Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah
Kompastuntas.com— Jakarta, sebuah interaksi singkat di kasir restoran cepat saji Burger King kawasan Breinigsville, Pennsylvania, Amerika Serikat, mendadak bereskalasi menjadi isu global yang memicu perdebatan sengit seputar kebebasan berekspresi, batasan profesionalisme, hingga sensitivitas geopolitik di ruang publik.
Peristiwa ini bermula ketika Rami Feinstein, seorang musisi keturunan Israel-Amerika, bertransaksi di gerai tersebut. Di sana, ia dilayani oleh Arianna Hamilton, seorang karyawan setempat. Menurut laporan Roya News, interaksi verbal terjadi saat Hamilton memperhatikan atribut Bintang Daud yang dikenakan Feinstein. Setelah mengetahui latar belakang Feinstein yang berasal dari Israel, Hamilton melontarkan seruan “Free Palestine” (Bebaskan Palestina).
Merasa tak nyaman, Feinstein lantas merekam interaksi tersebut, meminta pengembalian dana (refund), dan meninggalkan lokasi. Rekaman video itu diunggah ke media sosial dan langsung menyita perhatian publik internasional secara masif.
Merespons gelombang kritik yang mengancam reputasi korporasi, manajemen pusat Burger King melayangkan permohonan maaf terbuka dan menegaskan komitmen mereka terhadap lingkungan kerja yang netral serta bebas inkriminasi.
“Kami sangat menyesal mendengar pengalaman yang Anda alami. Burger King adalah tempat di mana semua orang harus merasa disambut, dihormati, dan bebas dari diskriminasi. Kami tidak menoleransi antisemitisme, kebencian, atau bentuk diskriminasi apa pun. Kami sedang bekerja sama dengan pemilik waralaba yang mengoperasikan restoran ini untuk menangani situasi tersebut,” bunyi pernyataan resmi manajemen Burger King.
Keputusan tegas diambil tak lama kemudian: pemegang waralaba memberhentikan Hamilton atas tuduhan tindakan diskriminatif. Namun, langkah pemecatan ini justru memantik dikotomi tajam di ruang siber. Gelombang simpati dari warganet mengalir deras membela Hamilton, menilai respons korporasi terlalu berlebihan terhadap ekspresi politik personal.
Melalui akun Instagram pribadinya, Hamilton memberikan klarifikasi untuk meluruskan narasi yang beredar. Ia membantah telah memulakan konfrontasi atau menanyakan latar belakang kebangsaan Feinstein secara tendensius sejak awal.
“Pria itu sebenarnya datang dengan sikap yang sangat agresif. Saya tidak bertanya dari negara mana ia berasal. Maksud saya, dari daerah mana di kawasan Lehigh Valley. Kami biasa kedatangan orang dari berbagai tempat seperti New York atau New Jersey,” tutur Hamilton.
Ia menjelaskan bahwa percakapan awalnya berjalan biasa ketika Feinstein mengaku berasal dari New Jersey. Situasi berubah ketika Feinstein sengaja mengeluarkan kalung Bintang Daud dari balik pakaiannya dan menegaskan identitas keisraelannya.
“Hal itulah yang memicu saya untuk mengatakan ‘Bebaskan Palestina’. Tentu saja saya tidak akan mundur dari ucapan tersebut ketika dia mengarahkan kamera ke wajah saya. Itu bukan kepribadian saya. Saya akan selalu menyuarakan pandangan saya dan tidak akan pernah takut menyampaikan apa yang saya pikirkan,” tegasnya, sembari menambahkan bahwa ucapannya murni bentuk solidaritas, bukan kebencian etnis atau agama.
Dampak dari pemecatan ini membawa babak baru. Hamilton membuka kampanye penggalangan dana publik di platform GoFundMe bertajuk “Support Arianna After Job Loss for Free Speech”. Langkah ini dilakukan untuk menopang kebutuhan dasar hidupnya pasca-kehilangan mata pencaharian, seperti biaya sewa hunian dan logistik harian. Kampanye solidaritas tersebut direspons secara signifikan oleh publik, hingga berhasil mengumpulkan dana lebih dari 40 ribu dolar AS (setara Rp717 juta).
Kasus ini memperlihatkan betapa tipisnya batas antara ruang privat, etika pelayanan korporasi, dan keberanian menyuarakan pandangan politik pribadi di tengah polarisasi global yang belum mereda.









