Tarif Tol Naik, Akademisi Unila Soroti Ancaman bagi Mobilitas dan Daya Beli Masyarakat

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tarif Tol Naik, Akademisi Unila Soroti Ancaman bagi Mobilitas dan Daya Beli Masyarakat

Kompastuntas.com, Bandarlampung —Kenaikan tarif ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) menuai sorotan kalangan akademisi. Meski jalan tol dinilai bukan faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, kebijakan kenaikan tarif diyakini berdampak terhadap biaya logistik, mobilitas barang dan orang, hingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, menilai dampak kenaikan tarif mulai terlihat dari menurunnya volume kendaraan yang melintas di jalan tol.

“Secara kasat mata volume kendaraan di jalan tol menurun. Kemungkinan besar karena banyak pengguna kembali memilih jalur non-tol setelah tarif naik. Untuk memastikan angkanya memang perlu penelitian lebih lanjut,” kata Usep, Selasa (7/7).

Menurutnya, kenaikan tarif menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, terutama sektor angkutan logistik yang mengirim hasil pertanian dan perkebunan dari Lampung menuju Pulau Jawa.

Jika sebelumnya biaya tol sekitar Rp200 ribu dan kini meningkat menjadi Rp250 ribu, lanjutnya, pelaku usaha hanya memiliki dua pilihan, yakni memangkas margin keuntungan atau membebankan kenaikan biaya kepada konsumen melalui harga jual.

Baca Juga :  Dilema Amplop Suhardiman dan "Kesadaran" yang Terlambat

“Pada akhirnya masyarakat sebagai konsumen yang akan menanggung kenaikan biaya tersebut. Kondisi ini terjadi ketika daya beli masyarakat juga sedang menghadapi berbagai tekanan,” ujarnya.

Usep menjelaskan, beban pelaku usaha saat ini tidak hanya berasal dari tarif tol. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, hingga antrean BBM subsidi yang menghambat operasional angkutan turut memperbesar biaya distribusi.

Ia menilai perusahaan angkutan kini dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Jalan tol menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat, tetapi dengan biaya lebih tinggi. Sebaliknya, jalur non-tol lebih murah, namun membutuhkan waktu perjalanan lebih lama.

“Pengusaha pasti menghitung efisiensinya. Kalau lewat tol memang lebih cepat, tetapi apakah tambahan biaya itu bisa tertutupi dengan frekuensi perjalanan yang lebih banyak, itu yang menjadi pertimbangan,” katanya.

Usep menambahkan, untuk komoditas yang mudah rusak seperti buah-buahan dan sayuran segar, penggunaan jalan tol masih menjadi pilihan karena kecepatan distribusi sangat menentukan kualitas barang. Namun untuk komoditas yang memiliki daya simpan lebih lama, kecenderungan beralih ke jalur non-tol dinilai akan semakin besar.

Sementara itu, ekonom dan pakar Pengembangan Wilayah serta Ekonomi Regional Universitas Lampung, Dr. Asrian Hendi Caya, berpandangan bahwa keberadaan jalan tol pada dasarnya hanya merupakan salah satu instrumen infrastruktur sehingga tidak secara langsung menentukan kondisi perekonomian daerah.

Baca Juga :  Ganjar Jationo Birokrat Mumpuni yang Sempat “Disingkirkan”, Tapi Kita Tetap Kritis Awas Beliau!

Namun demikian, ia menilai kenaikan tarif yang terus terjadi membuat biaya penggunaan jalan tol semakin mahal dan mendorong masyarakat maupun pelaku usaha kembali menggunakan jalur arteri.

“Ketika tarif terus naik, banyak pengguna, terutama angkutan barang dan angkutan umum, memilih kembali ke jalan non-tol karena pertimbangan biaya. Akibatnya, fungsi jalan tol untuk mempercepat mobilitas orang dan barang menjadi tidak maksimal,” ujarnya.

Asrian menegaskan pembangunan infrastruktur semestinya lebih berorientasi pada manfaat ekonomi bagi masyarakat dibandingkan semata-mata mengejar keuntungan finansial.

Menurutnya, tarif jalan tol memiliki sifat elastis. Kenaikan tarif, meskipun relatif kecil, dapat memicu penurunan penggunaan jalan tol secara signifikan karena masyarakat akan mencari alternatif yang lebih murah.

“Kalau tarif semakin tinggi, pengguna akan menghitung ulang biaya perjalanan. Akhirnya banyak yang memilih jalan non-tol meski waktu tempuh lebih lama. Kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi agar tujuan pembangunan infrastruktur tetap tercapai,” pungkasnya. (LW)

Berita Terkait

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama
Sekda Bandar Lampung Sebut Perubahan APBD Fokus Penataan Anggaran, Hibah Disebut Tak Bertambah
Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung
OJK-Karang Taruna Lampung Bersinergi Perkuat Ekonomi Desa
Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru
Ketika IJP Lampung Mengkritik Dana Hibah untuk Kejati
APPSI Lampung Utara Gelar Musda, Perkuat Kolaborasi Pedagang Pasar Menuju Indonesia Maju dan Bermartabat
Sekolah Tanpa Batas: Memberi Kesempatan Kedua bagi Anak Putus Sekolah Melalui PJJ
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:32 WIB

Sekda Bandar Lampung Sebut Perubahan APBD Fokus Penataan Anggaran, Hibah Disebut Tak Bertambah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Tobat Ekologis Indonesia Diminta Dimulai dari Lampung

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:50 WIB

OJK-Karang Taruna Lampung Bersinergi Perkuat Ekonomi Desa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Berita Terbaru

Opini

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Selasa, 25 Agu 2026 - 17:29 WIB

Daerah

Tim Alfa TNI Diterjunkan Padamkan Karhutla di Way Kambas

Senin, 24 Agu 2026 - 23:59 WIB

Pers

Tim Biliar PWI Lampung, Bidik 5 Emas Porwanas

Senin, 24 Agu 2026 - 23:57 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi kompastuntas.com