Visum Berbayar di RSUDAM Antara Pergub, Birokrasi, dan Nasib Korban Laki-Laki

Avatar photo

- Penulis

Senin, 6 Oktober 2025 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Visum Berbayar di RSUDAM Antara Pergub, Birokrasi, dan Nasib Korban Laki-Laki

 

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, polemik tarif visum di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) kembali mencuat setelah seorang warga Bandar Lampung mengaku diminta membayar Rp500 ribu untuk proses visum, meski sudah membawa surat resmi dari kepolisian.

Kasus ini menyingkap wajah lain birokrasi layanan publik: aturan memang ada, tapi empati kadang tertinggal.

Direktur RSUDAM dr. Imam Gozali menegaskan, tarif visum sudah diatur dalam Peraturan Gubernur Lampung Nomor 18 Tahun 2023 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek.

“Untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, layanan visum gratis karena sudah ditanggung Dinas PPPA. Tapi untuk tindak pidana lain, tarifnya tetap mengacu Pergub,” ujarnya, Minggu (5/10).

Imam menjelaskan, layanan forensik dan kamar jenazah dikategorikan sebagai layanan umum berbayar BLUD dan tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Artinya, bagi korban penganiayaan, perkelahian, atau tindak pidana lain di luar kekerasan berbasis gender, biaya visum tetap dibebankan secara pribadi.

Baca Juga :  Muswil IV KAHMI Lampung: Dr. Budiyono Nahkodai Presidium, FORHATI Lampung Ikut Ditetapkan

Korban Laki-Laki di Titik Buta Kebijakan

Di sinilah celah kebijakan itu terasa. Pembebasan biaya visum hanya berlaku bagi perempuan dan anak, sesuai nota kesepahaman (MoU) RSUDAM dengan Dinas PPPA Provinsi Lampung.

Namun, bagi korban laki-laki yang juga bisa menjadi korban kekerasan tidak ada mekanisme pembebasan biaya yang serupa.

Padahal, dalam banyak kasus, laki-laki kerap enggan melapor karena stigma sosial. Ketika akhirnya berani mencari keadilan, mereka justru dihadapkan pada tagihan layanan visum.

Minimnya sosialisasi mengenai aturan ini membuat publik sulit membedakan antara hak, kewajiban, dan batas perlakuan yang seharusnya setara di mata hukum.

“Banyak yang tidak tahu kalau yang gratis itu hanya untuk perempuan dan anak. Akhirnya korban laki-laki merasa diperlakukan tidak adil,” ujar seorang aktivis hukum di Bandar Lampung yang enggan disebut namanya.

Aturan Diketahui, Tapi Tak Dihidupi

Bagi RSUDAM, semua berjalan sesuai koridor hukum. Namun di lapangan, warga seperti Nul (26), korban pengeroyokan di Bandar Lampung, justru merasakan sisi pahit birokrasi itu.

Baca Juga :  DPC AJP Dorong Inspektorat untuk melakukan Audit Investigasi pada UPT Puskesmas Kenali

Meski membawa surat pengantar dari Polresta Bandar Lampung—LP/B/1455/X/2025/SPKT/Polresta Bandar Lampung/Polda Lampung, ia tetap diminta membayar Rp500 ribu untuk keperluan visum.

Kasus Nul menjadi cermin bagaimana regulasi bisa terasa dingin ketika tidak disertai kepekaan sosial.

RSUDAM mungkin benar secara administratif, tapi gagal membangun pemahaman publik bahwa keadilan harusnya bisa diakses tanpa memandang jenis kelamin korban.

Secara hukum, Pergub Nomor 18 Tahun 2023 memang memberi dasar tarif yang jelas. Tetapi secara moral, kebijakan ini membuka ruang tafsir diskriminatif.
Negara seolah memetakan empati dengan jenis kelamin perempuan dilindungi, laki-laki dibiayai sendiri.

Minimnya sosialisasi dari pemerintah daerah dan rumah sakit membuat publik tidak paham haknya. Akibatnya, korban seperti Nul tak hanya menanggung luka fisik, tapi juga luka administratif.

Ketika rumah sakit pemerintah terlalu sibuk mengutip Pergub, dan lupa mengutip rasa keadilan, yang tercederai bukan sekadar korban tapi juga kepercayaan publik pada lembaga negara.

Editor : Hengki Utama

Sumber Berita: Kumparan.com

Berita Terkait

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Kunjungi RSUD Abdul Moeloek
RSUD Abdul Moeloek Tetap Siaga di Libur Lebaran 2026
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Perkuat Layanan Kesehatan Anak Lewat Poli Eksekutif Ramah Keluarga
DPC AJP Dorong Inspektorat untuk melakukan Audit Investigasi pada UPT Puskesmas Kenali
Pengamat Kritik Keras Krisis Anggaran Dinkes Lampung Kalau Bikin Gaduh, Ganti Saja Kadisnya!
Sektor Kesehatan Merupakan Layanan Vital, Dinkes Klaim Krisis Anggaran
Vaksinasi Dewasa Hadir di RSUD Abdul Moeloek
Pemprov Mulai Vaksinasi PMK 2026: 381.150 Dosis Disalurkan ke 15 Kabupaten/Kota
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 08:33 WIB

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Kunjungi RSUD Abdul Moeloek

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:09 WIB

RSUD Abdul Moeloek Tetap Siaga di Libur Lebaran 2026

Selasa, 10 Maret 2026 - 14:37 WIB

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Perkuat Layanan Kesehatan Anak Lewat Poli Eksekutif Ramah Keluarga

Selasa, 3 Maret 2026 - 06:06 WIB

DPC AJP Dorong Inspektorat untuk melakukan Audit Investigasi pada UPT Puskesmas Kenali

Kamis, 26 Februari 2026 - 21:56 WIB

Pengamat Kritik Keras Krisis Anggaran Dinkes Lampung Kalau Bikin Gaduh, Ganti Saja Kadisnya!

Berita Terbaru

Pemerintahan

Hak Insentif Nakes Sudah Dibayarkan

Rabu, 15 Apr 2026 - 21:52 WIB

Pemerintahan

Belanja Makan dan Minum Dewan Balam di Mark Up

Rabu, 15 Apr 2026 - 21:50 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com