Nanomaterial Rusia Diuji di Laut Lampung: UIN Raden Intan Bidik Terobosan Anti-Fouling Tropis
Kompastuntas.com—Bandar Lampung, tanpa banyak gembar-gembor, UIN Raden Intan Lampung bersama Tomsk State University (TSU) Rusia mulai menguji teknologi anti-fouling berbasis nanomaterial di Pantai Tiska. Selembar pelat berlapis cat biosidal ditenggelamkan pada kedalaman dua meter—sebuah eksperimen sederhana, namun menyimpan taruhan besar: mampukah material yang dikembangkan di iklim subtropis bertahan di ganasnya laut tropis?
Teknologi anti-fouling adalah perisai utama kapal dari tempelan alga, teritip, hingga jamur yang memperlambat laju dan memboroskan bahan bakar. TSU mengklaim cat mereka mengandung agen biosidal yang bukan hanya menahan pertumbuhan organisme laut, tetapi juga menghambat korosi. Lampung menjadi ajang uji paling krusial untuk memastikan klaim itu bukan sekadar jargon laboratorium.
Rektor UIN RIL, Prof. Wan Jamaluddin, menegaskan riset ini sebagai lompatan nyata internasionalisasi kampus. “Kami tidak ingin berhenti pada slogan. Riset harus memberi dampak langsung bagi dunia maritim,” katanya. Tahun 2025, menurutnya, adalah fase pembuktian bahwa UIN RIL mampu bermain di gelanggang riset global.
Dari pihak TSU, Wakil Rektor Kerja Sama Internasional Artyom Rykun menyebut kondisi tropis sebagai “medan tempur sesungguhnya”. Material yang stabil di Rusia belum tentu sanggup bertahan di suhu tinggi, kelembapan ekstrem, dan laju pertumbuhan biota tropis yang agresif. Jika teknologi ini lolos uji, manfaatnya tak hanya untuk kapal, tetapi juga pelabuhan, dermaga, hingga infrastruktur pesisir.
Bagi UIN RIL, penenggelaman pelat di Pantai Tiska mungkin tampak sebagai langkah kecil. Namun, riset ini menandai ambisi yang lebih besar: menjadikan Lampung pusat pengujian material tropis dan menempatkan kampus hijau itu sebagai pemain baru dalam inovasi maritim.
Satu pesan ingin mereka sampaikan: riset Indonesia tak lagi sekadar mengekor. Kali ini, kita mulai menantang medan tropis dengan taring sendiri.









