Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 4 April 2026 - 11:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, perang selalu menyisakan luka. Itu bukan hal baru. Setiap kali perang pecah, yang rusak bukan hanya bangunan atau jalan, tetapi juga hidup orang-orang biasa yang sebenarnya hanya ingin menjalani hari dengan tenang. Mereka yang tadinya bekerja, sekolah, pulang ke rumah, dan berkumpul dengan keluarga, tiba-tiba harus hidup dalam ketakutan.

Itulah yang kembali terjadi di Timur Tengah. Sejak akhir Februari 2026, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu balasan yang lebih luas. Rudal diluncurkan, drone diterbangkan, sirene berbunyi di banyak tempat, dan suasana mencekam kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di Iran, korban terus bertambah. Walaupun yang sering disebut sebagai sasaran adalah fasilitas militer, kenyataannya warga sipil tetap menjadi pihak yang paling rentan.

Mereka tidak ikut membuat keputusan perang, tetapi justru sering menjadi orang pertama yang merasakan akibatnya. Banyak keluarga yang mendadak kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, atau kehilangan rasa aman yang selama ini mereka anggap biasa.

Di pihak lain, Israel juga menghadapi serangan balasan yang menimbulkan korban dan kerusakan. Karena itu, kalau kita berbicara tentang perang, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai soal serangan dan balasan. Ada kehidupan manusia yang ikut hancur di dalamnya. Ada orang-orang yang setiap malam tidur dengan cemas. Ada anak-anak yang tumbuh dalam suasana takut. Ada keluarga yang hidupnya berubah hanya dalam hitungan menit.

Konflik ini juga tidak bisa lagi dipahami sebagai urusan dua negara semata. Dampaknya menjalar ke banyak hal seperti stabilitas kawasan, perdagangan, energi, bahkan kondisi ekonomi dunia.

Sesuatu yang meledak di satu tempat bisa menimbulkan getaran di tempat lain. Orang yang tinggal jauh dari wilayah perang pun tetap bisa merasakan dampaknya, baik secara ekonomi maupun psikologis, karena dunia hari ini saling terhubung.
Tetapi di tengah semua itu, biasanya muncul satu pertanyaan yang sulit dihindari yaitu “di mana Tuhan ketika semua ini terjadi?”
Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi.

Baca Juga :  Penerbitan HGU SGC Kangkangi Kemenhan RI, Kejagung di Desak Periksa Mentri ATR/BPN

Ia sering muncul bukan karena orang kehilangan iman, tetapi justru karena ia sedang berhadapan dengan penderitaan yang terasa terlalu besar. Ketika seseorang melihat anak-anak kehilangan orang tua, rumah-rumah hancur, atau keluarga tercerai-berai, wajar kalau hatinya tidak langsung tenang.

Ada luka yang membuat manusia bertanya dengan cara yang sangat jujur, bahkan kadang terdengar seperti protes.
Pertanyaan itu menjadi semakin berat ketika kita melihat Palestina. Selama bertahun-tahun, penderitaan di sana seperti tidak pernah benar-benar selesai.

Banyak orang hidup dalam keadaan yang serba tidak pasti. Mereka tidak tahu apakah rumah mereka masih akan utuh esok hari, apakah keluarga mereka akan tetap bersama, atau apakah kehidupan akan pernah kembali normal.

Yang paling menyedihkan tentu adalah anak-anak. Mereka seharusnya tumbuh dengan pengalaman yang wajar: belajar, bermain, bercanda, dan merasa aman di dekat keluarganya. Namun terlalu banyak anak di wilayah konflik justru tumbuh bersama suara ledakan, pengungsian, dan kehilangan.

Mereka dipaksa mengenal ketakutan pada usia yang seharusnya masih dipenuhi rasa ingin tahu dan keceriaan.
Kalau kita jujur, dalam situasi seperti ini, menggugat Tuhan memang terasa mudah.

Saat hati sedang remuk, manusia tidak selalu mampu bertanya dengan tenang. Kadang pertanyaan itu keluar dalam bentuk marah, kecewa, bingung, atau diam yang panjang. Dan itu tidak aneh.

Itu bagian dari cara manusia merespons luka. Namun setelah itu, ada satu hal penting yang juga perlu kita pikirkan “jangan-jangan yang seharusnya lebih dulu kita pertanyakan bukan Tuhan, melainkan manusia sendiri.”

Sebab perang tidak terjadi begitu saja. Rudal tidak meluncur dengan sendirinya. Semua itu lahir dari keputusan manusia.

Ada perencanaan, ada kepentingan, ada ambisi, ada kekuasaan, dan ada pilihan-pilihan yang pada akhirnya dibayar dengan nyawa orang lain. Jadi ketika perang terus berulang, masalahnya bukan semata-mata karena dunia ini penuh penderitaan, tetapi juga karena manusia terus menciptakan sebab-sebab penderitaan itu.

Baca Juga :  Kisah Haru Pak Tarwono, Rumah Reyot Dibongkar Oleh Satgas TMMD KE-124 Kodim 0422/Lampung Barat

Di sinilah letak persoalannya. Kadang kita terlalu cepat membawa pertanyaan ke wilayah teologis, tetapi terlalu lambat membongkar kenyataan yang sangat jelas di depan mata: ada sistem yang rusak, ada kekuasaan yang tidak adil, ada kepentingan politik yang kejam, dan ada dunia internasional yang sering kali gagal bertindak ketika korban sudah terlalu banyak.
Artinya, pertanyaan “di mana Tuhan?” memang penting. Tetapi pertanyaan “di mana hati nurani manusia?” juga tidak kalah penting.

Dalam pemikiran Al-Ghazali, dunia ini memang bukan tempat seluruh keadilan diselesaikan. Dunia adalah ruang ujian. Manusia diberi akal, kehendak, dan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Namun justru karena manusia diberi kebebasan, maka manusia juga punya kemungkinan untuk menyalahgunakannya.

Akal bisa dipakai untuk membangun, tetapi juga bisa dipakai untuk menghancurkan. Kekuasaan bisa dipakai untuk melindungi, tetapi juga bisa berubah menjadi alat penindasan. Kebebasan bisa melahirkan tanggung jawab, tetapi juga bisa dipakai untuk melukai sesama.

Dalam banyak hal, perang adalah bukti bahwa manusia sering gagal menggunakan anugerah itu dengan benar.
Karena itu, mungkin pertanyaan kita memang perlu diarahkan ulang.

Bukan hanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” tetapi juga, “Mengapa manusia terus menciptakan kondisi yang membuat perang selalu terulang?”

Kalau pertanyaan kedua ini tidak dijawab dengan serius, maka tragedi akan terus datang dengan nama yang berbeda-beda.

Tempatnya bisa berganti, pelakunya bisa berubah, tetapi pola lukanya akan tetap sama. Akan selalu ada orang-orang yang kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan kehilangan masa depan.

Mungkin kita memang tidak akan pernah memiliki jawaban yang benar-benar tuntas untuk semua penderitaan ini. Tetapi setidaknya kita perlu jujur melihat satu hal, yakni terlalu banyak luka di bumi ini lahir bukan karena Tuhan diam, melainkan karena manusia gagal menjaga nuraninya sendiri.

M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIES ALIFA PRINGSEWU

Berita Terkait

Program Pos Bantuan Hukum Desa di Lampung Utara Dapat Apresiasi Nasional
Golok Ciomas, Warisan Leluhur yang Jadi Simbol Persatuan di HPN Banten
Meriahnya HPN Banten, Dari Panggung Budaya hingga Penguatan Peran Pers
Penerbitan HGU SGC Kangkangi Kemenhan RI, Kejagung di Desak Periksa Mentri ATR/BPN
Gubernur Lampung: Ijtima’ Ulama Dunia Dorong Perputaran Ekonomi Masyarakat Kota Baru
HA IPB Lampung Rajut Kebersamaan Lintas Generasi, Dorong Kontribusi Nyata untuk Lampung Maju
Lembah Hijau, Lembah Kematian: “Bakas”, Harimau Sumatera Agresif yang Berujung Tragis
Aktivis Germasi Desak Kejagung “Jangan Lindungi Mafia Hutan!”
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 April 2026 - 11:04 WIB

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:38 WIB

Program Pos Bantuan Hukum Desa di Lampung Utara Dapat Apresiasi Nasional

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:52 WIB

Golok Ciomas, Warisan Leluhur yang Jadi Simbol Persatuan di HPN Banten

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:44 WIB

Meriahnya HPN Banten, Dari Panggung Budaya hingga Penguatan Peran Pers

Selasa, 2 Desember 2025 - 18:52 WIB

Penerbitan HGU SGC Kangkangi Kemenhan RI, Kejagung di Desak Periksa Mentri ATR/BPN

Berita Terbaru

Nasional

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Sabtu, 4 Apr 2026 - 11:04 WIB

Pemerintahan

16 KM Jalan Di Lampung Sudah Mulai di Beton

Jumat, 3 Apr 2026 - 19:12 WIB