Pendidik: Profesi yang Diperintahkan Allah
Oleh: M. Abdullah Umar
Di tengah zaman ketika profesi sering diukur dari besarnya gaji, tingginya jabatan, atau gemerlapnya popularitas, ada satu profesi yang sering berjalan sunyi. Ia tidak selalu menjadi berita utama. Tidak pula selalu mendapat penghargaan yang layak. Namun justru profesi itulah yang sejak awal diperintahkan oleh Allah: menjadi pendidik.
Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan peradaban.
Bukankah wahyu pertama yang turun bukanlah perintah berdagang, berpolitik, atau membangun istana? Allah memilih satu kata yang sederhana tetapi mengguncang sejarah manusia: “Iqra'”—Bacalah.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi sama. Peradaban Islam dibangun bukan pertama-tama oleh pedang, melainkan oleh pena. Bukan oleh kekuatan otot, melainkan oleh kekuatan ilmu.
Saya sering membayangkan seorang guru di pelosok desa. Ia berangkat pagi dengan sepeda tua, menembus jalan berlumpur, mengajar di ruang kelas yang catnya mulai pudar. Mungkin tak ada kamera yang menyorotnya. Tak ada penghargaan yang menunggunya. Namun setiap huruf yang ia ajarkan sesungguhnya sedang menggerakkan roda masa depan bangsa.
Karena mendidik bukan hanya memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Mendidik adalah menyalakan harapan. Menanam mimpi. Membantu seorang anak menemukan alasan mengapa ia harus bangun setiap pagi dan percaya bahwa hidupnya berarti.
Allah sendiri memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik pertama. Kepada Adam, Allah mengajarkan nama-nama benda. Kepada manusia, Allah mengajarkan apa yang tidak diketahuinya. Maka setiap guru yang mengajar dengan ikhlas sesungguhnya sedang berjalan di jalan yang telah Allah bentangkan sejak awal penciptaan manusia.
Ironisnya, di zaman modern ini profesi guru sering dipandang sebelah mata. Banyak anak muda bercita-cita menjadi apa saja, tetapi sedikit yang bercita-cita menjadi guru. Padahal di tangan gurulah lahir dokter yang menyembuhkan, insinyur yang membangun jembatan, pemimpin yang mengatur negara, dan ulama yang menerangi umat.
Tidak ada profesi hebat tanpa seorang guru di belakangnya.
Karena itu, jika ada yang bertanya profesi apa yang paling dekat dengan tugas para nabi, maka jawabannya adalah pendidik. Sebab para nabi datang untuk mengajar, membimbing, dan memuliakan manusia dengan ilmu.
Maka ketika seorang guru berdiri di depan kelas, sesungguhnya ia tidak hanya sedang menyampaikan materi pelajaran. Ia sedang melanjutkan estafet panjang para pembawa cahaya.
Dan mungkin, di hadapan Allah, kapur tulis yang digunakan dengan ikhlas untuk mengajar seorang anak akan lebih berharga daripada banyak hal yang tampak megah di mata manusia.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar tidak lahir dari gedung-gedung yang tinggi, melainkan dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi guru-guru yang percaya bahwa mendidik adalah ibadah, dan bahwa profesi pendidik adalah salah satu perintah Allah yang paling mulia dalam kehidupan manusia.
Penulis : M. Abdullah Umar









