STIES Alifa Gelar Bimtek SISTER, SINTA, dan Google Scholar: Akademisi di Bawah Tekanan Regulasi yang Bergerak Cepat

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 24 Agustus 2025 - 19:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

STIES Alifa Gelar Bimtek SISTER, SINTA, dan Google Scholar: Akademisi di Bawah Tekanan Regulasi yang Bergerak Cepat

 

Kompastuntas.com–Pringsewu, bagi dosen di kampus kecil, regulasi kementerian yang berubah cepat sering terasa seperti gelombang pasang: datang tiba-tiba, menghantam tanpa kompromi. Mereka dituntut menyesuaikan diri, memahami pola baru, dan merancang strategi tepat, meski kadang instruksi teknis datang belakangan.

Situasi itu tampak jelas dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) SISTER, SINTA, dan Google Scholar yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Syariah (STIES) Alifa Pringsewu pada Minggu, 24 Agustus 2025.

Di era serba digital, kiprah dosen tak cukup di ruang kuliah. Kinerja mereka kini diukur dengan parameter dingin: jumlah publikasi, indeks sitasi, hingga rekam jejak penelitian. Sistem daring dari SISTER, SINTA, sampai Google Scholar menjadi instrumen wajib yang menentukan karier akademik.

“Ini bukan hanya soal administrasi, melainkan soal marwah akademik,” ujar Prof. Andi Thahir, M.A., E.d.D, narasumber utama yang diundang khusus. Ucapannya terdengar seperti alarm, mengingatkan dosen bahwa keberlangsungan tridarma perguruan tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian bergantung pada cara STIES Alifa Gelar Bimtek SISTER, SINTA, dan Google Scholar: Akademisi di Bawah Tekanan Regulasi yang Bergerak Cepat. Di Pringsewu, bagi dosen STIES Alifa, regulasi kementerian yang berubah cepat sering terasa seperti gelombang pasang: datang tiba-tiba, menghantam tanpa kompromi.

Mereka dituntut menyesuaikan diri, memahami pola baru, dan merancang strategi tepat, meski kadang instruksi teknis datang belakangan.

Situasi itu tampak jelas dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) SISTER, SINTA, dan Google Scholar yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Syariah (STIES) Alifa Pringsewu pada Minggu, 24 Agustus 2025. Aula kampus penuh oleh puluhan dosen yang tak sekadar hadir, melainkan serius mengikuti setiap detail penjelasan.

Baca Juga :  Pengurus IKA UNTIRTA Lampung Resmi Dilantik, Fokus BLK, UMKM, dan Pengelolaan Sampah

Di era serba digital, kiprah dosen tak cukup di ruang kuliah. Kinerja mereka kini diukur dengan parameter dingin jumlah publikasi, indeks sitasi, hingga rekam jejak penelitian. Sistem daring dari SISTER, SINTA, sampai Google Scholar menjadi instrumen wajib yang menentukan karier akademik.

“Ini bukan hanya soal administrasi, melainkan soal marwah akademik,” ujar Prof. Andi Thahir, M.A., E.d.D, narasumber utama yang diundang khusus. Ucapannya terdengar seperti alarm, mengingatkan dosen bahwa keberlangsungan tridarma perguruan tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian bergantung pada cara mereka beradaptasi dengan regulasi yang kian kompleks.

Diskusi berjalan hangat, bahkan cenderung intens. Dosen-dosen bertanya mulai dari teknis sederhana menghubungkan akun Google Scholar ke SINTA, hingga strategi mempertahankan konsistensi publikasi di tengah beban kerja pengajaran yang padat.

“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Antusiasme dosen luar biasa. Semoga ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan,” ujar salah satu panitia.

Bagi STIES Alifa, kegiatan ini menjadi langkah strategis. Selain meningkatkan kapasitas dosen, juga menjaga posisi institusi di tengah persaingan antarperguruan tinggi. Sebab, kampus yang lamban menyesuaikan diri akan mudah tertinggal, sementara regulasi kementerian terus berlari.

Di balik suasana akademik yang tampak tertib, ada kenyataan getir: dosen kini dituntut lebih lihai menyusun strategi digital dibanding sekadar mengajar di kelas. Tridarma perguruan tinggi tak lagi bisa dijalankan dengan pola lama. Ia butuh kecepatan membaca arah kebijakan, ketepatan strategi, dan keberanian untuk konsisten menulis dan meneliti.

Baca Juga :  UIN Dorong Warga Kota Agung Barat Berani Melapor Kasus Kekerasan

Bimtek di Pringsewu ini memang bukan jawaban final. Namun ia menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus regulasi dan metrik digital, dosen hanya punya dua pilihan: berbenah atau tergilas.mereka beradaptasi dengan regulasi yang kian kompleks.

Diskusi berjalan hangat, bahkan cenderung intens. Dosen-dosen bertanya mulai dari teknis sederhana menghubungkan akun Google Scholar ke SINTA, hingga strategi mempertahankan konsistensi publikasi di tengah beban kerja pengajaran yang padat.

“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Antusiasme dosen luar biasa. Semoga ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan,” ujar salah satu panitia.

Bagi STIES Alifa, kegiatan ini menjadi langkah strategis. Selain meningkatkan kapasitas dosen, juga menjaga posisi institusi di tengah persaingan antarperguruan tinggi. Sebab, kampus yang lamban menyesuaikan diri akan mudah tertinggal, sementara regulasi kementerian terus berlari.

Di balik suasana akademik yang tampak tertib, ada kenyataan getir: dosen kini dituntut lebih lihai menyusun strategi digital dibanding sekadar mengajar di kelas. Tridarma perguruan tinggi tak lagi bisa dijalankan dengan pola lama. Ia butuh kecepatan membaca arah kebijakan, ketepatan strategi, dan keberanian untuk konsisten menulis dan meneliti.

Bimtek di Pringsewu ini memang bukan jawaban final. Namun ia menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus regulasi dan metrik digital, dosen hanya punya dua pilihan: berbenah atau tergilas.

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Habiburokhman: Jabatan Ketua Komisi III DPR Bisa Berakhir, Kader HMI Selamanya
500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?
Selamat, SMA Negeri 1 Kota Bumi Ditunjuk Menjadi Penyelenggara Program SMA Terbuka
Tak Sekadar Ijazah, Ikaperta Unila Gembleng Talenta Muda Hadapi Dunia Kerja
Bandar Lampung — Kabar membanggakan datang dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela).
733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026
Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT
Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:22 WIB

500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:25 WIB

Selamat, SMA Negeri 1 Kota Bumi Ditunjuk Menjadi Penyelenggara Program SMA Terbuka

Senin, 28 September 2026 - 11:27 WIB

Tak Sekadar Ijazah, Ikaperta Unila Gembleng Talenta Muda Hadapi Dunia Kerja

Minggu, 27 September 2026 - 18:56 WIB

Bandar Lampung — Kabar membanggakan datang dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com