Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 2 April 2026 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam

Kompastuntas.com— Teluk Betung, siang itu, Rabu, 1 April 2026, suasana di kawasan wisata alam Wira Garden semula tampak biasa. Empat mahasiswi Universitas Lampung datang untuk berwisata, menikmati aliran sungai yang membelah bebatuan. Namun, dalam hitungan menit, ketenangan berubah menjadi kepanikan.
Dua di antaranya, Fatmawati (23) dan Bunga Rosana (23), hanyut terseret arus yang tiba-tiba membesar tanpa tanda yang mereka sadari.
Rombongan tiba sekitar pukul 11.30 WIB di kawasan Kelurahan Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Timur. Hujan sempat mengguyur lokasi sekitar setengah jam kemudian. Setelah hujan reda, keempatnya naik ke batu di tengah sungai untuk berfoto aktivitas yang lazim dilakukan pengunjung di lokasi tersebut.
Namun, dari arah hulu, air bah datang mendadak. Tanpa peringatan, debit air meningkat drastis. Arus deras menyeret Fatmawati dan Bunga. Dua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke tepian sungai.
Fatmawati tercatat sebagai mahasiswi Fakultas MIPA Unila, warga Indraloka Jaya SP. Asahan, Kecamatan Way Kenanga, Tulang Bawang Barat. Sementara Bunga Rosana merupakan warga Kelurahan Hadi Mulyo, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari Basarnas, BPBD Kota Bandar Lampung, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, dan relawan masih menyisir aliran sungai untuk melakukan pencarian.
Peristiwa ini kembali menyingkap persoalan klasik dalam pengelolaan wisata berbasis alam: keselamatan yang kerap berada di posisi kedua.
Direktur Lembaga Konservasi 21 (LK21) Provinsi Lampung, Edy Karizal, menilai kejadian tersebut bukan semata faktor alam, melainkan juga lemahnya sistem mitigasi risiko di lokasi wisata.
“Air bandang bukan fenomena baru. Tapi persoalannya, sistem peringatan dini dan edukasi kepada pengunjung masih minim,” kata Edy.
Menurut dia, kawasan wisata yang bertumpu pada ekosistem sungai semestinya dilengkapi perangkat keselamatan yang memadai. Mulai dari rambu peringatan yang jelas, pemantauan debit air secara berkala, hingga prosedur evakuasi cepat saat terjadi perubahan kondisi di hulu.
Dalam banyak kasus, kata Edy, perubahan cuaca di wilayah hulu kerap tidak terdeteksi oleh pengunjung di hilir. Padahal, hujan di bagian atas aliran sungai dapat memicu banjir bandang dalam waktu singkat, bahkan ketika lokasi wisata tampak cerah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penerapan early warning system (EWS) di kawasan wisata berbasis sungai. Sistem ini memungkinkan pengelola mendeteksi kenaikan permukaan air lebih dini dan segera melakukan evakuasi pengunjung.
“Pengelola harus punya alat pemantau di hulu. Ketika ada peningkatan debit, informasi itu harus segera diteruskan ke bawah. Ini soal kecepatan respons,” ujarnya.
Selain itu, edukasi kepada pengunjung dinilai tak kalah penting. Pengunjung, terutama yang baru pertama datang, seharusnya mendapat penjelasan mengenai area aman, larangan, serta tanda-tanda alam yang patut diwaspadai misalnya perubahan warna air, suara gemuruh dari arah hulu, atau kondisi langit yang mulai gelap.
Larangan beraktivitas di sungai saat cuaca menunjukkan potensi hujan, baik di lokasi maupun di wilayah hulu, seharusnya menjadi bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang ditegakkan secara ketat.
Edy juga menyinggung kemungkinan faktor kerusakan lingkungan di kawasan hulu. Indikasi ini, menurut dia, bisa dilihat dari air yang keruh saat banjir terjadi yang berpotensi berkaitan dengan degradasi tutupan hutan.
“Kalau kawasan hulunya terganggu, daya serap air berkurang. Air turun lebih cepat dan lebih besar volumenya,” kata dia.
Tragedi di Wira Garden, lanjutnya, semestinya menjadi momentum evaluasi bersama, baik bagi pengelola wisata, pemerintah daerah, maupun pengunjung.
Wisata alam memang menawarkan keindahan. Tetapi di balik itu, tersimpan risiko yang tak selalu tampak di permukaan. Tanpa pengelolaan yang serius dan kesadaran kolektif, keindahan itu bisa berubah menjadi bencana dalam sekejap.

Baca Juga :  From Farm to Table: The Journey of Food and its Impact on Our Health and the Environmen

Berita Terkait

Rute Internasional Lampung–Kuala Lumpur Dibuka, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah
Libur Nataru di Bandar Lampung, Polisi Intensifkan Patroli Pusat Keramaian Hingga Lokasi Wisata
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon datang ke Lampung untuk memastikan berdirinya Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK)
Konsumen Kecewa Salah Tanggal Tiket BxSea di Traveloka, Tak Ada Solusi dari Kedua Pihak
Jangan Lupa, 11 Oleh-oleh Khas Lampung Wajib Dibawa Pulang
From Farm to Table: The Journey of Food and its Impact on Our Health and the Environmen
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 09:02 WIB

Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:00 WIB

Rute Internasional Lampung–Kuala Lumpur Dibuka, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Senin, 29 Desember 2025 - 22:10 WIB

Libur Nataru di Bandar Lampung, Polisi Intensifkan Patroli Pusat Keramaian Hingga Lokasi Wisata

Sabtu, 22 November 2025 - 10:46 WIB

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon datang ke Lampung untuk memastikan berdirinya Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK)

Minggu, 29 Juni 2025 - 20:11 WIB

Konsumen Kecewa Salah Tanggal Tiket BxSea di Traveloka, Tak Ada Solusi dari Kedua Pihak

Berita Terbaru