Gejolak Timur Tengah Bayangi Harga Emas, Ini Prediksi Analis
Kompastuntas.com— Jakarta, Harga emas dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Sejumlah analis menilai logam mulia itu berpotensi melanjutkan koreksi sebelum kembali menemukan momentum penguatan.
Mengacu pada data Kitco, Selasa, 19 Mei 2026, harga emas spot tercatat melemah 0,39 persen ke level US$ 4.547,80 per troy ounce.
Kepala Pengembangan Bisnis XS.com, Simon-Peter Massabni, mengatakan harga emas saat ini masih bertahan sedikit di atas level US$ 4.500 per troy ounce, mendekati titik terendah yang tercatat sepanjang Mei.
Menurut dia, tekanan terhadap harga emas masih mungkin berlanjut dalam beberapa hari ke depan, terutama seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Harga emas berpotensi turun menuju area support di kisaran US$ 4.538 per troy ounce, bahkan bisa bergerak di bawah level US$ 4.500,” ujar Massabni.
Meski demikian, ia menilai peluang rebound masih terbuka. Harga emas diperkirakan dapat kembali menguat menembus zona resistensi US$ 4.597 hingga US$ 4.670 per troy ounce.
Jika momentum berlanjut, emas disebut berpotensi bergerak menuju level US$ 4.744 hingga US$ 4.800 per troy ounce.
Massabni menilai risiko utama yang memengaruhi pasar emas saat ini berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut kembali menjadi perhatian setelah otoritas keamanan tertinggi Iran mengumumkan pembentukan Otoritas Selat Teluk Persia untuk mengatur operasi di kawasan Hormuz.
Di saat bersamaan, negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran disebut masih menghadapi hambatan.
Namun, kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik dinilai turut memengaruhi ekspektasi inflasi global. Kondisi itu berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi dan memperkuat spekulasi pasar mengenai arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
“Penguatan harga minyak telah mengimbangi permintaan aset safe haven seperti emas,” kata Massabni.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk indeks pasar perumahan dan risalah rapat Federal Reserve periode April 2026. Data tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga, terutama di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi
Editor : Hengki Utama
Sumber Berita: Investor.id









