Sistemkah Yang Membuat Kita Takut Untuk Bicara Benar?

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 30 Mei 2025 - 08:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sistemkah yang Membuat Kita Takut untuk Bicara Benar?

Kompastuntas.com— Tanjungkarang, Di suatu pagi yang cerah, saya duduk di sebuah kafe di Kota yang (katanya) dijuluki Kota Pendidikan, sambil menikmati kopi hitam yang panas. Di meja sebelah, dua pria tengah berbicara tentang berbagai hal—politik, ekonomi, dan tentu saja, kehidupan. Tiba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan pendapat yang cukup keras tentang kebijakan pemerintah. Seketika, suasana di sekitar meja mereka berubah, semua mata tertuju pada mereka, seolah-olah mereka telah mengucapkan sesuatu yang mengerikan.
Temannya pun segera menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Hush, kamu tidak tahu siapa yang mendengarkan.” Dan di sana, di tengah tawa kecil dan kecanggungan yang terasa, saya tersenyum pahit. Inilah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari
, kita takut untuk bicara benar.

Tidak perlu jauh-jauh, coba lihat sistem yang ada di sekitar kita. Di dunia akademik -yang katanya dunia yang penuh dengan suri tauladan- misalnya, apakah kita pernah merasa takut untuk mengungkapkan pendapat yang tidak populer? Atau mungkin, kita berpikir dua kali sebelum mengkritik keputusan atasan? Tentu saja. Saya yakin banyak dari kita yang pernah merasa takut untuk menyuarakan ketidaksetujuan. “Jangan melawan arus,” katanya. “Jaga posisi,” kata yang lainnya. Dalam sistem ini, berbicara benar yang berlawanan dengan kebijakan yang ada bukanlah sebuah tindakan keberanian, melainkan sebuah risiko besar. Sebuah sistem yang mengharuskan kita untuk tetap berada dalam zona nyaman, menghindari perdebatan, dan lebih memilih untuk diam daripada berbicara, bahkan jika kita tahu bahwa diam bukanlah jalan yang benar. Atau masih berlakukah pepatah yang mengatakan “diam itu emas” dalam kontekstualitas ini?

Baca Juga :  Mantan Bendum Periode 2022-2025, Yuverdi Ardinata Serahkan Berkas Pendaftaran Ketua IJP

Pernahkah Anda dan kita semuanya merasa seperti karakter utama dalam film dokumenter yang disutradarai oleh sistem? Dimana cerita Anda dan kita adalah sekadar bahan hiburan, dan kebenaran yang Anda dan kita miliki hanya menjadi latar belakang bagi narasi yang sudah ditentukan? Tidak jarang kitadan anda menemukan diri sendiri di posisi itu, terjebak dalam sistem yang lebih menghargai status quo daripada kebenaran yang sesungguhnya. Bayangkan saja, setiap kali kita mengungkapkan kritik atau ketidaksetujuan, kita dihadapkan pada ekspresi seperti “Kamu cuma kurang paham,” atau “Itu kan bukan urusanmu.” Tentu saja, ini semua dilakukan dengan senyuman manis, seolah kita yang bersalah karena terlalu berani menyuarakan pendapat.

Di dunia akademik, situasi serupa berlaku. Berbicara benar dalam konteks ini bisa berakhir dengan lebih banyak masalah daripada solusi. Kita tahu bahwa ada banyak hal yang seharusnya dibicarakan, banyak kebijakan yang perlu dikritik, dan banyak ketidakadilan yang harus dilawan. Namun, dalam sistem yang terstruktur sedemikian rupa, di mana kekuasaan memegang kendali penuh, berbicara benar bisa dianggap sebagai ancaman terhadap kedudukan seseorang. Alih-alih mendapatkan apresiasi, mereka yang berani berbicara malah diserang, disalahkan, atau bahkan dihukum. Ibaratnya, mereka yang berteriak di tengah keramaian hanya akan mendapat perhatian, tetapi perhatian yang salahseperti seorang pengacara yang harus membela terdakwa yang jelas-jelas bersalah.

Baca Juga :  PP Muhammadiyah Gelar Sekolah Paralegal di Lampung, Cetak Garda Terdepan Bantuan Hukum

Namun, mari sejenak merenung, apakah kita benar-benar harus terus hidup dalam sistem yang mengekang kebebasan berbicara ini? Bukankah dunia akademik, misalnya, seharusnya menjadi tempat di mana kebenaran, meskipun pahit, dihargai? Tidakkah kita berhak untuk berbicara dengan jujur, untuk mengungkapkan kenyataan, tanpa takut dihukum atau diasingkan? Pada akhirnya, sistem yang mengekang kebebasan berbicara inibaik itu di tempat kerja, dalam dunia politik, maupun dalam dunia akademik- bukanlah sebuah sistem yang sehat. Sistem seperti ini menciptakan ketakutan, ketidakpastian, dan kegagalan untuk berkembang. Dan jika kita terus membiarkan ketakutan ini menguasai kita, kita hanya akan menjadi bagian dari narasi yang sudah ditentukan oleh sistem, tanpa pernah bisa menulis kisah kita sendiri.

Anekdot lucu? Tentu, karena inilah yang terjadi: dalam sebuah sistem yang seharusnya mendukung kebebasan berbicara, kita malah merasa takut untuk mengatakan apa yang kita pikirkan. Bukankah ini kontradiksi yang menarik? Kita dilatih untuk berpikir bebas, tetapi kemudian dipaksa untuk berbicara dengan hati-hati, agar tidak mengganggu sistem yang ada. Jadi, pertanyaannya adalah: kapan kita akan mulai berbicara dengan jujur, tanpa rasa takut akan pembalasan, dan membiarkan kebenaran mengalir bebas tanpa dibungkam oleh sistem yang mengekangnya? Wallahu ‘alam bi shawab.

 

 

Penulis : Buyung Syukron (Sekrup kecil)

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

PIP 2026 Mulai Disalurkan, Orang Tua Diminta Cek Status Penerima Secara Mandiri
Pemprov Lampung Bersama Komisi XII DPR RI Bahas Pemanfaatan Energi di Provinsi Lampung
Belajar dari Lapangan: Agribisnis Unila Ajak Warga Pasuruan Memetakan Masa Depan Desa
Alzier Soroti Proyek UIN Raden Intan Lampung, Desak Audit Investigatif Anggaran Rp170 Miliar
Healing Guru-Guru Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Alami Tragedi Meninggal Dunia
Dua Penyair Satu Komal, Rayakan Ganti Tahun
PMII Rayon Pertanian Unila Gelar MAPABA, Perkuat Aswaja dan Wawasan Kebangsaan
STIES ALIFA Resmi Buka Program Magister Ekonomi Syariah, Tawarkan Fleksibilitas & Jaringan Global
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 09:51 WIB

PIP 2026 Mulai Disalurkan, Orang Tua Diminta Cek Status Penerima Secara Mandiri

Kamis, 26 Februari 2026 - 00:11 WIB

Pemprov Lampung Bersama Komisi XII DPR RI Bahas Pemanfaatan Energi di Provinsi Lampung

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:50 WIB

Belajar dari Lapangan: Agribisnis Unila Ajak Warga Pasuruan Memetakan Masa Depan Desa

Sabtu, 17 Januari 2026 - 17:02 WIB

Alzier Soroti Proyek UIN Raden Intan Lampung, Desak Audit Investigatif Anggaran Rp170 Miliar

Jumat, 16 Januari 2026 - 13:02 WIB

Healing Guru-Guru Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Alami Tragedi Meninggal Dunia

Berita Terbaru

Daerah

WLC Lampung Berbagi Sembako Dibulan Penuh Berkah

Minggu, 1 Mar 2026 - 21:01 WIB