Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik

Kompastuntas.com, Lampung—Ari Pahala Hutabarat mengatakan bahwa kriteria-kriteria puisi yang baik menurut T.S. Eliot, nobelis sastra–dalam hal ini teori Korelasi Objektif-nya, tentang motivasi dasar mengapa menulis puisi, dan lain-lain.

Pemenang Kusala 2026 untuk buku puisinya “Nusantara, Amnesia” memberi motivasi kepada calon penyair muda Lampung dalam acara Bengkel Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Bandar Lampung, Kamis 27 Agustus 2026.

Acara yang ditaja Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS bekerja sama Badan Bahasa RI itu dimulai pukul 08.30 hingga 21.00.

Ari Pahala Hutabarat yang tanpil di hari kedua diikuti 20 peserta hasil lolos kurasi. Dalam kesempatan itu, selain memberi materi-materi dasar yang sangat penting dan akan menjadi fondasi kepenyairan mereka kelak, juga membongkar ulang puisi-puisi mereka untuk mendapatkan puisi yang baik.

“Puisi yang baik harus selaras dengan logika, menawarkan daya pukau bagi pembaca,” ujar sutradara teater di Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung.

Baca Juga :  Dekan FEB Mempersilakan Polda Lampung Ambil Alih Pemeriksaan Kematian Mahasiswa Di Unila

“Materi yg tadi saya beri adalah materi2 dasar yg sangat penting dan akan menjadi fondasi kepenyairan mereka kelak, misalnya soal daya guna imajeri/citraan dan metafora dalam puisi,” ujar dia selesai kegiatan, semalam.

Ari Pahala Hutabarat juga mengapresiasi bahwa kegiatan Bengkel Sastra 2026 yang ditaja Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS memperlihatkan perkembangan sastra yang menarik di Lampung: baiknya dan berjalannya proses regenerasi sastra/penulis di Lampung.

Hal ini, lanjutnya, bisa dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, beragamnya latar belakang peserta, kekayaan dan keluasan tematik dari puisi-puisi yang mereka tuliskan.

“Juga banyaknya peserta yang sungguh berbakat untuk jadi penyair yang baik di masa depan,” kata Ari.

Karena itu, imbuh dia, sungguh diharapkan dengan hadirnya kegiatan ini juga melihat bakat dan jumlah peserta yang mengikuti ke depannya ekosistem sastra di Lampung akan semakin membaik dan tambah sehat.

Baca Juga :  DP Lampung Sinkronkan Arah Kebijakan dengan Gubernur, Soroti Rendahnya Mutu Guru dan Minimnya Mimpi Siswa

Antusias para peserta dalam mengikuti materi ini, mereka dengan lancar menjelaskan kembali ihwal materi yang diterima dari sesi Ari Pahala.

Sejumlah peserta yang diberi kesempatan memberikan resume di depan rekan-rekannya, menunjukkan apa yang dipaparkan pemateri telah dipahami dengan baik.

Terakhir, Ari mengingatkan bahwa untuk menjadi penyair harus banyak-banyak membaca buku, terutama buku puisi dari penyair besar. Untuk Indonesia, ia merekomendasi para penyair seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, dan lain-lain. Ia juga menyebut sejumlah penyair luar negeri, terutama yang pernah menerima Nobel.

“Jangan sampai, seperti pepatah jika yang kau makan sampah maka yang keluar adalah sampah. Tak ada orang yang kencing tanpa pernah meminum,” tandas Ari.

Bengkel Sastra 2026 yang dimulai 25 Agustus, akan selesai siang ini, Jumat 28 Agustus 2026. Sebelum ditutup oleh Direktur Lamban Sastra, Fitri Angraini, menghadirkan akademi Prodi Bahasa Lampung, Yinda Dwi Gustiara, tentang alihbahahasa.*

Berita Terkait

Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting
Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung
Pilrek Unila 2027–2031: Prof. Warsito Serahkan Berkas, Dr. Budiyono Mendaftar Hari Ini
Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur
Ikhtiar Lampung Timur Memanusiakan Siswa Lewat Sekolah Rakyat
Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Tulang Bawang Ukir Sejarah, Hibahkan Lahan 19,17 Hektare untuk Sekolah Nasional Terintegrasi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:33 WIB

Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 04:55 WIB

Hari Pramuka Ke-65, Kwarcab Tanggamus Gelar Upacara Di Bumi Perkemahan Gisting

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:34 WIB

Dr. Budiono memastikan dirinya mengikuti tahapan seleksi calon Rektor Universitas Lampung

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Pilrek Unila 2027–2031: Prof. Warsito Serahkan Berkas, Dr. Budiyono Mendaftar Hari Ini

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:12 WIB

Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur

Berita Terbaru

Pemerintahan

Pimpinan DPRD Lampung Siap Kawal Anggaran HPN-Porwanas 2027

Jumat, 28 Agu 2026 - 23:45 WIB

Opini

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  

Kamis, 27 Agu 2026 - 09:33 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com