Belajar dari Tanjung Verde

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Belajar dari Tanjung Verde

Kompastuntas.com, Lampung—Sepakbola memang gudangnya kejutan. Kata “kejutan” sendiri artinya sesuatu yang datang tiba-tiba, tidak terduga, dan pasti bikin orang terperangah.
Dari sekian banyak kejutan, Tanjung Verde –menurut pendapat sy adalah kejutan yg _top ranking_.

Sebagai sebuah negara kecil di Samudera Atlantik, Tanjung Verde atau Cape Verde, berhasil meneruskan debutnya di babak 32 besar piala dunia 2025 melawan raksasa sepakbola dunia: Argentina. Dan hasilnya sungguh membuat publik terkejut. Argentina –sang maestro sepakbola sejagat– seakan dibuat frustasi dan tak berdaya.

Nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Emiliano Martínez dibuat seperti bapak-bapak menghadapi Gen Alfa. Pusing. Argentina bikin gol, dibales gol. Bikin gola lagi, dibales lagi. Gimana gak frustasi?

Beruntung di ujung babak tambahan waktu, Argentina akhirnya berhasil menang 3-2 atas Tanjung Verde.

Namun demikian, kemunculan Tanung Verde yg “tiba-tiba” di dunia sepakbola mengingatkan kita akan kisah timnas Yunani yang menjuarai Piala Eropa 2004. Yunani saat itu juga “menghebohkan” dunia dgn capaiannya yg luar biasa. Namun keberhasilan itu tidak didukung dgn _sustainability_. Sehingga Yunani dari yang tiba-tiba bersinar, tiba-tiba juga redup. Semoga Tanjung Verde tidak mengalami nasib sama.

Baca Juga :  Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara

Dari laga raksasa sepakbola Argentina versus debutan Tanjung Verde di atas, setidaknya terdapat 3 pelajaran pendidikan yang bisa dipetik yaitu

1.Teori Pertumbuhan – _Growth Mindset_
Tanjung Verde mungkin kalah dari sisi nama besar, tapi tidak kalah mental. Mereka berani bermain terbuka melawan Argentina. Itu _growth mindset_: berani menghadapi tantangan di atas levelnya, karena percaya kompetensi bisa tumbuh lewat proses.
Dalam dunia pendidikan pun berlaku demikian : Anak dari sekolah kecil di daerah berhak bermimpi berhadapan dengan “Argentina”-nya ujian nasional atau olimpiade. Yang penting bukan takut kalah, tapi berani tampil dan belajar.

2.Nilai Proses di Atas Hasil Sesaat
Gol dibalas gol. Itu menunjukkan Tanjung Verde punya proses latihan, taktik, dan keberanian. Mereka tidak sekadar “beruntung” tapi berproses.
Selama ini, Pendidikan kita sering terjebak mengejar hasil, nilai dan ranking serta kelulusan semata. Padahal yang menentukan keberlanjutan adalah proses: kurikulum yang matang, guru yang kompeten, dan pembinaan karakter yang penuh nilai. Seperti Yunani tahun 2004, sesuatu hasil yang cepat tanpa proses yang kuat akan cepat pula padam.

Baca Juga :  Ryacudu

3.Pendidikan Karakter: Sportivitas dan Rendah Hati.
Argentina menang, tapi mereka dituntut untuk menghormati lawan. Tanjung Verde kalah, tapi mereka pulang dengan kepala tegak karena memberi kejutan.
Inilah value dari pendidikan karakter. Menang tidak sombong, kalah tidak patah. Di sekolah, kita harus melatih anak untuk menjadi “Tanjung Verde”: berani, gigih, menghargai proses. Dan menjadi “Argentina”: tetap rendah hati meski sudah besar namanya.

Dari laga itu kita bisa belajar bahwa dunia pendidikan juga begitu. Ada sekolah besar dan elit namun ada juga sekolah baru tumbuh. Ada guru senior, ada guru muda. Semua harus saling memacu agar mutu pendidikan bisa merangkak naik.
Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar juara atau rangking. Tapi murid yang _qualified_, punya mental bertanding, dan siap bersaing kapan pun, di mana pun. Salam olahraga.

Dr. As’ad Muzzammil
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Lampung.

Berita Terkait

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama
Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung
Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru
Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara
Abdul Wachid: Aturan Batas Usia Promosi Jabatan ASN Perlu Fleksibel dan Selaras dengan Sistem Merit
Menyuarakan Keadilan di Tengah Praktik “Under Voicing”
Berita ini 81 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:03 WIB

Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ

Berita Terbaru

Militer

LAMPUNG: Mengenal Tim Alfa TNI yang Terjun ke Way Kambas

Rabu, 26 Agu 2026 - 14:06 WIB

Opini

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Selasa, 25 Agu 2026 - 17:29 WIB

Daerah

Tim Alfa TNI Diterjunkan Padamkan Karhutla di Way Kambas

Senin, 24 Agu 2026 - 23:59 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com