Sokongan Para Tokoh untuk Dr. Budiono Menuju Unila 1
Kompastuntas.com— Raja Basa, genderang pergantian pimpinan Universitas Lampung (Unila) untuk periode 2027–2031 belum resmi ditabuh, namun tensi ekspektasi di lingkar akademik dan alumni mulai menghangat. Sejumlah figur mendesakkan agenda penyegaran kelembagaan, mengapung bersama nama Dr. Budiono akademisi yang dinilai memiliki modal sosial dan kapasitas untuk merombak tradisi tata kelola di kampus hijau tersebut.
Mantan Bupati Lampung Selatan, Wendy Melfa, menilai rotasi kepemimpinan di Unila bukan sekadar rutinitas administratif empat tahunan, melainkan akselerasi yang mendesak. Menurut dia, kampus membutuhkan dorongan energi baru guna mengejar ketertinggalan di tingkat nasional.
“Kebutuhan organisasi di Unila adalah penyegaran kinerja. Kita berharap Dr. Budiono, dengan semangat jiwa mudanya, mampu mempercepat pertumbuhan investasi material maupun akademik,” tutur Wendy saat dihubungi.
Dorongan juga datang dari panggung alumni dan praktisi hukum. Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung, Nilan Nagis, menyoroti peta representasi kepemimpinan di internal Unila. Ia mencatat posisi rektor belum pernah diisi oleh akademisi yang tumbuh dari Fakultas Hukum.
“Semoga jika nanti terpilih, beliau bisa membawa Unila jauh lebih baik dan memastikan seluruh fungsi sivitas akademika berjalan sebagaimana mestinya,” kata Nilan.
Di ranah internal, Dr. Dedi Hermawan seorang akademisi Unila menilai efektivitas kepemimpinan mendatang akan sangat bergantung pada kemampuan sang rektor dalam menggalang kekuatan kolaboratif. Tantangan terbesar Unila saat ini, kata Dedi, adalah menjalin sinergi antara konsolidasi internal dan ekspansi jejaring eksternal.
“Institusi ini butuh figur yang mampu memadukan seluruh potensi sivitas akademika untuk mendongkrak daya saing Unila, baik di level nasional maupun internasional,” ujar Dedi.
Namun, harapan paling kritis meluncur dari barisan mahasiswa. Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandar Lampung, Tegar Mulia, mematok target terukur bagi kepemimpinan baru. Ia mendesak rektor terpilih kelak mampu membawa Unila menembus jajaran 15 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Tegar juga menggarisbawahi pola relasi pimpinan kampus dengan mahasiswa yang sering kali eksklusif. “Kami berharap pimpinan baru tidak hanya merangkul kelompok tertentu. Seluruh elemen mahasiswa harus diberi ruang komunikasi yang setara,” tegasnya.
Sikap senada diutarakan Ferdinand Fahrul Adha, Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Unila. Ferdinand menyoroti gaya komunikasi birokrasi kampus yang dinilainya terlalu kaku dan instruktif. Bagi mahasiswa, kebijakan yang disampaikan melandai lewat lembaran edaran resmi kerap memutus dialektika.
“Rektor baru harus berani membuka diri terhadap kritik dan hadir langsung mendengarkan keluhan mahasiswa di lapangan. Kampus butuh perubahan nyata yang memihak pada substansi akademik, bukan sekadar formalitas birokrasi,” ujar Ferdinand.
Rangkaian aspirasi ini mengisyaratkan beban berat yang menanti nahkoda Unila periode 2027–2031. Siapa pun yang kelak terpilih tak hanya dituntut menjaga stabilitas kampus, melainkan harus berani mendobrak benteng birokrasi demi relevansi akademik dan kualitas lulusan di pasar global.









