Membaca Keheningan KH. M. Imam Aziz: 40 Hari Mengenang Pemikir Islam Progresif

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membaca Keheningan KH. M. Imam Aziz: 40 Hari Mengenang Pemikir Islam Progresif

 

Kompastuntas.com— Bandar Lampung, Kelompok Studi Kader (KLASIKA) Lampung bersama Komunitas Jaringan Gusdurian Lampung menggelar acara “Membaca Keheningan KH. M. Imam Aziz” untuk memperingati 40 hari wafatnya KH. M. Imam Aziz, pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) sekaligus pengasuh Pesantren Bumi Cendikia Yogyakarta.

Acara berlangsung di Rumah Ideologi KLASIKA, Bandar Lampung, Jumat (22/8) malam.

Acara ini dirancang sebagai ruang hening dan refleksi atas kiprah serta pemikiran almarhum yang selama ini menginspirasi gerakan intelektual Islam dan aktivisme sosial di Indonesia.

Rangkaian kegiatan meliputi pembacaan yasin, tahlil, doa bersama, dan diskusi reflektif tentang warisan pemikiran Imam Aziz.

Wakil Rektor II UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Safari Daud, mengenang Imam Aziz sebagai sosok yang visioner dan sederhana.

“Berpikir besar dan tampilan sederhana adalah dua hal yang melekat pada Mas Imam Aziz. Pemikiran Islam yang beliau gagas mengajarkan kami untuk selalu kritis dan membebaskan akal, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang tulus. Semakin sadar keagamaan, semakin tinggi kemanusiaan. Itulah perkawinan agama dengan ilmu-ilmu sosial,” ujarnya.

Prof. Safari menekankan, ciri utama seorang pemimpin sejati adalah kegelisahan.

“Kalau pemimpin tidak punya kegelisahan, itu bukan pemimpin. Dia harus gelisah dan harus berbuat apa,” tambahnya.

Baca Juga :  Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT

Hal senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, S.Hi., M.H. Menurutnya, kegelisahan Imam Aziz justru menjadi tanda kepekaan dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

“Mas Imam adalah sosok yang selalu gelisah melihat ketidakadilan. Kegelisahan itu bukan kelemahan, tetapi tanda kepekaan dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Beliau juga humble, dengan keilmuan luas, baik di bidang keagamaan maupun sosial. Itulah yang patut kita teladani,” ujarnya.

Khoir menambahkan, pemikiran Imam Aziz menjadi teladan bagi generasi sekarang.

“Banyak tokoh yang bisa menjadi gambaran ideal bagi kita, salah satunya Mas Imam Aziz. Dari beliau kita belajar bagaimana membangun nilai dan arah untuk masa depan,” katanya.

Baca Juga :  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Bolehkan Study Tour tapi Harus Bermanfaat dan Jangan Sekedar Rutinitas 

Tokoh Nahdlatul Ulama Lampung, H. Khaidir Bujung, menyoroti kesederhanaan Imam Aziz sebagai ciri khas yang melekat sepanjang hidupnya.

“Kiai Imam selalu tampil sederhana, baik dalam keseharian maupun dalam memimpin gerakan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu dekat dengan banyak kalangan, dari santri, aktivis, hingga masyarakat akar rumput,” ungkapnya.

Sementara itu, Chepry Chairuman Hutabarat, Founder KLASIKA, mengaitkan pemikiran Imam Aziz dengan filsafat Plato.

“Mas Imam mengajarkan bahwa manusia saling terhubung oleh kepentingan, namun selalu berlandaskan kebajikan. Dalam pandangan Plato, jiwa manusia terdiri dari logistikon (akal), thumoes (semangat), dan epithumia (hasrat). Mas Imam mengutamakan logistikon akal sehat dalam setiap gerak kemanusiaannya, namun tetap seimbang dengan keberanian dan kesederhanaan. Itulah mengapa kiprah beliau membumi sekaligus bernilai universal,” ungkapnya.

Chepry juga mengingatkan pandangan filsuf Jürgen Habermas tentang pentingnya aspek emansipatoris dari pengetahuan.

“Bagi Mas Imam, pengetahuan tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan harus menjadi kegelisahan personal yang membebaskan dan memanusiakan,” katanya.

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026
Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT
Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting
Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung
Pilrek Unila 2027–2031: Prof. Warsito Serahkan Berkas, Dr. Budiyono Mendaftar Hari Ini
Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur
Ikhtiar Lampung Timur Memanusiakan Siswa Lewat Sekolah Rakyat
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 11:25 WIB

733 Siswa dari 98 SMP Adu Bakat Islami di Pentas PAI Bandar Lampung 2026

Selasa, 15 September 2026 - 09:28 WIB

Selamat, Unila Datang Bersama APH Untuk Kendalikan HPT

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:33 WIB

Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 04:55 WIB

Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:34 WIB

Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung

Berita Terbaru

Pemerintahan

Survey Rakata : Mirza-Jihan Raih Kepuasan Publik Diatas 80 Persen

Sabtu, 19 Sep 2026 - 08:19 WIB

Uncategorized

Welly Diborgol, Keluar dari Ruang Ditreskrimsus Polda Lampung

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:54 WIB

Nasional

36 Tahun Berpencar, Aktivis HUMANIKA Kembali Bertemu

Jumat, 18 Sep 2026 - 13:51 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com