Festival Foto Akhir Tahun IJP Lampung: Ketika Gambar Menjadi Bukti Kerja

Avatar photo

- Penulis

Senin, 29 Desember 2025 - 22:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Festival Foto Akhir Tahun IJP Lampung: Ketika Gambar Menjadi Bukti Kerja

Kompastuntas.com, Bandar Lampung — Pendingin ruangan di Sula Abung, Kantor Gubernur Lampung, belum sepenuhnya menghalau lembap pagi. Namun kilatan kamera lebih dulu memecah suasana. Festival Foto Akhir Tahun Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung resmi dimulai.

Bukan sekadar pameran visual, festival ini menjadi ruang refleksi: sejauh mana kerja pemerintah benar-benar sampai ke mata publik.

Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menyebut foto sebagai jendela. Melalui gambar, publik bisa melihat apa yang dikerjakan pemerintah tanpa harus menunggu laporan berlembar-lembar atau pidato seremonial.

“Masyarakat berhak tahu apa yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Lampung,” kata Abung dalam sambutannya, Senin pagi, 29 Desember 2025.

Ia menyayangkan masih adanya organisasi perangkat daerah (OPD) yang minim publikasi. Di tengah era digital, sebagian akun resmi OPD bahkan terakhir aktif pada 2024, padahal tahun hampir berganti.

“Padahal semua sudah dalam genggaman. Sayang jika kinerja tidak terdokumentasi,” ujarnya.

Festival foto ini, menurut Abung, bukan semata lomba. Ia lebih menyerupai pengingat bahkan teguran halus bahwa kerja yang tak dipublikasikan berisiko tak pernah diketahui publik.

Baca Juga :  WLC Lampung Berbagi Sembako Dibulan Penuh Berkah

Teguran yang Disampaikan dengan Senyum

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, membuka acara dengan nada ringan namun pesan yang jelas.

“Atas nama pemerintah provinsi, saya mengapresiasi. Tapi jujur, saya gemas juga dengan OPD yang tidak aktif,” ujarnya, disambut senyum hadirin.

Instruksi gubernur, kata Jihan, sudah terang: OPD harus aktif di media sosial. Pola konsumsi informasi publik telah berubah. Papan pengumuman tak lagi cukup; layar ponsel menjadi rujukan utama.

“Banyak kerja, tapi tidak terpublikasi. Akhirnya tidak sampai ke masyarakat,” katanya.

Menurut Jihan, publikasi bukan soal pencitraan, melainkan bukti kerja. Foto dan video menjadi pintu masuk utama perhatian publik tentu dengan etika.

“Redaksi tanpa foto itu hampa. Tapi foto harus berbicara dengan benar. Festival ini langkah konkret IJP,” ujarnya.

Dari Seremoni ke Denyut Kehidupan

Perwakilan dewan juri, Simon Abdurrahman, mencatat perubahan menarik dalam karya peserta. Foto-foto tak lagi terpaku pada seremoni.

“Sudut pandang mulai bergeser. Muncul human interest, ketepatan momen, dan sinergi visual,” katanya.

Ketika foto mampu menangkap denyut kehidupan, lanjut Simon, pesan sampai tanpa perlu banyak kata.

Baca Juga :  Pesawat Tempur Super Tucano dan F-16 Mendarat Mulus di Tol Trans Sumatera

Budaya Kerja Baru

Sekretaris Daerah Lampung, Marindo Kurniawan, melihat festival ini sebagai bagian dari perubahan budaya birokrasi.

“OPD dituntut berinovasi dan aktif menampilkan kegiatannya, terutama di media sosial,” kata Marindo.

Publikasi, menurutnya, bukan tambahan pekerjaan, melainkan bagian dari tanggung jawab pelayanan publik.

Karya yang Hidup Menjadi Pemenang

Menjelang penutupan, dewan juri mengumumkan pemenang. Penilaian tak semata soal teknis, melainkan pada kemampuan foto “hidup” dan bercerita.
• Juara I: Dinas Peternakan
• Juara II: RSUD
• Juara III: Dinas Lingkungan Hidup
• Favorit: Dispora

Empat dewan juri lintas profesi menilai karya-karya tersebut:
Syahroni Yusuf (PWI Lampung), Oyos Saroso (AMSI Lampung), Ardiansyah (PFI Lampung), dan Simon Abdurrahman (akademisi).

Acara ditutup tanpa gemuruh tepuk tangan. Yang tertinggal justru pertanyaan: berapa banyak kerja pemerintah yang lenyap karena tak pernah didokumentasikan?

Abung Mamasa menutup dengan harapan sederhana.

“Bukan untuk lomba, tapi untuk masyarakat. Foto adalah jejak. Dan jejak itulah yang membuat publik percaya bahwa kerja pemerintah benar-benar terjadi bukan hanya terdengar, tapi terlihat.”

Berita Terkait

Keluarga Pengurus PWI Lampung Mengaku Diancam Tetangga, Terpaksa Mengungsi Dini Hari
Truk Muatan Paving Block Terperosok di Raden Intan, Lalu Lintas Bandar Lampung Lumpuh
Ketua Kwarda Lampung Buka KPDK 2026, Resmikan Program “Garis Depan”
PWI Lampung Rampungkan Seleksi Tenis Meja, Bidik Tujuh Emas Porwanas
Resepsi Putri Aprozi Alam Dihadiri Banyak Pejabat
Aroma Penggusuran dan Sengketa Lahan di Talang Padang: Saat Pedagang Lawan Satpol PP
Atlet Pakour Junior Asal Metro Sabet Medali Emas di Indonesia Open Parkour 2026
Matangkan Persiapan Porwanas 2027, Putri Nilam Suri Djausal Siap Nahkodai Tim E-Sport PWI Lampung Gandeng ESI
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Keluarga Pengurus PWI Lampung Mengaku Diancam Tetangga, Terpaksa Mengungsi Dini Hari

Senin, 3 Agustus 2026 - 16:36 WIB

Truk Muatan Paving Block Terperosok di Raden Intan, Lalu Lintas Bandar Lampung Lumpuh

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:49 WIB

Ketua Kwarda Lampung Buka KPDK 2026, Resmikan Program “Garis Depan”

Senin, 27 Juli 2026 - 14:49 WIB

PWI Lampung Rampungkan Seleksi Tenis Meja, Bidik Tujuh Emas Porwanas

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:33 WIB

Resepsi Putri Aprozi Alam Dihadiri Banyak Pejabat

Berita Terbaru

Opini

Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:53 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com