Anak-Anak Muda Statistik

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompastuntas.com, Lampung—Pagi ini, saya sudah hampir keluar dari restoran hotel ketika sekali lagi menoleh ke belakang. Memperhatikan anak-anak muda itu masih duduk berkelompok. Sebagian tertawa kecil, sebagian menunduk memeriksa ponsel, sebagian lain merapikan rompi yang di dadanya tertulis satu kata: STATISTIK.

Entah mengapa, kata itu pagi itu terasa lebih bermakna daripada biasanya. Mungkin karena saya membayangkan, dari tangan-tangan muda itu negara sedang menyusun cermin besar untuk melihat wajahnya sendiri. Bukan wajah hasil polesan dalam keterangan pers pemerintah, tetapi wajah yang sesungguhnya: wajah para pedagang gorengan di pinggir jalan, pemilik bengkel kecil, tukang cukur, penjahit rumahan, pengusaha warung makan, fotografer pernikahan, penjual pulsa, pengelola laundry, pembuat konten, desainer lepas, hingga anak-anak muda yang hidup dari gim, video pendek, dan algoritma.

Indonesia yang real itu tidak berada kota-kota besar dan di gedung-gedung tinggi. Ia berada di balik etalase kecil, di meja kasir, di buku utang warung, di bunyi notifikasi QRIS, di paket yang dikirim, di omzet harian yang tidak selalu stabil, di tangan pekerja yang datang pagi dan pulang malam. Indonesia yang seperti itu kerap tidak masuk berita, tetapi justru setiap hari menyalakan ekonomi negara.

Beberapa menit sebelumnya, saya duduk tidak jauh dari mereka. Sarapan di restoran hotel dipenuhi mereka. Gelas teh, piring nasi, sendok dan piring saling beradu pelan. Di antara suara sarapan yang biasa, rompi-ropi statistik itu membuat pagi saya berbeda dari biasanya. Saya memandangi mereka lama-lama. Ada yang baru lulus sarjana. yang persis duduk berhadapan dengan saya, alumni Data Science Institut Teknologi Sumatera. Ada pula alumni Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Wajah mereka muda, tetapi saya menebak tugasnya tidak ringan. Lebih dari 1.400 anak muda itu dikontrak sekitar dua setengah bulan, dilatih beberapa hari, lalu dilepas ke desa-desa se-Lampung Tengah, ke RT-RT, ke pasar, ke gang, ke ruko, ke rumah-rumah usaha yang selama ini bergerak di bawah radar.

Mereka bekerja berkelompok, menginput data melalui aplikasi, mencatat kehadiran dengan fitur geo-tagging, menyimpan jawaban ke sistem digital, lalu membiarkan data itu bergerak ke ruang yang lebih luas: cloud, server, pusat pengolahan, dan kelak—mungkin—ke dalam model-model kecerdasan buatan yang akan membaca pola ekonomi bangsa ini.

Di meja sarapan itu saya mendengar angka: 0-3-6. Awalnya saya kira itu kode teknis biasa. Rupanya angka itu adalah irama statistik nasional. Tahun berakhiran 0 untuk Sensus Penduduk. Tahun berakhiran 3 untuk Sensus Pertanian. Tahun berakhiran 6 untuk Sensus Ekonomi. Nol, tiga, enam. Seperti ketukan metronom yang mengingatkan negara agar tidak lupa memeriksa dirinya sendiri, agar negara tidak berjalan dengan intuisi. Dan intuisi, betapapun berguna, sering kali membawa kekuasaan pada klaim dan prasangka.

Baca Juga :  Kekosongan Wakil Bupati Way Kanan Lumpuhkan Pemerintahan Daerah, HMI Desak Gubernur Lampung Bertindak Tegas

Yang pernah kenal Prof. Andi Hakim Nasution pasti tahu, data tentu saja bukan sekadar angka, data adalah jejak kenyataan yang ditangkap oleh pikiran. Data bukan kenyataan itu sendiri, tetapi tanda yang membantu kita mendekatinya. Dalam matematika, ia bisa berubah menjadi matriks, grafik, fungsi, korelasi, klaster, proyeksi, dan model. Dari sebaris angka tentang omzet, tenaga kerja, lokasi usaha, atau aktivitas digital, negara dapat membaca sesuatu yang lebih besar: wilayah mana yang tumbuh, sektor mana yang rapuh, desa mana yang butuh akses internet, kecamatan mana yang memerlukan pasar, daerah mana yang membutuhkan jalan produksi, dan kelompok usaha mana yang layak disambungkan dengan perbankan.

Dari situ sensus berbeda dari survei, apalagi polling politik. Survei membaca sebagian untuk memperkirakan keseluruhan. Polling menangkap opini sesaat. Tetapi sensus datang untuk menyisir seluruh populasi. Enumeratornya mengetuk pintu, tidak hanya mengambil sampel; mereka membaca peta secara utuh. Dalam negara modern, sensus menjadi instrumen pelayanan. Pertanyaan dan percakapan tentang layanan dasar untuk warga. Berapa sekolah harus dibangun. Berapa rumah sakit harus disiapkan. Berapa pelatihan kerja harus dibuka. Berapa UMKM harus diberi akses modal, teknologi, pasar, dan perlindungan.

Sensus Ekonomi 2026 berada dalam garis besar itu. Ia memotret kegiatan ekonomi non-pertanian: dari usaha mikro sampai perusahaan besar, dari toko fisik sampai pelaku ekonomi digital, dari usaha formal sampai informal. Anak-anak muda itu menanyakan identitas usaha, lokasi, skala, bentuk badan usaha, tenaga kerja, omzet, modal, perkembangan usaha, aktivitas daring, ekonomi kreatif, serta kemungkinan praktik ekonomi hijau dan biru.

Mungkin bagi sebagian pelaku usaha, pertanyaan itu terasa terlalu jauh masuk ke ruang pribadi. Tetapi tanpa keberanian membaca detail, negara akan selalu terlambat memahami perubahan. Ekonomi hari ini tidak lagi hanya bergerak di pasar tradisional dan kawasan industri. Ia juga bergerak di platform digital, ruang percakapan, gudang kecil, jasa pengiriman, pembayaran nontunai, desain grafis, video pendek, afiliasi, marketplace, dan pekerjaan-pekerjaan baru yang dahulu tidak punya nama.

Big data membuat semua denyut itu meninggalkan jejak. AI dapat membaca jejak itu dengan kecepatan yang tak mungkin dilakukan manusia biasa. Algoritma dapat mendeteksi anomali, menemukan pola, mengelompokkan wilayah, memperkirakan risiko, membaca rantai pasok, memetakan kebutuhan infrastruktur, bahkan membantu pemerintah menyusun prioritas anggaran yang lebih tajam.
Saya membayangkan masa depan yang tidak terlalu jauh. Seorang kepala daerah membuka dasbor dan melihat peta hidup wilayahnya: desa mana yang ekonominya tumbuh tetapi jalannya rusak; kecamatan mana yang UMKM-nya banyak tetapi akses perbankannya rendah; wilayah mana yang punya bakat ekonomi kreatif tetapi sinyal internetnya lemah; daerah mana yang butuh gudang pendingin, balai pelatihan, pasar induk, atau transportasi logistik. Seorang pengambil keputusan tidak lagi hanya menerima laporan tebal yang dibaca menjelang rapat, tetapi melihat denyut ekonomi dalam waktu hampir nyata, dapat menyusun kebijakan berbasis bukti, bukan sekadar tekanan politik atau kedekatan dengan elite semata.

Baca Juga :  KPKAD Lampung Dorong Pilkada Tak Langsung: Gubernur Ditunjuk Presiden, Daerah Dinilai Perlu Kendali Konstitusional

Dalam imajinasi saya, data dan algoritma menjadi perangkat moral negara. Ia membantu kekuasaan lebih adil, lebih presisi, lebih rendah hati. Bantuan sosial tidak jatuh karena kedekatan. Kredit usaha tidak berhenti pada mereka yang sudah kuat. Pelatihan digital tidak diberikan secara seremonial, tetapi diarahkan pada wilayah yang benar-benar membutuhkan. Jalan dibangun bukan karena suara paling keras, melainkan karena data menunjukkan di sanalah biaya logistik rakyat paling berat.
Tetapi syaratnya: data harus bersih, metode harus benar, privasi harus dijaga, dan algoritma harus dapat diaudit. AI yang diberi data kotor akan menghasilkan keputusan yang kotor pula. Model yang dibangun dari data timpang akan memperpanjang ketimpangan. Karena itu, sensus ini menjadi jangkar dalam samudra big data.

Saya kembali menatap anak-anak muda itu. Mereka mungkin tidak sedang memikirkan data, matriks, algoritma, atau masa depan tata kelola negara. Mungkin pagi itu yang mereka pikirkan hanya rute lapangan, daftar responden, baterai gawai, sinyal internet, target harian, dan cara menjelaskan kepada warga bahwa data sensus dijaga kerahasiaannya.

Sebentar lagi mereka akan berjalan dari pintu ke pintu. Ada yang akan diterima dengan ramah. Ada yang dicurigai. Ada yang diminta menunggu. Ada yang akan mendengar jawaban tidak lengkap. Ada yang akan menghadapi pelaku usaha yang merasa terlalu kecil untuk dicatat.

Saya melangkah keluar dari restoran. Pagi sudah lebih terang. Di belakang saya, rompi bertuliskan Statistik itu masih bergerak di antara kursi-kursi. Ada haru dan hormat; ada harapan agar negara membaca teliti data yang terkumpul dan tidak berhenti sebagai arsip. Data-data itu harus menjelma menjadi kebijakan yang benar agar sejarah Indonesia masa depan lebih terang.

Pagi ini, saya teringat _Ibu Tanjung, guru sejarah SMP saya_; dia pernah berujar kalau sejarah dibuat oleh orang-orang yang tidak merasa sedang membuat sejarah.*(IM)*

Penulis : Ilham Mendrofa

Berita Terkait

Peringatan Untuk Nanik S. Deyang : Jangan Di Ulangi
Ryacudu
Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Mas Tri
Membongkar Tabu: Menengok Kembali Riwayat Masjid Inklusif Pertama di Paris
Sebuah Madrasah Cinta dan Pengorbanan
Pilrek Unila: Krisis Makna Kepemimpinan Kampus
IJP Lampung Siapkan Majalah Sendiri
Bonatua Silalahi Klaim Tak Temukan Verifikasi Ijazah Jokowi, Dibukukan dalam Karya Terbaru
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:18 WIB

Peringatan Untuk Nanik S. Deyang : Jangan Di Ulangi

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ryacudu

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:30 WIB

Anak-Anak Muda Statistik

Senin, 1 Juni 2026 - 20:12 WIB

Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Mas Tri

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:46 WIB

Membongkar Tabu: Menengok Kembali Riwayat Masjid Inklusif Pertama di Paris

Berita Terbaru

Opini

Peringatan Untuk Nanik S. Deyang : Jangan Di Ulangi

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:18 WIB

Screenshot

Opini

Ryacudu

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:34 WIB

Opini

Anak-Anak Muda Statistik

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:30 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com