Ketua Harian Ikaperta Dukung Pemerintah HPP Sebesar Rp 6.500, Petani Bisa Jadi Pengusaha

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 18 April 2025 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, Ketua Harian Ikatan Alumni Pertanian (Ikaperta) Universitas Lampung, Fahuri Wherlian Ali KM, menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram sebagai langkah cerdas dan tepat sasaran untuk memperkuat posisi petani.

“Ini solusi cerdas. Dengan HPP Rp6.500, petani bisa naik kelas menjadi pengusaha dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk subsidi yang jumlahnya terbatas,” ujar Wherlian kepada wartawan, Jumat, 18 April 2025.

Namun, wherli menyoroti tantangan serius di lapangan, terutama pada sisi penyerapan gabah oleh pembeli. Ia menyebut, realitasnya, sebagian besar pelaku usaha penggilingan padi masih kesulitan menyerap gabah sesuai HPP karena keterbatasan kapasitas dan efisiensi mesin.

“Bulog memang mampu menyerap sekitar 20 persen. Itu karena fungsinya jelas, untuk cadangan pangan nasional, bantuan bencana, dan bantuan sosial. Tapi 80 persen lainnya diserahkan ke pasar,” jelasnya.

Baca Juga :  Peran Strategis Kebun Raya bagi Provinsi Lampung: Pilar Konservasi, Edukasi, dan Keberlanjutan

Pasar yang dimaksud, lanjutnya, adalah penggilingan padi yang tergabung dalam Perpadi (Perhimpunan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia) serta perusahaan besar. Di sinilah masalah utama muncul.

“Mesin penggilingan milik anggota Perpadi banyak yang sudah tua. Rendemen mereka hanya 60–65 persen. Sementara perusahaan besar bisa sampai 75 persen. Ini jelas membuat penggilingan kecil tidak sanggup menyerap gabah dengan harga Rp6.500 karena berpotensi rugi,” ungkapnya.

Wherli mencontohkan, dari 100 kg gabah kering yang digiling RMU dengan rendemen 60%, hanya dihasilkan 60 kg beras. Dengan harga jual beras medium di kisaran Rp12.500 per kg, keuntungan sangat tipis, bahkan bisa rugi.

“Kalau perusahaan besar seperti Wilmar, mereka nyaman karena rendemen tinggi dan bisa menjual beras premium seharga Rp15.800. Wajar kalau Perpadi menjerit. Tapi jangan sampai petani juga ikut menjerit,” tegasnya.

Baca Juga :  Sinergi Pemprov Lampung dan BPKP Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel dan Berintegritas

Sebagai solusi, Wherli mendorong skema kolaborasi antara RMU kecil dan perusahaan besar. RMU sebaiknya hanya menggiling gabah menjadi pecah kulit, lalu menjualnya ke perusahaan besar yang punya mesin modern.

“RMU jangan memaksa memproduksi beras. Fokus di pecah kulit saja. Kalau bisa beli gabah Rp6.500, silakan. Kalau tidak, kerja sama saja,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan nyata berupa kredit lunak kepada RMU di desa-desa guna meng-upgrade teknologi mereka agar rendemen meningkat hingga 72–75 persen.

“Kalau itu dilakukan, semua senang. Petani senang karena harga stabil, PERPADI tenang karena tidak rugi, dan pemerintah berhasil menjaga keseimbangan pasar,” kata Wherli.

Wherli berharap diskursus soal harga gabah tidak hanya berhenti pada kebijakan makro, tetapi juga disertai langkah teknis dan strategis agar petani tetap menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Editor : Hengki Padangratu

Berita Terkait

Dari Kalianda ke Kotabumi Intji Indriati Menutup Satu Bab, Membuka Babak Baru di Lampung Utara
Pemprov Lampung Dorong BRT ITERA Jadi Proyek Percontohan Transportasi Publik Modern
Sekdaprov Marindo Lepas Wartawan PWI Ikuti HPN 2026 di Banten
Dukung Instruksi Presiden, Pemprov Lampung Laksanakan KORVE di Teluk Betung Timur
Dorong Produktivitas ASN, Pemprov Lampung Sosialisasikan Aturan Jam Kerja
Hilirisasi Ayam Terintegrasi Dimulai, Lampung Targetkan Nilai Tambah Peternakan
Sinergi Lintas Sektor, Pemprov Lampung Jaga Pasokan dan Harga Bahan Pangan Jelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 H
Wulan Mirza Sambut Kepulangan Camelia, Anak Pringsewu yang Terlantar di Negeri Jiran
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 21:58 WIB

Dari Kalianda ke Kotabumi Intji Indriati Menutup Satu Bab, Membuka Babak Baru di Lampung Utara

Sabtu, 28 Februari 2026 - 20:44 WIB

Pemprov Lampung Dorong BRT ITERA Jadi Proyek Percontohan Transportasi Publik Modern

Sabtu, 28 Februari 2026 - 20:39 WIB

Sekdaprov Marindo Lepas Wartawan PWI Ikuti HPN 2026 di Banten

Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:37 WIB

Dorong Produktivitas ASN, Pemprov Lampung Sosialisasikan Aturan Jam Kerja

Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:29 WIB

Hilirisasi Ayam Terintegrasi Dimulai, Lampung Targetkan Nilai Tambah Peternakan

Berita Terbaru

Daerah

WLC Lampung Berbagi Sembako Dibulan Penuh Berkah

Minggu, 1 Mar 2026 - 21:01 WIB

Pemerintahan

Sekdaprov Marindo Lepas Wartawan PWI Ikuti HPN 2026 di Banten

Sabtu, 28 Feb 2026 - 20:39 WIB