“Kasus Chromebook: Permintaan Hotman Paris Dinilai Sesatkan Publik”

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 7 September 2025 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Kasus Chromebook: Permintaan Hotman Paris Dinilai Sesatkan Publik”

Kompastuntas.com— Jakarta, pernyataan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kembali memantik kontroversi. Dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hotman meminta agar gelar perkara dilakukan langsung di Istana Negara di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau memang yakin Nadiem tidak bersalah, mari kita gelar perkara di Istana, biar terang benderang di hadapan publik,” ujar Hotman dalam sebuah pernyataan, Jumat (5/9).

Permintaan ini segera menuai kritik. Pasalnya, gelar perkara bukanlah forum politik atau panggung pertunjukan. Itu adalah mekanisme hukum formal yang sudah diatur dalam peraturan resmi.

Respons Kejaksaan

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, menanggapi santai usulan Hotman. Ia menyebut pihaknya tidak bisa berkomentar banyak karena perkara masih dalam tahap penyidikan. Namun, ia menegaskan bahwa semua proses hukum akan berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku.

“Kejaksaan bekerja berdasarkan hukum acara pidana. Prosesnya jelas, tidak bisa dipindah-pindah sesuka hati,” kata Anang.

Dasar Hukum Gelar Perkara

Menurut kajian tim investigasi, gelar perkara diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana. Pasal 31–33 menjelaskan, gelar perkara dilakukan untuk menentukan ada tidaknya tindak pidana, penetapan tersangka, atau penghentian penyidikan.

Baca Juga :  Bongkar Kedok Wartawan Gadungan, Polres Sukabumi Tangkap Pemeras Berkedok Jurnalis dalam Operasi Pekat II Lodaya 2025

Lokasinya pun jelas: di kantor penyidik atau Kejaksaan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Pedoman internal Kejaksaan (JDIH Kejaksaan RI) bahkan menegaskan bahwa gelar perkara tahap penyidikan dilakukan di kantor kejaksaan bukan di Istana, apalagi di hadapan Presiden.

“Tidak ada dasar hukum yang memperbolehkan gelar perkara dilakukan di Istana. KUHAP tidak mengenalnya, Perkapolri juga tidak memberi ruang. Jika dipaksakan, itu justru bisa menyesatkan publik,” ujar seorang pakar hukum acara pidana dari Universitas Indonesia ketika dimintai komentar.

Menghindari Sesat Pikir Publik

Permintaan Hotman Paris dikhawatirkan bisa membentuk persepsi keliru di masyarakat seolah-olah Istana memiliki kewenangan dalam menentukan hasil penyidikan. Padahal, secara prinsip, Istana tidak boleh ikut campur dalam proses hukum.

Baca Juga :  Sebuah sepeda motor Honda Vario 125 milik Tondi Satria Muhammad Nurul, seorang pelajar, dilaporkan hilang dari area parkir Kolam Renang Universitas Lampung

“Kalau logika ini diterima, bayangkan betapa berbahayanya. Setiap kasus besar bisa diminta digelar di Istana, seolah hukum bisa dipertontonkan di panggung politik. Itu bukan hanya menyesatkan, tapi juga menggerus independensi penegakan hukum,” tegas seorang peneliti hukum dari ICW.

Dapat diambil kesimpulan, bahwa gelar perkara adalah domain penyidik dan kejaksaan, bukan ranah presiden atau istana. Dengan demikian, usulan Hotman Paris lebih tepat dilihat sebagai manuver politik hukum ketimbang tawaran solusi yuridis.

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Skandal BPJS di PT CPB Terkuak, Ratusan Pekerja Diduga Dibiarkan Tanpa Jaminan Sosial
MENAKAR KEADILAN DI POLDA LAMPUNG: MENGAPA SANKSI ETIK SAJA TIDAK CUKUP BAGI OKNUM POLISI PENGANIAYA?
Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra Jadi Tersangka Perintangan Kasus CPO
Polda Garap Penjarahan Lahan di Tuba
GERMASI Desak APH Sikat Mafia Hutan Register 43 B
PNS di Metro Tewas Ditembak Usai Cekcok Soal Utang
Kasus Investasi Fiktif Rp 1,4 Miliar Jalan di Tempat,Korban Soroti Kinerja Polda Lampung
Kasus Sudah Setahun P-21, Chairul Anom Minta Polda Lampung Limpahkan Perkara Penguasaan Lahan PT. BMM
Berita ini 83 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:26 WIB

Skandal BPJS di PT CPB Terkuak, Ratusan Pekerja Diduga Dibiarkan Tanpa Jaminan Sosial

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:16 WIB

MENAKAR KEADILAN DI POLDA LAMPUNG: MENGAPA SANKSI ETIK SAJA TIDAK CUKUP BAGI OKNUM POLISI PENGANIAYA?

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:03 WIB

Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra Jadi Tersangka Perintangan Kasus CPO

Senin, 25 Mei 2026 - 15:09 WIB

Polda Garap Penjarahan Lahan di Tuba

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:20 WIB

GERMASI Desak APH Sikat Mafia Hutan Register 43 B

Berita Terbaru

Internasional

Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:49 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com