Lampung Jadi Daerah Pertama Pengembangan Bioetanol, Serap Ribuan Hektare Lahan Sorgum

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Jadi Daerah Pertama Pengembangan Bioetanol, Serap Ribuan Hektare Lahan Sorgum

Kompastuntas.com, Pesawaran – Pemerintah pusat menetapkan Lampung sebagai lokasi perdana pengembangan ekosistem bioetanol nasional untuk mendukung program ketahanan energi dan penerapan campuran etanol 10 persen (E10) yang ditargetkan mulai berlaku pada 2028.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, saat meninjau lokasi rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina, PTPN, serta perwakilan Toyota Group dan lembaga riset Jepang raBit di dua wilayah yakni di desa Kota Agung, Tegineneng Pesawaran dan di Desa Rejosari Natar Lampung Selatan, Selasa (9/6/2026).

Todotua mengatakan Lampung dipilih sebagai lokasi pengembangan awal karena memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku (feedstock), infrastruktur logistik, hingga letak geografis yang strategis.

“Kenapa kita memilih Provinsi Lampung sebagai pilot awal proyek besar ini, karena Lampung telah memiliki existing feedstock yang dibutuhkan untuk kebutuhan produksi etanol. Kemudian secara geografis, logistik, strategis, Lampung adalah daerah yang sangat strategis,” kata Todotua.

Menurutnya, kebutuhan bioetanol terbesar nantinya berada di Pulau Jawa, disusul Sumatera. Posisi Lampung dinilai ideal karena dapat menjadi pusat pasokan bagi dua wilayah tersebut.

“Kebutuhan etanol ini nanti konsumsi terbesarnya adalah di Pulau Jawa, kemudian terbesar kedua adalah di Pulau Sumatera. Dengan strategi Lampung, setidak-tidaknya kita bisa meng-cover kebutuhan Jawa dan Sumatera,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah telah menetapkan penerapan mandatori bioetanol paling lambat pada 2028.

Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan pasokan etanol dalam negeri agar tidak bergantung pada impor.

“Bioetanol ini dibutuhkan karena pemerintah sudah menetapkan paling lambat 2028 masuk kepada mandatori bioetanol. Ini berbicara ketahanan energi. Maka penting bagi pemerintah memastikan suplai kebutuhan etanol nanti. Karena kalau tidak, kita harus impor,” katanya.

Baca Juga :  Dukung Pertumbuhan Industri Bernilai Tambah, Gubernur Mirza Resmikan Lampung Refinery Cargill

Untuk tahap awal, pemerintah bersama Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dan mitra investor akan membangun pabrik bioetanol berbasis multifeedstock yang dapat memanfaatkan berbagai bahan baku pertanian.

Pabrik tersebut dirancang menggunakan bahan baku generasi pertama maupun generasi kedua, termasuk pengembangan tanaman sorgum sebagai sumber bahan baku baru.

Todotua mengungkapkan, target awal produksi bioetanol dari Lampung mencapai sekitar 240.000 hingga 250.000 kiloliter per tahun atau sekitar 10 persen kebutuhan nasional.

“Target besarnya kita bisa memenuhi minimal 10 persen daripada kebutuhan S10 nanti. Itu sekitar 240.000 sampai 250.000 kiloliter etanol per tahun,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan empat titik produksi dengan kapasitas masing-masing 60.000 kiloliter per tahun.

“Empat plan. Satu plan kapasitasnya 60.000 kiloliter per tahun,” kata dia.

Dalam tahap pertama, pemerintah menyiapkan lahan sekitar 20 hektare untuk pembangunan kawasan pabrik bioetanol.

Lokasi pabrik direncanakan berada di Desa Kota Agung Tegineneng Pesawaran, sementara kawasan penanaman sorgum akan memanfaatkan lahan register di sekitar Bandara Radin Inten II dan lahan milik PTPN Natar Lampung Selatan.

“Dua-duanya. Kalau di sini nanti plant atau pabrik etanolnya. Sedangkan lahan di belakang bandara itu akan dimanfaatkan untuk penanaman sorgum dalam kerangka ketahanan energi,” ujarnya.

Berdasarkan hasil perhitungan bersama Pertamina, Toyota Group dan REBIT Jepang, kebutuhan lahan sorgum untuk mendukung produksi bioetanol tersebut mencapai sekitar 24.000 hektare.

“Per plant kapasitas 60.000 kiloliter membutuhkan lahan sorgum sekitar 6.000 hektare. Jadi empat plant membutuhkan kurang lebih 24.000 hektare,” jelas Todotua.

Baca Juga :  Lampung Kerahkan 1.229 Petugas Awasi Hewan Kurban Iduladha 2026

Ia menambahkan, bibit sorgum yang akan digunakan merupakan hasil riset yang telah dikembangkan bersama mitra Jepang dan akan segera didatangkan ke Lampung dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan.

Pemerintah juga akan melakukan penanaman percontohan seluas sekitar 10 hektare sebelum pengembangan dalam skala besar dilakukan.

Menurut Todotua, kesiapan proyek saat ini sudah memasuki tahap konstruksi.

Pertamina disebut telah mengamankan teknologi yang akan digunakan dan melakukan pemesanan sejumlah peralatan utama.

“Teman-teman dari Pertamina secara teknologinya sudah didapatkan, sudah proof of concept, dan juga sudah melakukan order terhadap equipment pembangunan plant,” katanya.

Pembangunan fisik ditargetkan dimulai pada Agustus atau September 2026 dengan waktu konstruksi sekitar 18 bulan.

Dengan demikian, fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2028 atau sebelum kebijakan mandatori E10 diterapkan secara nasional.

Selain mendukung ketahanan energi, proyek bioetanol tersebut juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Lampung.

Asisten ll perekonomian dan pembangunan anak Provinsi Lampung Mulyadi Irsan mengatakan proyek ini akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.

“Multiplier effect-nya adalah serapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Ia juga memastikan pengembangan bioetanol tidak akan mengganggu kebutuhan bahan baku pertanian yang sudah ada karena pasokan tambahan akan diperkuat melalui pengembangan sorgum.

“Kita tidak mengganggu ekosistem yang ada. Makanya nanti juga menggunakan sorgum,” ujarnya.

Dengan proyek tersebut, Lampung diharapkan menjadi pusat pengembangan bioetanol nasional sekaligus daerah penopang utama program ketahanan energi berbasis energi terbarukan di Indonesia. (*)

Berita Terkait

Solusi di Tengah Resah B50: Saatnya Menggagas Kebun Sawit Energi
Aroma Penggusuran dan Sengketa Lahan di Talang Padang: Saat Pedagang Lawan Satpol PP
Atlet Pakour Junior Asal Metro Sabet Medali Emas di Indonesia Open Parkour 2026
Matangkan Persiapan Porwanas 2027, Putri Nilam Suri Djausal Siap Nahkodai Tim E-Sport PWI Lampung Gandeng ESI
PWI Lampung Mulai Seleksi Atlet Karaoke untuk Porwanas 2027
HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah
Massa Aliansi TRIGA Akan Kepung Kementerian PUPR dan INA, Desak Pembatalan Kenaikan Tarif Tol Bakter
PBTI Series 2026 Digelar di Lampung, 1.605 Atlet dari 12 Provinsi Ambil Bagian
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:43 WIB

Solusi di Tengah Resah B50: Saatnya Menggagas Kebun Sawit Energi

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:35 WIB

Aroma Penggusuran dan Sengketa Lahan di Talang Padang: Saat Pedagang Lawan Satpol PP

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:33 WIB

Atlet Pakour Junior Asal Metro Sabet Medali Emas di Indonesia Open Parkour 2026

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:03 WIB

Matangkan Persiapan Porwanas 2027, Putri Nilam Suri Djausal Siap Nahkodai Tim E-Sport PWI Lampung Gandeng ESI

Senin, 13 Juli 2026 - 20:37 WIB

PWI Lampung Mulai Seleksi Atlet Karaoke untuk Porwanas 2027

Berita Terbaru

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com