Sorban, Kuasa, dan Sunyinya Nalar di Balik Tembok Pesantren

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 14 Mei 2026 - 17:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sorban, Kuasa, dan Sunyinya Nalar di Balik Tembok Pesantren

Saya pernah beberapa kali duduk di serambi pesantren saat malam mulai turun. Suara ngaji terdengar pelan dari kamar-kamar santri, sandal berserakan di depan mushala, dan aroma kopi bercampur kitab-kitab tua menghadirkan suasana yang selalu menenangkan.

Di tempat seperti itu, banyak orang tua menitipkan anaknya dengan keyakinan penuh: agar anak mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.

Karena itu, selalu terasa menyakitkan ketika mendengar kabar ada santri yang justru pulang membawa trauma. Saya pernah melihat sendiri bagaimana seorang anak memilih diam ketika ditanya tentang kehidupan di pondoknya.

Tatapannya kosong, jawabannya pendek-pendek, seolah ada sesuatu yang ingin ia ceritakan tetapi tertahan oleh rasa takut. Dan yang lebih menyedihkan, di sekitar kita sering kali ada orang-orang yang tahu sesuatu sedang tidak baik-baik saja, tetapi memilih bungkam demi menjaga nama besar lembaga.

Tahun 2026, publik kembali diguncang oleh dugaan kasus pencabulan santriwati yang melibatkan pengasuh pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah. Polisi menetapkan seorang kiai bernama Ashari sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo.

Baca Juga :  Takbir Menggema, Rindu Menjadi Doa, Menuju Kemenangan Sesungguhnya

Bahkan, laporan yang muncul menyebut sebagian korban masih berusia belia dan mengalami tekanan untuk tetap diam.

Yang membuat luka ini terasa lebih pahit bukan hanya tindakan bejatnya, tetapi juga budaya diam yang mengitarinya. Ada santri yang takut bicara karena ancaman. Ada orang tua yang ragu melapor karena khawatir anaknya dianggap membawa aib. Bahkan kadang masyarakat lebih sibuk membela simbol daripada mendengar jeritan korban. Kita terlalu mudah memuliakan sorban, tetapi terlalu lambat memeluk anak-anak yang terluka.

Padahal agama tidak pernah mengajarkan umatnya memelihara kebusukan atas nama penghormatan. Cahaya Tuhan tidak tinggal di tempat yang membiarkan kezaliman tumbuh dalam diam. Dan ilmu yang kehilangan nurani hanyalah kekuasaan yang sedang mencari korban.

Kita menyaksikan bagaimana santri yang berani jujur justru dianggap pembangkang, sementara pelaku dipeluk oleh budaya takzim yang berlebihan. Di titik itulah kesucian berubah menjadi topeng, dan kuasa menjelma luka bagi mereka yang lemah.

Baca Juga :  Wirahadikusumah: Digitalisasi manjamah, Wartawan tak Lagi Pegang Audien

Pesantren tidak akan runtuh karena kritik. Ia justru hancur ketika kebenaran dikubur demi menjaga nama baik. Sebab lembaga yang takut pada kejujuran perlahan hanya akan menjadi bangunan sunyi yang menyimpan busuk di balik doa-doa panjangnya.

Dan ketika sorban lebih dilindungi daripada anak-anak yang terluka, saat itu sebenarnya yang sedang kehilangan kehormatan bukan santrinya melainkan nurani kita sendiri.(***)

Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  
Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama
Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung
Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru
Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara
Abdul Wachid: Aturan Batas Usia Promosi Jabatan ASN Perlu Fleksibel dan Selaras dengan Sistem Merit
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Berita Terbaru

Kesehatan

RSUDAM Gelar Webinar P2KB

Minggu, 30 Agu 2026 - 20:20 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com