsistensi. Jangan sampai pengawasan ketat ini hangat-hangat tahi ayam hanya ketat saat viral, lalu kembali longgar ketika sorotan kamera media mulai meredup.

Berita Terkait

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Inovasi Pendidikan dari detik.com
Pimpinan DPRD Lampung Siap Kawal Anggaran HPN-Porwanas 2027
DPRD dan Pemkot Bandar Lampung Perkuat Sinergi, Eva Dwiana Fokuskan APBD 2026 pada Pembangunan dan Pelayanan Publik
Fraksi Golkar Soroti Transparansi dan Efisiensi dalam Perubahan APBD Bandar Lampung 2026
Selamat, Wahrul Silalahi Terpilih Pimpin Karang Taruna Lampung
Pemprov dan DPRD Lampung Sepakati Perubahan KUA-PPAS 2026: Pendapatan Dipangkas Rp19,67 Miliar
DPRD Lampung Buka Seluruh Postur APBD, Giri: Uang Rakyat Harus Tepat Sasaran
Komisi IV DPRD Evaluasi Kinerja Dinkes Bandar Lampung, Serapan Anggaran 2026 Capai 50 Persen
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:21 WIB

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Inovasi Pendidikan dari detik.com

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:45 WIB

Pimpinan DPRD Lampung Siap Kawal Anggaran HPN-Porwanas 2027

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:51 WIB

DPRD dan Pemkot Bandar Lampung Perkuat Sinergi, Eva Dwiana Fokuskan APBD 2026 pada Pembangunan dan Pelayanan Publik

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Fraksi Golkar Soroti Transparansi dan Efisiensi dalam Perubahan APBD Bandar Lampung 2026

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Selamat, Wahrul Silalahi Terpilih Pimpin Karang Taruna Lampung

Berita Terbaru

Nasional

HPN 2027 Di Lampung Inklusif dan Kolaboratif

Rabu, 2 Sep 2026 - 20:45 WIB

Kesehatan

RSUDAM Gelar Webinar P2KB

Minggu, 30 Agu 2026 - 20:20 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com