Banjir Datang Lagi, Warga Bandar Lampung Tenggelam dalam Janji

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 07:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir Datang Lagi, Warga Bandar Lampung Tenggelam dalam Janji

 

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, hujan turun seperti cerita lama yang berulang di Kota Tapis Berseri. Langit gelap menggantung sejak siang, dan ketika rintik berubah menjadi deras, warga Bandar Lampung tahu air akan datang lagi.

Bukan sekadar menggenang, tetapi menguji kesabaran sebuah kota yang terlalu sering dibiarkan berdamai dengan banjir.

Pada Jumat siang, 6 Maret 2026, air kembali menguasai jalan-jalan, gang sempit, dan perumahan warga. Drainase yang tak sanggup menampung derasnya hujan berubah menjadi sungai dadakan. Dalam hitungan jam, kota yang biasanya riuh oleh kendaraan berubah menjadi lautan kecil yang menelan harapan warga.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyebutkan banjir melanda 38 titik di Bandar Lampung. Di balik angka itu, ada kisah yang lebih getir: tiga warga terseret arus.

Analis Bencana BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa dua korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. “Korban meninggal berinisial S (10) dan satu orang dewasa yang masih belum teridentifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, seorang anak laki-laki berusia enam tahun masih dalam pencarian, menyisakan kecemasan yang menggantung di antara keluarga dan tim penyelamat.

Banjir kali ini bukan sekadar bencana alam. Ia menjadi pengingat pahit atas janji yang pernah diucapkan di panggung politik beberapa tahun lalu.
Saat mencalonkan diri sebagai wali kota lima tahun silam, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana pernah menyampaikan komitmen tegas untuk menuntaskan persoalan banjir yang selama ini menjadi luka lama kota ini.

Baca Juga :  Rosim Nyerupa Minta Kapolres dan Dandim Way Kanan Diganti

Kala itu ia menjelaskan bahwa banjir terjadi karena aliran air dari dataran tinggi yang mengarah ke kota. Solusi yang ditawarkan terdengar sederhana namun menjanjikan: membelokkan aliran sungai, memperbesar talud, serta memperkuat bronjong agar air tidak lagi meluap ke permukiman warga.

“Air yang banyak dikirimkan itu melalui dataran tinggi makanya ke kita. Jika nanti saya jadi wali kota, akan saya ambil solusi bagaimana caranya supaya tidak banjir lagi. Nanti kalinya akan kita pengkolkan, terus juga nanti talud akan kita perbesar,” ujarnya kala itu dengan nada optimistis.

Namun waktu berjalan. Janji itu perlahan tenggelam dalam rutinitas birokrasi, sementara air terus datang setiap musim hujan. Banjir yang terjadi pada Jumat sore menjadi semacam antiklimaks dari komitmen tersebut.

Talud yang dijanjikan tak banyak terlihat berubah, sungai tetap mengalir dengan jalurnya yang lama, dan bronjong yang diharapkan menjadi benteng kota tak pernah cukup kuat menahan limpahan air.

Ironisnya, banjir kini bukan lagi kejadian musiman yang jarang terjadi. Ia telah menjadi ritual tahunan yang hampir bisa diprediksi. Di sejumlah wilayah, air menggenangi jalan utama, perumahan, hingga fasilitas umum.

Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Jalan Pulau Singkep Sukarame Baru, Jalan Pangeran Senopati Korpri Jaya, Jalan Taurus Rajabasa Nunyai, Jalan Ratu Dibalau Tanjungsenang, Jalan Gatot Subroto Enggal, hingga kawasan Wayhalim dan Sukarame.

Tak hanya kawasan padat penduduk, genangan juga terjadi di titik-titik strategis kota seperti depan Hotel Asoka Way Halim, kawasan Bank Unila, hingga sejumlah perumahan di Campang Raya dan Jagabaya.

Totalnya, 38 lokasi tercatat terdampak banjir. Angka yang bukan kecil untuk ukuran sebuah kota yang telah lama menjadikan penanganan banjir sebagai agenda prioritas.

Baca Juga :  KPK Tegaskan, Pentingnya Pengamanan Aset Daerah

Setiap banjir datang, narasi yang sama kembali terdengar: hujan ekstrem, kiriman air dari dataran tinggi, dan kapasitas drainase yang tak memadai. Namun bagi warga, alasan-alasan itu terasa semakin usang.

Sebab banjir bukan hanya soal curah hujan, melainkan juga soal perencanaan kota, pengendalian tata ruang, serta keberanian mengambil keputusan besar untuk menata sungai dan drainase secara menyeluruh.

Di tengah kota yang terus berkembang, pembangunan perumahan dan pusat bisnis seringkali berjalan lebih cepat dibandingkan pembangunan sistem pengendalian air. Sungai menyempit, ruang resapan menghilang, dan drainase tak pernah benar-benar diperbarui secara sistemik.

Ketika hujan datang, semua kelemahan itu berkumpul dalam satu peristiwa: banjir. Tragedi yang menelan korban jiwa pada Jumat sore seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah kota. Bukan sekadar untuk melakukan penanganan darurat, tetapi untuk kembali membuka lembar lama tentang janji yang pernah diucapkan kepada publik. (***)

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

PDI-P Bandar Lampung Bagikan Ribuan Masker dan Semprot Jalan Dampak Abu Vulkanik
Pengurus Bundokanduang Minangkabau Lampung 2026–2030 Resmi Dikukuhkan
Gubernur Lampung Tampil dengan Hanuang Bani, Simbol Gagah dan Berani Mengangkat Marwah Budaya Lampung
Colour Fun Gen-Z Meriah di Stadion Sukung Kotabumi, Aprozi Alam Ungkap 12 Ribu Beasiswa dan Program Infrastruktur Lampura
Angkasa Pura Bandara Radin Inten II Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung
Water Bombing Serbu Titik Api Terakhir di Way Kambas, Helikopter Didatangkan dari Sumsel
Tim Alfa TNI Diterjunkan Padamkan Karhutla di Way Kambas
Karang Taruna Lampung dan Ribuan Warga Meriahkan Ruwat Laut di Ketapang
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 19:11 WIB

PDI-P Bandar Lampung Bagikan Ribuan Masker dan Semprot Jalan Dampak Abu Vulkanik

Senin, 7 September 2026 - 17:14 WIB

Pengurus Bundokanduang Minangkabau Lampung 2026–2030 Resmi Dikukuhkan

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Gubernur Lampung Tampil dengan Hanuang Bani, Simbol Gagah dan Berani Mengangkat Marwah Budaya Lampung

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:18 WIB

Colour Fun Gen-Z Meriah di Stadion Sukung Kotabumi, Aprozi Alam Ungkap 12 Ribu Beasiswa dan Program Infrastruktur Lampura

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Angkasa Pura Bandara Radin Inten II Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung

Berita Terbaru

Pemerintahan

Survey Rakata : Mirza-Jihan Raih Kepuasan Publik Diatas 80 Persen

Sabtu, 19 Sep 2026 - 08:19 WIB

Uncategorized

Welly Diborgol, Keluar dari Ruang Ditreskrimsus Polda Lampung

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:54 WIB

Nasional

36 Tahun Berpencar, Aktivis HUMANIKA Kembali Bertemu

Jumat, 18 Sep 2026 - 13:51 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com