EWS BPBD Lampung Diduga Fiktif Uang Negara Raib, Hukum Harus Menyala

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 25 Juli 2025 - 15:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EWS BPBD Lampung Diduga Fiktif Uang Negara Raib, Hukum Harus Menyala

 

Kompastuntas.com—Bandar Lampung, ada yang ganjil dari proyek pengadaan sistem peringatan dini bencana (Early Warning System/EWS) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung tahun anggaran 2024. Dalam dokumen negara, tercatat 63 unit EWS dipasang. Di lapangan? Hanya empat yang terlihat. Sisanya seperti hantu tak ada, tak tampak, dan tak bisa dilacak.

Proyek bernilai miliaran rupiah ini kini mencium aroma busuk pekerjaan fiktif, rekayasa dokumen, dan penggelapan anggaran. Laporan resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memperkuat dugaan itu. Tak pelak, publik bertanya siapa yang bermain, dan mengapa belum ada yang ditangkap?

Dr. Topan Indra Karsa, S.H., M.H., akademisi hukum dan praktisi dari Universitas Tulang Bawang, menyebut kasus ini tak bisa lagi disebut pelanggaran administratif. “Ini murni Tipikor. Pekerjaan fiktif adalah modus klasik korupsi, memperkaya diri sendiri lewat proyek kosong,” ujarnya, Jumat, 25 Juli 2025.

Ia menegaskan, pengembalian anggaran oleh rekanan bukan tameng dari jerat pidana. “Uang dikembalikan setelah ketahuan, bukan karena kesadaran. Hukum tidak bisa disuap dengan alasan pengembalian,” kata Topan. Ia mengutip Pasal 2 dan 3 UU Tipikor yang mengatur pidana penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun bagi pelaku penggelapan anggaran negara.

Topan juga mengingatkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 003/PUU-IV/2006 yang tegas pengembalian kerugian negara tak menggugurkan proses pidana. “Jika proyek ini benar-benar fiktif, maka kita bicara tentang pemalsuan dokumen negara, laporan keuangan palsu, dan penipuan publik berskala besar,” tegasnya.

Baca Juga :  Pasal berlapis KHUP Baru dan UU Pers Jadi Ancaman Oknum Kadis

Korupsi Model Lama dengan Pola Baru

Ketua LSM Pro Rakyat, Aqrobin A.M., tak bisa menyembunyikan kekesalannya. “Kami turun langsung ke lapangan. Dari 63 alat EWS yang katanya sudah terpasang, kami hanya menemukan empat. Sisanya fiktif. Ini bukan kelalaian ini kejahatan,” ujarnya tajam.

Aqrobin, bersama Sekretarisnya Johan Alamsyah, membandingkan pola ini dengan kasus lama di salah satu dinas provinsi tahun 2016. Kala itu, pengadaan fiktif barang-barang kantor juga berujung bui bagi pejabat dan kontraktor. “Apakah Lampung sedang mengulang sejarah kelamnya sendiri?” sindir Johan.

Menurut mereka, modus yang digunakan sangat sistematis. Dari dokumen yang dimanipulasi, hingga laporan realisasi yang diduga palsu. “Uang negara jelas-jelas sudah dicairkan. Tapi barangnya tidak ada. Artinya, ini proyek siluman. Dana digelontorkan untuk entitas kosong,” kata Johan.

Pengembalian sebagian dana oleh pelaksana proyek pun tak membuat mereka lunak. “Kalau maling uang negara lalu bilang ‘maaf dan uangnya dikembalikan’, apa lantas bebas dari jerat hukum? Itu logika busuk,” tegas Aqrobin.

Saatnya Kejati Bertaring

LSM Pro Rakyat berjanji akan melaporkan kasus ini secara resmi ke aparat penegak hukum. Mereka mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung untuk tak berlindung di balik birokrasi dan menunggu viralitas. “Laporan BPK adalah dasar kuat. Kalau ini didiamkan, Kejati akan ikut tercatat dalam sejarah kelam pemberantasan korupsi di Lampung,” kata Johan.

Ia menantang Kejati bersikap seperti Kejari Pringsewu, Lampung Selatan, Way Kanan, dan Lampung Timur yang beberapa waktu lalu berani menindak proyek-proyek fiktif. “Kami tak butuh basa-basi. Kami butuh tindakan nyata,” tegasnya.

Pihaknya meminta agar seluruh pejabat BPBD dan rekanan yang terlibat dalam proyek EWS segera dipanggil dan diperiksa. “Jika Kejati tak bergerak, kami akan laporkan langsung ke KPK. Karena aroma ini sudah busuk sampai ke Jakarta,” ujarnya.

Baca Juga :  RSUD Abdul Moeloek Tetap Siaga di Libur Lebaran 2026

Hingga berita ini diturunkan, BPBD Provinsi Lampung belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi kepada pejabat terkait pun belum dijawab. Sementara itu, publik menunggu: apakah aparat penegak hukum akan menyala, atau justru ikut padam bersama proyek EWS yang gagal menyelamatkan anggaran negara?

Editor : Hengki Utama

Berita Terkait

Tensi Tinggi Kejaksaan-Polri: Di Balik Penjagaan Bersenjata Rumah Jampidsus dan Penggeledahan Kortastipidkor
Jurnalis Mendapatkan Intimidasi Saat Peliputan.
Dugaan Penipuan Investasi Dapur MBG Seret Nama Anggota DPRD Lampung Tengah
Susno Duadji Sebut Roy Suryo dan Dokter Tifa Berpeluang Bebas Meski Ditangkap, Ini Syaratnya
Sekda Tersangka, Pakar Hukum Unila: Saatnya Plt. Bupati Lamteng Copot Jabatannya
Setelah Ardito di Tangkap KPK, Kini Adik Ipar Welly Adiwantra Ditetapkan Tersangka oleh Polda Lampung
Ini Profil Tiga Hakim yang Vonis Lepas Tiga Terdakwa Tipikor Tanah Kemenang Ro 54,4 M
Dari Premanisme ke Narkoba: Jejak Rekam HIPMI di Lampung Kembali Terkuak
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 15:51 WIB

Tensi Tinggi Kejaksaan-Polri: Di Balik Penjagaan Bersenjata Rumah Jampidsus dan Penggeledahan Kortastipidkor

Jumat, 3 Juli 2026 - 15:42 WIB

Jurnalis Mendapatkan Intimidasi Saat Peliputan.

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:44 WIB

Dugaan Penipuan Investasi Dapur MBG Seret Nama Anggota DPRD Lampung Tengah

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:57 WIB

Susno Duadji Sebut Roy Suryo dan Dokter Tifa Berpeluang Bebas Meski Ditangkap, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 - 22:05 WIB

Sekda Tersangka, Pakar Hukum Unila: Saatnya Plt. Bupati Lamteng Copot Jabatannya

Berita Terbaru

Politik

Mengapa Kejagung Mengerem Kasus Makan Bergizi Gratis?

Rabu, 15 Jul 2026 - 20:28 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com