“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”
Kompastuntas.com— Teluk Betung, perang selalu menghadirkan dua wajah: kehancuran yang kasat mata dan kerusakan jangka panjang yang sering luput dari perhatian. Dalam konflik yang kian memanas antara Iran dan Israel, dunia menyaksikan ledakan, strategi militer, dan tarik-menarik geopolitik. Namun, di balik semua itu, ada satu sektor yang diam-diam mengalami guncangan paling dalam: pendidikan.
Pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi generasi masa depan, justru berubah menjadi ruang ketidakpastian. Sekolah-sekolah ditutup, ujian ditunda, dan proses belajar terganggu. Di Israel, misalnya, lebih dari 80% mahasiswa mengaku kesulitan fokus belajar akibat tekanan psikologis perang (Jerusalem Post). Sementara itu, di Iran, aktivitas akademik terganggu dan kampus diliputi rasa takut akibat serangan militer (Times Higher Education). Ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga menghancurkan konsentrasi, stabilitas emosional, dan masa depan intelektual generasi muda.
Lebih jauh, pendidikan dalam situasi perang tidak lagi netral. Ia kerap berubah menjadi alat ideologisasi. Pemerintah Iran, misalnya, memasukkan narasi perang ke dalam kurikulum sekolah, membingkai konflik sebagai kemenangan dan kebanggaan nasional (Iran International). Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga sarana pembentukan persepsi politik dan identitas nasional. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah siswa dididik untuk berpikir kritis, atau justru diarahkan untuk menerima narasi tunggal?
Di sisi lain, perang juga memperlihatkan ketimpangan akses pendidikan. Ketika sekolah formal lumpuh, hanya mereka yang memiliki akses teknologi yang dapat melanjutkan pembelajaran daring. Bahkan di negara maju sekalipun, sistem pendidikan tidak sepenuhnya siap menghadapi gangguan berkepanjangan. Penutupan sekolah di Israel selama konflik sebelumnya menunjukkan bahwa sistem pendidikan bisa runtuh secara tiba-tiba tanpa kesiapan yang memadai (Institute Demokrasi Israel).
Dampak jangka panjangnya jauh lebih mengkhawatirkan. Studi tentang perang masa lalu menunjukkan bahwa konflik bersenjata dapat menurunkan tingkat pendidikan suatu generasi secara signifikan (ScienceDirect) . Artinya, anak-anak yang hari ini kehilangan akses pendidikan berpotensi menjadi generasi yang tertinggal di masa depan—baik secara ekonomi maupun sosial.
Namun, di tengah semua kegelapan ini, pendidikan juga menyimpan harapan. Justru dalam situasi perang, pendidikan memiliki peran strategis sebagai alat perdamaian. Ia dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai toleransi, dialog, dan kemanusiaan. Pertanyaannya adalah: apakah negara-negara yang berkonflik memilih menggunakan pendidikan sebagai jembatan perdamaian, atau justru sebagai alat memperpanjang konflik?
Dari sudut pandang global, termasuk bagi Indonesia, konflik Iran–Israel menjadi pelajaran penting bahwa pendidikan harus dirancang tahan krisis. Sistem pendidikan masa depan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada stabilitas politik. Ia harus fleksibel, adaptif, dan mampu bertahan dalam kondisi darurat.
Pada akhirnya, perang mungkin akan berakhir—seperti semua perang dalam sejarah. Namun, dampak terhadap pendidikan bisa bertahan jauh lebih lama. Generasi yang tumbuh di tengah konflik tidak hanya kehilangan waktu belajar, tetapi juga kehilangan rasa aman, kepercayaan, dan harapan.
Dan di situlah letak tragedi terbesar perang: bukan hanya pada yang hancur hari ini, tetapi pada masa depan yang perlahan ikut runtuh.
M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIES Alifa Pringsewu









