Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

Kompastuntas.com— Jakarta, sebuah interaksi singkat di kasir restoran cepat saji Burger King kawasan Breinigsville, Pennsylvania, Amerika Serikat, mendadak bereskalasi menjadi isu global yang memicu perdebatan sengit seputar kebebasan berekspresi, batasan profesionalisme, hingga sensitivitas geopolitik di ruang publik.
Peristiwa ini bermula ketika Rami Feinstein, seorang musisi keturunan Israel-Amerika, bertransaksi di gerai tersebut. Di sana, ia dilayani oleh Arianna Hamilton, seorang karyawan setempat. Menurut laporan Roya News, interaksi verbal terjadi saat Hamilton memperhatikan atribut Bintang Daud yang dikenakan Feinstein. Setelah mengetahui latar belakang Feinstein yang berasal dari Israel, Hamilton melontarkan seruan “Free Palestine” (Bebaskan Palestina).
Merasa tak nyaman, Feinstein lantas merekam interaksi tersebut, meminta pengembalian dana (refund), dan meninggalkan lokasi. Rekaman video itu diunggah ke media sosial dan langsung menyita perhatian publik internasional secara masif.
Merespons gelombang kritik yang mengancam reputasi korporasi, manajemen pusat Burger King melayangkan permohonan maaf terbuka dan menegaskan komitmen mereka terhadap lingkungan kerja yang netral serta bebas inkriminasi.

“Kami sangat menyesal mendengar pengalaman yang Anda alami. Burger King adalah tempat di mana semua orang harus merasa disambut, dihormati, dan bebas dari diskriminasi. Kami tidak menoleransi antisemitisme, kebencian, atau bentuk diskriminasi apa pun. Kami sedang bekerja sama dengan pemilik waralaba yang mengoperasikan restoran ini untuk menangani situasi tersebut,” bunyi pernyataan resmi manajemen Burger King.

Baca Juga :  “Kapolda Lampung Diganti, Irjen Helmy Diparkir ke Itwasum”

Keputusan tegas diambil tak lama kemudian: pemegang waralaba memberhentikan Hamilton atas tuduhan tindakan diskriminatif. Namun, langkah pemecatan ini justru memantik dikotomi tajam di ruang siber. Gelombang simpati dari warganet mengalir deras membela Hamilton, menilai respons korporasi terlalu berlebihan terhadap ekspresi politik personal.
Melalui akun Instagram pribadinya, Hamilton memberikan klarifikasi untuk meluruskan narasi yang beredar. Ia membantah telah memulakan konfrontasi atau menanyakan latar belakang kebangsaan Feinstein secara tendensius sejak awal.

“Pria itu sebenarnya datang dengan sikap yang sangat agresif. Saya tidak bertanya dari negara mana ia berasal. Maksud saya, dari daerah mana di kawasan Lehigh Valley. Kami biasa kedatangan orang dari berbagai tempat seperti New York atau New Jersey,” tutur Hamilton.
Ia menjelaskan bahwa percakapan awalnya berjalan biasa ketika Feinstein mengaku berasal dari New Jersey. Situasi berubah ketika Feinstein sengaja mengeluarkan kalung Bintang Daud dari balik pakaiannya dan menegaskan identitas keisraelannya.

Baca Juga :  Ormas Minta THR, Jika Tak Dikasih Sawit Dijarah

“Hal itulah yang memicu saya untuk mengatakan ‘Bebaskan Palestina’. Tentu saja saya tidak akan mundur dari ucapan tersebut ketika dia mengarahkan kamera ke wajah saya. Itu bukan kepribadian saya. Saya akan selalu menyuarakan pandangan saya dan tidak akan pernah takut menyampaikan apa yang saya pikirkan,” tegasnya, sembari menambahkan bahwa ucapannya murni bentuk solidaritas, bukan kebencian etnis atau agama.

Dampak dari pemecatan ini membawa babak baru. Hamilton membuka kampanye penggalangan dana publik di platform GoFundMe bertajuk “Support Arianna After Job Loss for Free Speech”. Langkah ini dilakukan untuk menopang kebutuhan dasar hidupnya pasca-kehilangan mata pencaharian, seperti biaya sewa hunian dan logistik harian. Kampanye solidaritas tersebut direspons secara signifikan oleh publik, hingga berhasil mengumpulkan dana lebih dari 40 ribu dolar AS (setara Rp717 juta).

Kasus ini memperlihatkan betapa tipisnya batas antara ruang privat, etika pelayanan korporasi, dan keberanian menyuarakan pandangan politik pribadi di tengah polarisasi global yang belum mereda.

Berita Terkait

Batas Usia ASN Dinilai Jadi Instrumen Regenerasi dan Efektivitas Birokrasi, Tetap Harus Berbasis Sistem Merit
Menko Pangan Siap Sukseskan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung, Pastikan Hadiri Kick-off
Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah
Bencana Mengintai Lampung, Proyek Air Bersih BPBD Diterpa Isu Miring
Pernyataan Ketua Umum AMSI atas Wafatnya Sekjen AMSI Maryadi
Istana Jawab Tuntutan BEM UI, Program Makan Bergizi Gratis Tak Akan Dihentikan
JPU Ajukan Kasasi, Ini Amar Putusan Banding Hakim PT Tanjungkarang Cakra Alam, Aksir dan Ratmoho yang Lepaskan Terdakwa Thio Stepanus Sulistio Kasus Tipikor Tanah Kemenag
Buka Munas HIPMI, Prabowo Minta Pengusaha Muda Berani Ambil Risiko
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:32 WIB

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:58 WIB

Batas Usia ASN Dinilai Jadi Instrumen Regenerasi dan Efektivitas Birokrasi, Tetap Harus Berbasis Sistem Merit

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:48 WIB

Menko Pangan Siap Sukseskan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung, Pastikan Hadiri Kick-off

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:37 WIB

Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:43 WIB

Bencana Mengintai Lampung, Proyek Air Bersih BPBD Diterpa Isu Miring

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com