Festival Foto Akhir Tahun IJP Lampung: Ketika Gambar Menjadi Bukti Kerja
Kompastuntas.com, Bandar Lampung — Pendingin ruangan di Sula Abung, Kantor Gubernur Lampung, belum sepenuhnya menghalau lembap pagi. Namun kilatan kamera lebih dulu memecah suasana. Festival Foto Akhir Tahun Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung resmi dimulai.
Bukan sekadar pameran visual, festival ini menjadi ruang refleksi: sejauh mana kerja pemerintah benar-benar sampai ke mata publik.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menyebut foto sebagai jendela. Melalui gambar, publik bisa melihat apa yang dikerjakan pemerintah tanpa harus menunggu laporan berlembar-lembar atau pidato seremonial.
“Masyarakat berhak tahu apa yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Lampung,” kata Abung dalam sambutannya, Senin pagi, 29 Desember 2025.
Ia menyayangkan masih adanya organisasi perangkat daerah (OPD) yang minim publikasi. Di tengah era digital, sebagian akun resmi OPD bahkan terakhir aktif pada 2024, padahal tahun hampir berganti.
“Padahal semua sudah dalam genggaman. Sayang jika kinerja tidak terdokumentasi,” ujarnya.
Festival foto ini, menurut Abung, bukan semata lomba. Ia lebih menyerupai pengingat bahkan teguran halus bahwa kerja yang tak dipublikasikan berisiko tak pernah diketahui publik.
Teguran yang Disampaikan dengan Senyum
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, membuka acara dengan nada ringan namun pesan yang jelas.
“Atas nama pemerintah provinsi, saya mengapresiasi. Tapi jujur, saya gemas juga dengan OPD yang tidak aktif,” ujarnya, disambut senyum hadirin.
Instruksi gubernur, kata Jihan, sudah terang: OPD harus aktif di media sosial. Pola konsumsi informasi publik telah berubah. Papan pengumuman tak lagi cukup; layar ponsel menjadi rujukan utama.
“Banyak kerja, tapi tidak terpublikasi. Akhirnya tidak sampai ke masyarakat,” katanya.
Menurut Jihan, publikasi bukan soal pencitraan, melainkan bukti kerja. Foto dan video menjadi pintu masuk utama perhatian publik tentu dengan etika.
“Redaksi tanpa foto itu hampa. Tapi foto harus berbicara dengan benar. Festival ini langkah konkret IJP,” ujarnya.
Dari Seremoni ke Denyut Kehidupan
Perwakilan dewan juri, Simon Abdurrahman, mencatat perubahan menarik dalam karya peserta. Foto-foto tak lagi terpaku pada seremoni.
“Sudut pandang mulai bergeser. Muncul human interest, ketepatan momen, dan sinergi visual,” katanya.
Ketika foto mampu menangkap denyut kehidupan, lanjut Simon, pesan sampai tanpa perlu banyak kata.
Budaya Kerja Baru
Sekretaris Daerah Lampung, Marindo Kurniawan, melihat festival ini sebagai bagian dari perubahan budaya birokrasi.
“OPD dituntut berinovasi dan aktif menampilkan kegiatannya, terutama di media sosial,” kata Marindo.
Publikasi, menurutnya, bukan tambahan pekerjaan, melainkan bagian dari tanggung jawab pelayanan publik.
Karya yang Hidup Menjadi Pemenang
Menjelang penutupan, dewan juri mengumumkan pemenang. Penilaian tak semata soal teknis, melainkan pada kemampuan foto “hidup” dan bercerita.
• Juara I: Dinas Peternakan
• Juara II: RSUD
• Juara III: Dinas Lingkungan Hidup
• Favorit: Dispora
Empat dewan juri lintas profesi menilai karya-karya tersebut:
Syahroni Yusuf (PWI Lampung), Oyos Saroso (AMSI Lampung), Ardiansyah (PFI Lampung), dan Simon Abdurrahman (akademisi).
Acara ditutup tanpa gemuruh tepuk tangan. Yang tertinggal justru pertanyaan: berapa banyak kerja pemerintah yang lenyap karena tak pernah didokumentasikan?
Abung Mamasa menutup dengan harapan sederhana.
“Bukan untuk lomba, tapi untuk masyarakat. Foto adalah jejak. Dan jejak itulah yang membuat publik percaya bahwa kerja pemerintah benar-benar terjadi bukan hanya terdengar, tapi terlihat.”









